Jangan putus asa dengan Indonesia, berbuatlah sesuatu bagi negaramu.

Jangan putus asa dengan Indonesia, berbuatlah sesuatu bagi negaramu.

Demikianlah kiranya kutipan dari Romo Franz Magnis-Suseno, SJ. Pada tanggal 26 Mei 2016 ini berulang tahun yang ke 80. Berikut ini adalah artikel mengenai Romo Magnis oleh Romo Sani SJ.

Salah satu aktivitas kegemaran Franz Magnis-Suseno, SJ sejak masa muda adalah naik gunung. Aktivitas itu membuat namanya masuk dalam buku MURI (Museum Rekor Indonesia). MURI adalah sebuah lembaga swadaya masyarakat yang didirikan oleh Jaya Suprana untuk menghimpun data dan menganugerahkan penghargaan terhadap prestasi superlatif karsa dan karya bangsa Indonesia.

Dalam buku MURI, Romo Magnis, demikian panggilan akrabnya, tercatat sebagai rohaniwan pertama yang mendaki seluruh gunung di Pulau Jawa dengan ketinggian di atas 3000 meter. Catatan yang dapat disebut rekor itu, ditanggapi Romo Magnis secara ringan dengan berujar, “Lucu itu, haha ….”
Romo Magnis menceritakan salah satu olahraga kegemarannya, yaitu mendaki gunung. Secara lebih luas lagi, redaksi meminta pendapatnya tentang peran olah raga bagi kaum religius.

Tumbuh di Yuniorat

Kegemaran Romo Magnis untuk naik gunung, awalnya tumbuh ketika dia menjalani masa yuniorat. Yuniorat adalah masa sesudah novisiat dan sebelum belajar filsafat. Ketika itu, dia tinggal di wilayah Austria barat, di kaki Pegunungan Alpen. Saat melihat gunung untuk pertama kali, tidak terpikir baginya bahwa gunung yang dipenuhi tumpukan batu sedemikian tinggi itu dapat didaki begitu saja. Ketika mengetahui bahwa orang dapat mendaki sampai puncak gunung, segera muncul ketertarikan dalam diri Frater Magnis waktu itu untuk melakukannya. Ketertarikan itu sangat wajar mengingat sejak berumur sepuluh tahun dia selama tinggal di kolese Yesuit yang berasrama, menyukai olah raga dan senang bersaing dalam olah raga.

Dengan beberapa teman yang berhasil untuk menyelesaikan beberapa aktivitas fisik yang berat dan berkat kondisi fisik yang baik, Romo Magnis mendaki gunung di dekat tempat dia bersama teman-teman menjalani masa yuniorat.

Tentang masa yuniorat dan pendakian gunung, ada sebuah pengalaman mengesankan yang Romo Magnis mengingatnya. Rektor Yuniorat waktu itu adalah seorang Pater Yesuit tua yang mengizinkan para frater untuk mendaki gunung setelah misa pukul satu dini hari. Suatu kali, datang kabar dari Roma tentang penghapusan program yuniorat. Rektor itu kemudian mengumpulkan dan memberikan instruksi kepada para frater.

Pater itu mengatakan bahwa mereka masih memiliki waktu kurang lebih empat bulan dan sebagai Yesuit, mereka diminta untuk menggunakannya dengan sebaik-baiknya. Sebaik-baiknya juga berarti bahwa mereka harus memakainya sesuai dengan kesempatan di tempat. Sejak saat itu, para frater mendapat izin untuk naik gunung setiap hari Kamis.

Berkat kejadian itu, Romo Magnis mengenang Pater Rektornya di yuniorat sebagai seorang yang sangat bijaksana karena memperhatikan situasi lokal yuniorat waktu itu yang lokasinya di antara gunung-gunung.

Setelah tiba di Indonesia, Romo Magnis meneruskan kegemarannya untuk mendaki gunung meskipun hanya beberapa kali selama masa belajar teologi di Yogyakarta. Sebagai dosen, dia kemudian mendapat undangan untuk seminar di pelbagai tempat. Jika di dekat tempat seminar ada gunung, Romo Magnis akan menambah sehari tinggal di tempat itu untuk mendaki, sebagian sendirian. Dia juga memanfaatkan sebagian waktu liburan untuk mendaki gunung. Maka, tidak mengherankan apabila selama puluhan tahun belakangan ini, dia telah mendaki seluruh gunung di Jawa dengan ketinggian di atas 3000 meter. Ada beberapa gunung lain di luar Jawa yang pernah didaki oleh Romo Magnis. Beberapa di antaranya adalah Gunung Kerinci dan Merapi di Sumatra, Gunung Rinjani di Lombok, dan Gunung Egon di Flores.

