Sentire Cum Ecclesia: Sejarah dan Maknanya

Sentire Cum Ecclesia: Sejarah dan Maknanya

Sahabat, kita kerapkali mendengar kata Sentire cum Ecclesia. Kebanyakan orang mengartikannya sebagai kesepahaman dengan Gereja. Kata-kata ini kerap diidentikan dengan Yesuit yang gigih membela Takhta Suci. Bahkan, oleh sementara pihak Yesuit dicap sebagai “papalists [papistas]” atau orang-orangnya Paus.

Ada ungkapan yang cukup populer, “Gereja tanpa Serikat Yesus tidak apa-apa. Serikat Yesus tanpa Gereja, bukan apa-apa”. Guna mencermati lebih dalam teks ini, akan dipersembahkan karangan [agak panjang] mengenai sejarah dan makna frasa ini. Selamat membaca.

DSC00229
teks “sentire cum Ecclesia” dalam buku LR bahasa Latin

 

Latar Belakang Teks

Situasi Gereja Katolik pada abad XVI ditandai dengan korupsi dan kemerosotan moral. Gereja condong kepada semangat keduniawian sehingga muncul krisis kepercayaan dan perpecahan. Sementara, gerakan reformasi menyebar luas ke pelbagai belahan Eropa. Ignasius memang lahir dan dibesarkan di lingkungan yang amat kental dengan kekatolikan khas orang Bask, Spanyol. Namun, dalam sejarah hidupnya, tidak jarang ia berurusan berat dengan otoritas Gereja. Ia pernah ditolak di Yerusalem, dilarang mengenakan jubah, dipenjara, dilarang mengajar, dituduh alumbrados, dan bersitegang dengan Kardinal Gian Pietro Caraffa (kemudian menjadi Paus Paulus IV). Ia tidak membenci perlakuan Gereja kepadanya. Ia pun justru membentuk kelompok sahabat pembela Gereja yang disahkan oleh Paus Paulus III (1540) yang bertujuan “melayani Tuhan dan Gereja mempelai-Nya, di bawah Sri Paus di Roma.”

Selain itu, Ignasius mengimbau orang semakin mencintai Gereja Katolik Roma secara mendalam. Pedoman tersebut ditempatkan dalam kerangka Latihan Rohani 30 hari. Dari gaya penulisan dan isinya, Pedoman Kesepahaman dengan Gereja bukanlah ajakan untuk berdoa sebagaimana ditemukan dalam Minggu I, II, III, IV. Teks itu pun bukan katekese tentang Gereja, sebab Ignasius tidak pernah menulis satupun traktat teologi. Lantas, apakah yang dimaksud Pedoman Kesepahaman dengan Gereja, apa makna bagi kita?

 

  1. Asal muasal Pedoman Kesepahaman dengan Gereja

Untuk membaca teks ini, perlu dilihat konteks tempat tinggal Ignasius. Ia lahir dan bertumbuh di Spanyol (1491-1527), belajar di Paris (1528-1534), dan berkarya di Roma (1538-1556). Orang-orang yang tidak mau sepaham dengan Gereja atau tetap berada di dalamnya di zaman itu dapat dibagi menjadi tiga golongan. Pertama, orang-orang yang mempraktikkan mistisisme namun menyangkal ajaran dogmatik dan memandang rendah teologi skolastik. Saat itu, ada sedemikian banyak alumbrados di Spanyol. Kedua, para kaum heretik terbuka, seperti Luther, Melanchthon, dan kaum Lutherizantes di Universitas Paris. Golongan ini bersikukuh bahwa merekalah yang merestorasi Injil secara murni. Ketiga, mereka yang bukan golongan ini dikategorikan sebagai orang Katolik yang terlalu kritis atau tidak puas akan Gereja. Orang-orang ini masih Katolik kendati suka mengkritik Gereja secara terbuka, dengan satir maupun pernyataan yang membingungkan. Erasmus adalah salah satu contohnya. Ia ingin mereformasi skandal-skandal Gereja namun dengan mempergunakan fiksi yang penuh dengan penghinaan atas paus, uskup, imam, rahib, biarawati, serta doktrin-doktrin. Meskipun dicap sebagai musuh besar skolastisisme, faktanya ia tetap beragama Katolik. Ia diperkarakan ke meja parlemen oleh Sorbonne pada 1526 atas tuduhan penghinaan serius akan Gereja. Ketika Ignasius tinggal di Paris (1528-1534), karya-karya Erasmus masih menjadi kontroversi hebat.

