Pedoman Diet à la St. Ignatius Loyola

PEDOMAN UNTUK MENGATUR DIRI DALAM HAL MAKAN MENURUT ST.IGNASIUS LOYOLA
Ignatius Loyola pada masa awal pertobatannya memiliki semangat mati raga yang tinggi. Ia berkali-kali jatuh sakit karena terlalu mengekang diri dalam hal makan-minum. Percayakah Anda, bahwa perihal makan dan minum pun ditulisnya dengan amat mendetail. Percayakah Anda bahwa ia adalah orang yang sangat rohani namun juga mendetail dalam perkara perut?


Beberapa nasihat ini diambil dari pelbagai surat St Ignatius. Salah satu surat yang paling jelas tentang diet ditujukan kepada Romo Andrianus Adreaenssens SJ (Roma, 12 Mei 1556). Ia adalah rektor kolese di Louvain. Ia kerapkali berkonsultasi dengan Ignasius untuk menanyakan berbagai pertanyaan. Ketika Ignasius merekomendasikan mengurangi makan (diet) harian kepada semua, ia secara jelas memberi pengecualian terhadap mereka yang mempunyai kesehatan yang buruk. Seperti juga dalam banyak kasus yang lain, setelah Ignasius memberikan pedoman umum, ia akan menyerahkan kembali kepada si penerima surat agar memutuskan perkara rincinya melalui diskresi.

Pedoman dasar:
Berkaitan dengan makanan, kita semua berlatih hidup ugahari, hemat, dan sebisa mungkin memberikan teladan yang baik kepada sesama. Namun jangan sampai kita berpikir untuk mengurangi apa yang telah disarankan dokter bagi penyembuhan atau menjaga kesehatan, walaupun kita sadar harus tetap menjaga kemiskinan. Prinsip ini adalah prinsip yang umum.

  1. Pantang nasi tidaklah begitu perlu, karena nasi bukan makanan yang biasanya begitu merangsang selera tak teratur atau menjadi godaan kuat seperti makanan-makanan lainnya.
  2. Dalam hal minuman, sepertinya lebih wajar diadakan pantang daripada dalam hal makan nasi. Maka dari itu haruslah dilihat betul-betul: yang bermanfaat supaya diambil dan yang merugikan supaya dijauhkan.
  3. Dalam hal makanan-makanan lainnya, pantang hendaknya dilaksanakan secermat-cermatnya dan seutuh-utuhnya, karena dalam hal ini selera lebih cepat menjadi tak teratur dan godaannya lebih kuat. Untuk menghindarkan jangan sampai menjadi tak teratur dalam hal makanan dapatlah dilaksanakan pantang dengan dua cara: Pertama, membiasakan diri mengambil makanan yang kurang enak; Kedua, mengambil sedikit saja, kalau makanannya enak.
  4. Asalkan menjaga jangan sampai jatuh sakit makin banyak mengurangi yang normal, makin cepat orang mencapai ukuran tengah yang harus ditepati dalam hal makan dan minum. Alasannya ada dua: Pertama, Dengan usaha menyediakan diri semacam itu, kerap kali dapatlah ia lebih tajam merasakan pengertian batin, hiburan, dan inspirasi ilahi, untuk menemukan ukuran tengah yang cocok. Kedua, jika orang melihat bahwa oleh pantang sekeras itu, tenaga badan atau kesanggupannya untuk melakukkan doa berkurang, maka mudahlah ia menentukan mana yang lebih berguna untuk memelihara tubuhnya.
  5. Selama makan orang dapat menimbang-nimbang perkara-perkara lain yang baik (hidup & sengsara Kristus, kisah para kudus, dll). Karena dengan terfokusnya perhatian pada hal-hal tersebut, rasa enak dan kepuasan inderawi atas makanan kurang terasa.
  6. Waspada jangan sampai seluruh minat terpusat pada apa yang dimakan, waktu makan jangan sampai membiarkan diri dikuasai selera, tetapi hendaknya tetap menguasai diri baik dalam cara makan, maupun dalam banyak sedikitnya makan.
  7. Jika kesehatan memungkinkan dan kalau minuman-minuman berikut dianggap wajar, kita bisa membiasakan minum air, bir, atau cider (fermentasi sari buah apel). Kita tidak memilih anggur impor, sebab harganya lebih mahal dan hanya membawa sedikit manfaat.

Manusia-rohani, jika melihat makanan dan minuman yang berbeda dalam meja yang sama, tidak akan pernah menganggapnya aneh atau merasa bersalah, karena yang disajikan di meja memang dibutuhankan bagi mereka yang sehat ataupun yang sakit. Namun, agar orang-orang yang lemah atau sakit tidak dianggap sebagai batu sandungan, makanan-makanan yang dibutuhkannya dapat diletakkan di tempat yang berbeda. Kita harus ingat kata-kata Paulus berkaitan dengan larangan menjadikan yang lemah sebagai batu sandungan.

What St. Ignatius Ate?

Catatan: What St. Ignatius Ate? artikel sejenis ini dalam bahasa Inggris, silakan disimak disini atau disini.