Mengenal Diego Laínez SJ

Mengenal Diego Laínez SJ

Selain nama besar seperti Ignatius Loyola dan Fransiskus Xaverius, ada seorang Yesuit perdana yang punya andil besar dalam sejarah Serikat dan Gereja. Tulisan ini bermaksud menjelaskan secara singkat riwayat hidup sang Pimpinan Umum SJ pengganti Ignatius Loyola dan teolog penting Konsili Trento.

Patung Diego Laínez di tempat kelahirannya
Patung Diego Laínez di tempat kelahirannya

Diego Laínez (James Laynez, Jacques Laínez, Jacobus Lainez) lahir di Almazán, Provinsi Soria, Castilia, Spanyol pada tahun 1512 dari pasangan Juan Laínez dan Isabel Gómez de León. Pasangan ini dikaruniai tujuh anak, empat putri dan tiga putra. Laínez memiliki garis keturunan Yahudi dari pihak ayah. Pada zaman itu, orang Kristen keturunan Yahudi, conversos, dianggap berbeda dengan kaum kristiani lama. Laínez dan Serikat Yesus menyimpan rapat asal-usul keyahudian Laínez sebab darah Yahudi dianggap memalukan dan dapat merugikan. Asal usul keyahudian Laínez baru sedikit dibuka Ribadineira dan menjadi lebih eksplisit pada awal abad XX.

Setelah menyelesaikan pendidikan di Soria dan Sigüenza, Laínez belajar filsafat dan teologi di Alcalá (1528) hingga memperoleh gelar MA (26 Oktober 1532). Pada akhir 1532, Laínez melanjutkan studi di Universitas Paris. Ia berjumpa dengan Ignasius Loyola di kolese St. Barbara. Cerita tentang keunikan hidup Ignasius sudah tersebar luas di kampus Alcala. Kini, di Paris, Laínez berjumpa sendiri dengan Ignasius dan ingin mengikuti cara hidupnya. Setelah menjalani Latihan Rohani, ia bersama keenam sahabatnya mengucapkan kaul di Kapel St. Denis, di bukit Montmartre pada 15 Agustus 1534. Kelompok ini di kemudian hari mendirikan Ordo Serikat Yesus.

Kawanan sahabat ini bersama Laínez memilih menerima tahbisan imamat dengan gelar ad titulum voluntariae paupertatis dan ad titulum sufficientis litteraturae dari Uskup Vincenzo Nigusanti dari Arbe di sebuah kapel di rumahnya pada 24 Juni 1537 dan menghabiskan sepanjang hidupnya di Italia sebagai pengkotbah dan pengajar. Keunggulan intelektualnya dikenal sejak awal oleh Ignasius Loyola. Ia diangkat sebagai Provinsial Italia (1552). Sesudah Ignasius, Laínez meninggal menjadi vikaris Jenderal (1556) dan Jenderal SJ (1558).

Dalam bidang akademik, Laínez adalah seorang yang tidak kenal puas akan pengetahuan. Ia mahasiswa yang sangat serius dan metodologis. Ia mencatat intisari dari apa yang ia dengar dari dosennya di bukunya. Ia menggemari studi Kitab Suci dan Bapa Gereja. Selain Salmeron dan Polanco, tidak ada seorang pun yang mengerti tulisan di buku Laínez yang penuh dengan singkatan. Reputasi intelektual Laínez sangat diakui oleh para koleganya. Kepada Laínez dan Faber, Paulus III menawarkan kedudukan sebagai pengajar di sekolah teologi yang sudah ditutup Clemens VII sesudah jatuhnya kota Roma oleh tentara Karel V dan baru dibuka kembali oleh Paulus III tiga tahun yang lalu. Laínez mengajar skolastisisme sementara Yesuit lain, Petrus Faber, mengajar teologi positif. Teologi positif membahas Kitab Suci dan mencakup ajaran Bapa Gereja Barat dan Timur pada abad-abad awal Kristianitas seperti St. Hieronimus, Augustinius, Ambrosius, Gregorius Agung, Basilius, Gregorius dari Nissa, Gregorius dari Nazianze, dan Yohanes Krisostomus. Teolog skolastik di Abad Pertengahan mencakup St. Thomas Aquinas, Bonaventura, Magister Petrus Lombardus dan disusul para ahli teologi yang kemudian digelari “Pujangga Gereja” (Doctor Ecclesiae).

Para Paus, sejak Paulus III dan khususnya Paulus IV, sangat berkenan kepada teolog Yesuit ini. Bahkan, ia diberi sebuah kamar khusus di wisma kepausan agar sewaktu-waktu mudah menerima bantuannya di Roma. Mereka berdialog secara pribadi mengenai masalah-masalah seputar Gereja. Masalah simoni menjadi keprihatinan mereka berdua. Karena kedekatan ini, banyak orang menduga bahwa Paus akan mengangkat Laínez menjadi kardinal. Maka, pada 12 Desember 1555, Ignasius mengirim pesan kepada semua Yesuit untuk berdoa agar Laínez tidak diangkat menjadi kardinal. Laínez pun juga menulis surat pada 19 Desember bahwa Serikat lebih baik melayani Paus dan Gereja sesuai dengan kaul mereka.

Nama Laínez tercatat dalam sejarah Konsili Trento. Paulus III meminta beberapa Yesuit hadir dalam konsili sebagai teolog kepausan. Ignasius menunjuk tiga nama, yakni Faber, Laínez, dan Salmeron. Yesuit lain, Claude le Jay hadir di Konsili sebagai teolog Kardinal Otto Truchseß von Waldburg, Uskup Augsburg. Peran Laínez ialah sebagai teolog kepausan (periode I dan II) dan sebagai bapa Konsili (periode III). Ia bertugas menjadi pembicara kunci dalam sidang-sidang Konsili. Sepeninggal Ignasius (1556), Laínez kemudian terpilih menjadi jenderal Serikat Yesus pada 1558 melalui Kongregasi Jenderal I (1558). Dari dua puluh pemilih, Laínez memperoleh 13 suara; Nadal 4 suara; Borgias, Lanoy, dan Broët masing-masing memperoleh 1 suara. Ia wafat pada 19 Januari 1565 dalam usia 53 tahun. Perayaan meriah diadakan di Roma pada saat 500 tahun kelahiran Laínez (1512-2012), dengan mengambil tema “Diego Laínez: un humanista en Trento.”