Gerald M. Fagin, dosen teologi di Loyola University dan mantan provinsial New Orleans, memakai pendekatan Autobiografi. Ia menghubungkan teks Pedoman Kesepahaman dengan kisah kegagalan Ignasius tinggal di Yerusalem. Provinsial Fransiskan menolak permohonan Ignasius untuk tinggal di Tanah Suci. Ignasius menaatinya dengan segera dan pergi meninggalkan tempat itu pada hari berikutnya. Suara otoritas gerejawi mengesampingkan penegasan pribadi Ignasius. Dalam Autobiografi [46] dikatakan:

Dengan hormat ia mengemukakan bahwa juga kalau pater provinsial tidak setuju, ia tidak akan meninggalkan niatnya karena takut akan sesuatu, sebab ini bukan soal dosa. Akan tetapi pater provinsial menjawab bahwa beliau punya kuasa dari Takhta Suci untuk menyuruh orang pergi dari situ atau membiarkannya tinggal, menurut pendapatnya sendiri. Ia juga diberi kuasa untuk mengenakan ekskomunikasi kepada orang yang tidak mau menaatinya. Dalam kasus ini beliau berpendapat bahwa ia tidak dapat tinggal di situ, dst.

Pada paparannya, Fagin menambahkan cikal bakal inspirasi kecintaan Ignasius akan Gereja. Pada masa mudanya, Ignasius bermimpi dan mengidamkan petualangan dan romantisme sebagaimana tertuang dalam novel Amadis de Gaula. Novel mengisahkan pengabdian ksatria yang giat dan setia kepada raja. Nilai-nilai yang membentuk hidup Ignasius banyak berakar pada novel ini. Nilai feudal tampak dalam relasi antara raja dan bawahan, persahabatan, kesetiaan, keberanian, kemurahan hati, kehendak melayani, dan kerelaan menderita. Ignasius masih membawa nilai-nilai abad pertengahan ke dunia barunya sebagai rohaniwan. Ini memotivasinya dalam fase sesudah pertobatan sehingga memilih mengabdikan diri kepada Kristus di bawah Sri Paus di Roma. Bak ksatria setia dalam pengabdian kepada raja dan budak setia melayani tuannya, demikianlah Ignasius ingin setia melayani Kristus di dalam Gereja-Nya.

Latihan Rohani ditulis sebagai catatan perjalanan rohani Ignasius di Manresa sejak 1521. Sebagian besar teks sudah ditulis pada saat Ignasius meninggalkan Manresa. Namun, Ignasius belum menuliskan Pedoman Kesepahaman hingga masa kuliahnya di Paris, yakni tiga belas atau empat belas tahun pasca Manresa. Teks Kesepahaman dengan Gereja ditulis pada masa yang berbeda. Kemungkinan besar, aturan 1 hingga 12 ditulis Ignasius ketika tinggal di Paris pada 1528-1534 dan aturan 14 sampai 18 ditulis di Roma sebelum 1541. Patokan ini lahir bukan hanya dari pelbagai kecurigaan atas Ignasius dan kelompoknya sebagai bagian dari alumbrados, melainkan memiliki nilai jauh lebih luhur dan positif dalam kerangka referensi eklesial dari suatu proses diskresi dalam pengalaman personal LR. Di tengah suasana zaman itu, tulisan Ignasius bagaikan polusi karena ia menunjukkan sikap yang amat berbeda. Ia menyikapi Gereja dengan tidak melancarkan kritik-kritik di depan khalayak melainkan langkah yang lebih positif, yakni merencanakan aturan sebagai pedoman rohani individu. Ia tidak ingin orang kehilangan daya kritik yang membangun yang dimotivasi oleh cinta. Ia ingin mengajak orang yang mengolah diri selama sebulan kembali berkecimpung dalam kehidupan sehari-hari di tengah situasi genting Gereja saat itu.