Dari Keindahan sampai Kerendahan Hati

Ketika ditanya tentang pengalaman yang mengesan saat mendaki gunung, Romo Magnis pertama menyebut keindahan. Baginya, berada di puncak gunung dan memandang ke lerenglereng gunung merupakan pengalaman yang sangat indah. Dari puncak gunung pula, mata dapat memandang jauh sehingga pandangan serasa hampir menyentuh cakrawala. Di beberapa gunung, daerah di sekitar puncak ditumbuhi hamparan bunga edelweis sehingga pemandangan menjadi sangat indah.

Selain keindahan, Romo Magnis menjelaskan bahwa alam yang dialami lewat pendakian gunung, menghantar orang pada suatu titik tertentu, yaitu kerendahan hati. Orang sampai pada titik itu karena telah mengalami kebesaran, bahkan kedahsyatan alam. Kedua pengalaman itu misalnya dirasakannya ketika mendaki Gunung Merapi yang terletak di wilayah Jawa Tengah dan Yogyakarta. Jika meletus, gunung itu dapat menimbulkan akibat yang dahsyat. Maka, setiap kali mendaki Gunung Merapi, muncul kesadaran dalam diri Romo Magnis bahwa dia tidak dapat melebih-lebihkan diri. Kerendahan hati tumbuh pula berkat dinamika kondisi fisik selama pendakian. Romo Magnis memberi contoh tentang perjalanan menuju puncak. Orang bisa jadi merasa lelah atau sudah berat, tetapi puncak masih 500 meter dengan jalan menanjak. Jika sampai puncak, pendaki itu akan menyadari bahwa sebenarnya dia sudah kurang berdaya, tetapi berhasil sampai di puncak karena menyatu dengan gunung. Ketika menikmati perasaan berada di puncak, pendaki dapat menyadari bahwa keberhasilannya menaklukkan gunung tidak terjadi melalui cara-cara agresif, tetapi justru dengan mempelajari gunung dan menyatu dengannya.

Berkat kesadaran yang berisi kerendahan hati itu, pendaki dapat bersyukur kepada Tuhan dan, dalam arti tertentu, kepada gunung. Di puncak gunung, Romo Magnis acap kali menyelenggarakan Ekaristi bersama para frater yang senang mendaki. Di antara pelbagai puncak gunung, Romo Magnis mengatakan bahwa beberapa memberikan kesan khusus. Kesan itu muncul lantaran pada beberapa puncak gunung yang pernah menjadi tempat merayakan Ekaristi, masih terdapat sisa-sisa struktur situs purbakala. Bahkan, di Gunung Argopuro, Jawa Timur, masih berdiri di antara pepohonan suatu struktur bangunan, yaitu dinding setinggi kurang lebih satu meter, selain tempat untuk mengambil air di puncaknya. Struktur itu menjadi tanda bahwa pada masa Hindu, sekitar seribu tahun lalu, puncak gunung sudah menjadi tempat berdoa. Oleh karena itu, Romo Magnis dalam Ekaristi di tempat-tempat seperti itu selalu merasakan berada dalam sejarah. Dia juga meminta para frater untuk menyadari diri mereka sebagai bagian dari suatu sejarah panjang umat manusia yang berdoa, khususnya di puncak gunung.

Mendukung dan Menyeimbangkan

Dalam pengalaman Romo Magnis, pendakian gunung perlu persiapan sungguh-sungguh. Pendaki memerlukan perlengkapan dalam kondisi baik. Yang juga penting adalah kondisi fisik pendaki yang mencukupi untuk berjalan jauh. Romo Magnis biasa melakukan persiapan fisik dengan lari-lari. Enam kilometer adalah jarak jogging yang biasa ditempuhnya setiap hari.