Ignasius ingin menyediakan anjuran praktis yang dapat ditarik sebagai pedoman pribadi guna membantu orang menghidupi relasi dengan Kristus melalui kepercayaan dan praktik hidup menggereja. Maka, rasa cinta mendalam akan Gereja haruslah menjadi satu dengan tindakan. Inilah corak teologi Ignasius yang hidup, teologi peziarahan, bukan teologi yang berhenti di diktat-diktat. Ignasius menyebut Gereja secara afektif sebagai “mempelai sejati Kristus Tuhan kita” dan “bunda Gereja kita yang kudus”. Dengan kata Gereja hierarkis [353] dimaksudkan identifikasinya dengan gereja yang tampak secara institusional yang berpusat di Roma, yang tampak dalam paroki-paroki, dan juga dalam pribadi uskup, imam, religius, dan para awam anggotanya.

Ignasius menempatkan pedoman ini di bagian-bagian akhir LR. Pedoman ini hanya disarankan kepada retretan yang dirasa memerlukannya. Dan memang harus diingat, LR bukanlah buku bagi retretan melainkan pemberi retret. Dengan mengacu kepada Direktori Latihan Rohani masa lalu (Directorium Polanci, no 112), pedoman ini dimaksudkan bagi retretan yang sesampainya tiga puluh hari merasa tergugah akan kasih Kristus dan kerajaan-Nya dan mendengar panggilan untuk mewartakannya, bahkan di kalangan tak beriman atau yang lemah iman Katoliknya.

 

 

  1. Relasi antara Pedoman Kesepahaman dengan Gereja dengan Praktik Latihan Rohani

Kerap kali orang berhenti pada definisi LR sebagaimana tertera dalam LR 1 ialah “… mempersiapkan jiwa dan menyediakan hati untuk melepaskan diri dari segala rasa lekat tak teratur”. Padahal, ada frasa yang menyertainya, “… dan selepasnya dari itu mencari dan menemukan kehendak Allah dalam hidup nyata guna keselamatan jiwa kita.” LR tidak bisa disebut utuh tanpa melihat kesinambungan antara proses retret dengan hidup berikutnya. Sejak nomor awal hingga menjelang akhir, Ignasius lebih banyak menyebut tentang perkembangan jiwa individu. Namun, perkembangan jiwa individu tidak mendominasi gagasan Ignasius. Mengejar keselamatan dan kesempurnaan tidak bersifat individualistik dan abstrak. Ia percaya bahwa untuk merasul, menjadi pelayan Kristus yang baik, individu harus membutuhkan orang lain, referensi objektif, dan komunitas orang-orang serupa. Kerasulan Kristiani itu secara fundamental dan konstan berhubungan dengan Gereja.

Letak Pedoman Kesepahaman dengan Gereja di bagian akhir LR bukanlah suatu kebetulan. Ignasius mengendaki agar setelah menyelesaikan waktu yang ditentukan, pembimbing juga mengarahkan retretan menaati apa yang ditulisnya. Namun, pertama-tama pembimbing harus memperhatikan disposisi retretan. Jangan sampai orang justru tidak mengambil buah apa pun karena pembimbing gegabah memberikan Pedoman ini. Arah Pedoman ini sejalan dengan gagasan Minggu IV, yakni mempersiapkan orang terjun di kehidupan sehari-hari dengan sikap iman dan batin yang terbarukan. Namun, Pedoman Kesepahaman dengan Gereja secara spesifik membatasi ranah aplikasinya pada Gereja.

 

  1. Tentang Judul Pedoman Kesepahaman dengan Gereja (352)

Judul “Pedoman Kesepahaman dengan Gereja” tidak berasal dari Ignasius. Akan tetapi, judul ringkas ini ‘disucikan’ selama empat abad dan kemudian diterima secara luas untuk menjelaskan maksud Ignasius sendiri.

Para ahli membandingkan teks-teks yang muncul dari masa ke masa. Dokumen awal versio prima (1541) berjudul “pedoman kesepahaman di dalam Gereja” dan teks Polanco berjudul “pedoman kesepahaman dengan Gereja.” Diperkirakan ada perbedaan terpendam antara kedua formula ini. Yves Congar mengambil kesimpulan bahwa ada dua posisi berbeda yang ingin mencerminkan maksud Ignasius, sebab, keduanya sama-sama diterima pada saat yang sama. Akan tetapi, teks pertama, yang termuat dalam autograf Ignasius lebih kaya dan dalam maknanya. Teks kedua lebih ‘dingin’ dan lebih bercorak yuridis.

Di berbagai nomor LR, Sentire merupakan kata yang kaya akan makna. Ignasius memakai kata benda sentido, dari kata kerja sentir (memiliki tanggapan sepenuh hati). Dalam terjemahan Inggris, Ganss tidak mau memakai satu kata untuk mengekspresikan kata sentido, alih-alih ia memakai tiga kata kerja thinking, judging, and feeling. Mengutip George Ganss, David Fleming menunjukkan bahwa Sentir berkonotasi baik rasional maupun afektif, sejenis kesepahaman yang menyangkut diri manusia sepenuhnya. Sentire melibatkan pengetahuan namun lebih besar daripada pengetahuan intelek. Sentire mengungkapkan pengetahuan yang nyata, yang meresap kuat, menunjukkan kecintaan terhadap objeknya. Mengacu pada gagasan ini, Coathalem memparafrasekan judulnya sebagai: “Pedoman untuk mengambil tindakan sesuai dengan gerak hati sebagai putra sejati dan anggota Gereja pejuang…” Sementara, dalam versio prima-nya, Ignasius memberi catatan “… Gereja pejuang, yaitu (Gereja) Roma.” Kata ‘Roma’ sangat tegas merujuk kepada Gereja Katolik yang dipimpin oleh Bapa Suci dan para penggantinya. Namun, kata ini nyaris tidak pernah muncul lagi dalam terbitan-terbitan berikutnya.

 

  1. Bagian-bagian Pedoman Kesepahaman

Para komentator berusaha keras menemukan struktur Pedoman Kesepahaman, namun tidak ditemukan satu persetujuan. Penulis akan memakai klasifikasi Pedoman Kesepahaman dengan Gereja menurut Pedro Leturia, SJ sebagai berikut (catatan: tubuh teks tidak perlu dicantumkan di sini):

  • Ignasius menyatakan asas dasarnya pada pedoman I (lih. Buku LR)
  • Kemudian, ia mengembangkan pedoman dasar tersebut ke dalam tiga kelompok.
  • Kelompok 1 (pedoman I-IX) memberikan anjuran untuk mengembangkan sikap devosi dan jalan hidup sebagai umat Katolik yang baik.
  • Kelompok 2 (pedoman X-XII) membangun pandangan batin retretan dengan menghormati yurisdiksi, pengajaran, dan kesucian di dalam Gereja.
  • Kelompok 3 (pedoman XIII-XVIII) mengandung masalah doktrin yang kompleks pada zaman Ignasius dan bahkan masa kini. Ignasius menguraikan secara hati-hati pokok persoalan yang dipermasalahkan atau dipertanyakan pada abad ke-16.

 

Penulis tidak akan mengomentari satu per satu nomor di atas, tetap memberi penekanan pada beberapa pokok penting saja. Ignasius memulai dengan “asas dan dasar” Pedoman Kesepahaman dengan Gereja, yang berbunyi: Dengan meninggalkan semua pendapat sendiri, kita harus berusaha, agar hati kita tetap terbuka dan sedia untuk taat dalam segala hal kepada Mempelai Kristus Tuhan kita yang benar, Ibu Gereja yang suci dan hierarkis. Konotasi kalimat ini ialah tentang seluruh konsep ketaatan. Persisnya, ketaataan yang menyertakan doa reflektif pada perintah dan wujud nyata Gereja. Berdasarkan asas ini, Ignasius menganjurkan praktik devosi yang waktu itu dijalani umat Katolik dengan setia namun dipertanyakan dan dikritik, yakni pengakuan dosa, menerima komuni berkala, ibadat harian, selibat dan kaul biara, pembaktian kepada orang kudus, silih dosa, dan ornamen Gereja. Khusus pada Pedoman XI, Ignasius membimbing retretan untuk memuji semua perintah Gereja dan bahkan mencari alasan untuk mempertahankannya. Pedoman ini bisa dikatakan sebagai kesimpulan kelompok 1 dan transisi yang tepat ke kelompok 2. Kata ‘mencari alasan’ berimplikasi banyak hal, seperti pada formasi yang lama dan kokoh dalam bidang teologi dan misi berdialog dengan golongan Protestan.