Olahraga bermanfaat bagi semua kaum religius, Romo Magnis menjelaskan bahwa olahraga itu mendukung kehidupan religius meskipun tidak pertama-tama secara spiritual. Pertama, olahraga memberikan kekuatan fisik yang menunjang. Jika tubuh kita sehat, itu adalah sesuatu yang sangat berguna. Tentu kita tahu juga bahwa ada rohaniwan dan rohaniwati dengan kondisi tubuh yang kurang kuat. Justru mereka malah ditantang lebih dan dapat berhasil.

Yang kedua, olahraga itu memerlukan orang sepenuhnya. Misalnya, ketika bermain sepak bola, kita tidak berdoa atau memikirkan relasi dengan orang lain. Yang dipikirkan hanya merebut bola, bermain sebagai tim, dan mencetak gol. Itu berarti bahwa ketika berolahraga kita berpusat pada tubuh kita. Maka, semua pikiran, kesusahan, rasa sakit hati, dan sebagainya sepertinya terlupakan karena tubuh menuntut perhatian. Tentu saja itu terkait dengan intensitas olahraga yang kita lakukan. Contohnya dalam jogging. Jika kecepatan jogging sedang-sedang saja, orang dapat olahraga sambil memikirkan perkara lain. Karena itu, biasanya Romo Magnis melakukan jogging dalam kecepatan di atas moderat sehingga memerlukan banyak tenaga, cukup melelahkan, dan perhatian diarahkan sepenuhnya pada tubuh sendiri, misalnya pada posisi lari. Perasaan kecewa, gagal, risau karena sedang memiliki masalah, atau fokus pada kuliah hilang semua. Kondisi itu secara psikis sangat sehat. Karena itu, banyak ordo dan kongregasi dalam Gereja Katolik yang mementingkan olahraga.

Secara pribadi, Romo Magnis juga tidak pernah setuju bahwa sebelum olahraga di novisiat atau rumah-rumah religius lain, ada waktu hening untuk mendapat peringatan rohani. Selama pertandingan, tidak perlu bahwa religius menunjukkan keutamaan, kecuali yang perlu untuk pertandingan, misalnya kerja sama sebagai tim. Jika demikian, waktu olahraga merupakan kesempatan untuk mengimbangi fokus pada spiritualitas, hal-hal rohani, kesadaran, dan refleksi. Saat olahraga, kita tidak refleksi. Paling-paling kalau kalah, kita akan mencari alasannya dan kalau fisik cepat habis, kita juga akan mencari penyebabnya. Selain itu, olahraga juga menjadi kesempatan menumbuhkan spontanitas. Dalam kehidupan kaum religius, spontanitas menjadi salah satu penanda bahwa hidup rohani dalam kondisi baik.

Biodata:

Nama Tempat & Tanggal Lahir Masuk Serikat Yesus Tahbisan Imam Kaul Akhir Pendidikan Pekerjaan Warga Negara
Maria Franz Anton Valerian Benedictus Ferdinand von Magnis Eckersdorf Silesia Jerman-Nazi (kini Bozków – Nowa Ruda – Polandia) 26 Mei 1936 26 April 1955 31 Juli 1967 15 Agustus 1974 Sekolah Filsafat dan Teologi di Collegium Maximum St Ignatius Yogyakarta (sekarang Kolsani). Doktor filsafat dari Universitas Munchen dengan sebuah disertasi tentang Normative Voraussetzungen im Denken des jungen Marx. Dosen tetap fakultas program pascasarjana STF Driyarkara Jakarta. Ketua Yayasan Pendidikan Driyarkara. Dosen Tamu pada pelbagai perguruan tinggi. Indonesia

Penghargaan:

  • Guru Besar Filsafat Sosial pada Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara di Jakarta
  • Guru Besar Luar Biasa Fakultas Pasca Sarjana Universitas Indonesia
  • Gelar Doktor Teologi Honoris Causa dari Fakultas Teologi Universitas Luzern, Swiss
  • Penghargaan Das grobe Verdienstkreuz des Verdienstordens dari Republik Federasi, Jerman
  • Bintang Jasa Satyalancana Dundyia Sistha dari Menteri Pertahanan dan Keamanan Republik Indonesia pada 1986
  • Bintang Mahaputra Utama dari pemerintah RI pada 2015

Catatan:

  • Reporter Romo R. Sani Wibowo, SJ.
  • Tulisan ini pernah dimuat di Majalah ROHANI Mei 2014.
  • Video tentang Romo Magnis dapat disimak disini.