Kelompok 2 dimulai dengan Pedoman X mengenai kesepahaman pada para pembesar. Ignasius menekankan kecondongan untuk membenarkan perintah atasan dan cara bertindak mereka meskipun melihat ada yang salah dalam diri mereka. Mengatakan keburukan itu tidak dilarang, namun hendaknya kepada orang yang dapat membantu memperbaikinya. Inilah cara bertindak Ignasius yang lazim dipakai dan dianjurkannya di mana-mana. Pedoman XII memberikan peringatan untuk tidak secara gampang menyanto-nyantokan orang yang masih hidup. Ia barangkali menimba inspirasinya dari orang yang dianggap memiliki keutamaan dan kesalehan hidup pada zamannya namun akhirnya jatuh ke dalam ajaran sesat, misalnya Juan de Taxeda, Valdes, Bernardino Ochino, dan Agostino Mainardi.

Dalam Kelompok 3, Ignasius menganjurkan para retretannya, yakni pencinta Gereja, untuk memeluk doktrin Gereja mengajarkannya secara saksama. Asas utama termuat dalam Pedoman XIII yang tidak lain adalah parafrase Pedoman I. Substansi keduanya sama tetapi penekanannya berbeda. Ignasius menunjukkan peran Roh Kudus dan Tuhan yang sama dan kontinu sejak zaman Musa (bdk. eklesiologi kawanan Israel dalam LG 2) dan kini hadir dalam Gereja Kudus. Tentang pengajaran doktrin Gereja, Ignasius memberikan anjuran atas sensitivitas debat teologi zamannya: (i) janganlah terlalu banyak berbicara tentang predestinasi sehingga melalaikan pekerjaan yang menolong keselamatan dan kesempurnaan rohani; (ii) janganlah terlalu menekankan iman sehingga malas dalam pekerjaan; (iii) janganlah terlalu mengedepankan rahmat sehingga mengabaikan kemerdekaan manusia; (iv) memuji rasa takut kepada Allah.

 

  1. Teologi Ignasius

Berkenaan dengan tema mengenai gereja, menariklah mengupas eklesiologi Ignasius. Dia memandang bahwa Gereja sebagai kerajaan Kristus yang harus disebarluaskan, sebagai tubuh di dunia yang dipimpin oleh wakil-Nya. Dari Dialah segala perintah diturunkan secara hierarkis. Mencari dan mewujudkan kehendak Kristus, khususnya yang ditunjukkan secara resmi oleh Gereja, adalah salah satu dambaan hidup Ignasius.

Ignasius melihat Gereja sebagai mempelai Kristus dan Ibunda. Konsep Gereja sebagai Mempelai Kristus dan Bunda adalah salah satu pokok gagasan yang paling ia tekankan dari delapan belas pedoman ini. Ia tidak melihat Gereja dalam arti Gereja yang mulia setelah Parousia, bukan Gereja yang abstrak, bukan ideal Gereja menurut idaman para teolog, akan tetapi Gereja pejuang (the church militant, la iglesia militante) yang konkret, yakni dengan segala kekurangan manusiawi yang ditemukan dalam para paus, uskup, dan anggotanya. Dan, perlu diingat, Ignasius sangat tahu dan mampu menemukan aneka jenis cacat Gereja.

Kardinal Avery Dulles SJ (1918-2008), memberikan penjelasan menarik perihal ini. Pertama-tama ia berangkat dari pemahaman bahwa Ignatius Loyola sama-sama mengakui kedekatan jiwa pribadi dengan Tuhan dan menekankan mediasi gereja (Pedoman Kesepahaman). Ignasius berulang kali berbicara tentang gereja sebagai Bunda kaum beriman dan Mempelai Kristus (LR 353). “Dalam Kristus, Tuhan kita, Sang Pengantin, dan Gereja Mempelai-Nya,” tandasnya, “hanya ada satu Roh yang memerintah dan memimpin kita” (LR 365). Ignatius berbicara pula tentang melayani Kristus di gereja pejuang dan pada dua kesempatan menyebutnya sebagai “gereja hirarkis” (LR 170, 353). Mengacu perbandingan beberapa versi LR, Ignasius (atau editor/redaksi LR) menambahkan bahwa gereja itu ialah “gereja hirarkis Roma”. LR 170 juga menunjukkan penegasan berarti bahwa orang yang dipanggil dalam Roh Kudus tidak boleh memilih sesuatu yang berlawanan dengan Gereja hierarkis. Ciri mistik Gereja ini yang diangkat kembali dalam bidang teologi oleh Jesuit Prancis Henri de Lubac, serta oleh teman dan muridnya, Hans Urs von Balthasar.

De Lubac, seperti Rahner, sangat dipengaruhi oleh pandangan [Jesuit Belgia Joseph] Maréchal bahwa jiwa manusia pada dasarnya memiliki keterarahan dinamis untuk mengatasi semua objek terbatas dalam pencarian akan sesuatu yang lebih besar dari segala sesuatu yang mungkin ada (bdk. The Discovery Allah). Kegelisahan jiwa demi mencari Allah mendorong orang untuk maju terus menerus pada-Nya. “Pengenalan Primordial” datang ke dirinya sendiri dalam konsep refleksif, tetapi konsep ini tidak pernah berakhir; konsep selalu tunduk pada kritik dan koreksi (lih. Balthasar, The Theology of Henri de Lubac).

Meskipun percaya akan gerak batin pribadi manusia, de Lubac tidak ingin jatuh ke dalam individualism religius. Mengambil sebutan Ignatian gereja sebagai Mempelai Kristus dan sebagai Bunda semua umat beriman, ia menegaskan bahwa ada “identitas mistik” antara Kristus dan Gereja. Meskipun Gereja memilki dimensi tak kelihatan, namun Gereja pada dasarnya berciri tampak dan hierarkis. Lebih lanjut, de Lubac dalam The Splendor of the Church mengatakan, “Tanpa hierarki, yang merupakan pokok organisasi, pengatur, dan pemandu, kita sama sekali tidak bisa berbicara tentang Gereja.”

 

 

  1. Penerapan Pedoman ini

Ada tiga wilayah penerapan pedoman Kesepahaman dengan Gereja, yakni peribadatan (354-361), otoritas gerejawi (362-364), dan pengajaran (365-370).

  1. Peribadatan (observing worship): iman Kristiani diungkapkan baik secara pribadi maupun dalam komunitas. Keanggotaan sebagai warga Gereja juga mensyaratkan keterlibatan dalam ibadat, liturgi, dan sakramen. Mengikuti konteks zamannya, Ignasius menyebutkan tentang ibadat harian, pengakuan dosa, hidup membiara dan kaul-kaulnya, memuji relikui, indulgensi, ziarah, aflat perang salib, puasa, vigili, hiasan gereja, patung para kudus, dan perintah gereja. Semuanya dipandang sebagai jalan menuju keselamatan dan kesempurnaan.
  2. Otoritas gerejawi (dealing with authorities): Ketika menyebut ‘Gereja’, Ignasius mengacu pada gereja dalam arti nyata, bukan gereja abstrak. Gereja mengandung umat, struktur, bangunan, dan pemimpin. Ia melihat banyak waligereja yang tidak sempurna pada zamannya. Akan tetapi, ketidaksempurnaan tidak mempengaruhi validitas jabatan dan keabsahan wewenang. Ignasius menganjurkan sikap membangun (ad aedificationem) lebih daripada menggerutu atau membicarakan mereka dari belakang. Ignasius kemudian memberi peringatan akan pentingnya teologi apa yang dapat membantu orang menjadi putra-putri sejati Gereja. Ia menganjurkan orang untuk mempelajari ajaran para teolog positif dan teolog skolastik serta mengambangkan keseimbangan dinamisnya.

Ada catatan abad V masehi dari St. Vincentius de Lerins agar umat waspada akan anak-anak muda yang sesat karena diajar oleh guru-guru yang ajarannya ‘cacat’. Ignasius barangkali secara berhati-hati menantisipasi pengaruh Luther, Calvin dan humanis seperti Erasmus. Secara spesifik, ia memiliki pengalaman meredakan kegaduhan akibat ramalan bahwa Onfroy dan Oviedo yang terpengaruh seorang Fransiskan, Juan de Tajeda, bahwa Fransiskus Borgias adalah “Santo Fransiskus Asisi baru” dan bahwa ia akan menjadi “Paus Malaikat” karena terkenal suci.

 

3. Pengajaran (evaluating preaching and teaching): bagian ini paling sering didiskusikan dan di perdebatkan di kalangan para ahli. Bagian ini memuat cakupan perdebatan pada masa Ignasius, di antaranya kodrat manusia dan tuhan, hubungan antara predestinasi dengan usaha manusia, rahmat dan kebebasan, cinta dan rasa takut, dan sebagainya. Ignasius menekankan sikap yang diambil retretan ketika menghadapi masalah ini. Ia tidak meminta retretan membiarkan diri larut dalam arus zaman, namun tetap waspada dan menyikapinya dengan kebijaksanaan dan diskresi. Sikap ini berakar mendalam pada sikap kemuridan (humble docility) pada seluruh ajaran Gereja. Agar tidak terjebak dalam sikap ekstrem, kita harus memperhatikan secara cermat kata-kata di dalamnya. Ganss memberi contoh: Jika Gereja hierarkis menghendaki sesuatu dikatakan hitam namun retretan secara pribadi melihatnya (what I see, que yo veo) sebagai putih, sebagai pencinta Gereja ia secara rendah hati mengakui bahwa kesalahan ada pada pandangannya dan tetap percaya kepada pernyataan Gereja. Namun, ia tidak diminta berpikir bahwa putih itu hitam.

Ignasius mengharapkan agar retretan ambil bagian lebih aktif dalam hidup Katolik, menghidupi “Gereja sehari-harinya”. Ia tahu bahwa orang yang maju lebih baik dalam hidup menggereja membutuhkan pedoman praktis. Kembali kepada gagasan dasar bahwa LR tidak boleh dipaksa-paksakan, pedoman 352-370 bukanlah kewajiban. Pedoman ini tidak dipahami dalam kerangka pikir “kamu memerintah, aku menaati”, melainkan melibatkan afeksi dan diskresi pihak yang terlibat. Bagi Ignasius, ketaatan kepada Gereja hanya akan suci apabila orang yang menaatinya itu orang yang mampu berdiskresi.

 

Epilog

Ignasius menulis dengan bahasa cinta, bukan bahasa apologetik atau bahasa teologi. Ia tidak bermaksud melawan alumbrados maupun heretik atau orang Katolik yang sedang ragu. Setiap manusia akan melihat kekurangan dalam diri ibunya. Namun cinta anak akan tetap mengalir dan selalu berusaha membantu sang ibu ketika ibunya diterpa masalah. Demikian pulalah dengan Gereja. Gereja memiliki banyak kekurangan yang diperbuat oleh manusia-manusia di dalamnya. Karl Rahner (1904-1984) mengatakan, “Gereja adalah wanita tua dengan banyak kerut dan kerenyit, tetapi dia adalah ibuku, dan tak seorang pun boleh memukul ibuku”.

Paus Fransiskus dan Romo Jenderal Adolfo Nicolas SJ
Paus Fransiskus dan Romo Jenderal Adolfo Nicolas SJ