Romo Henk, SJ: Yesuit di Kapal Barang

Romo Henk, SJ: Yesuit di Kapal Barang

Salah satu Romo Yesuit tertua di Indonesia ialah Romo Henk van Opzeeland. Ia merayakan ulang tahun ke 87 pada hari Sabtu, 28 Mei 2016 ini. Sebagai ucapan syukur atas usia dan karya besarnya, akan dipaparkan kisah hidup beliau sendiri sebagaimana pernah dikisahkan kepada redaktur ROHANI.

Batal Jadi Misionaris di Alaska

Sebenarnya saya dulu tidak bermimpi akan diutus ke Indonesia. Cita-cita saya menjadi misionaris di Alaska. Tetapi pemimpin novisiat menjelaskan bahwa kalau demikian saya harus pindah ke Provinsi Kanada.

Tetapi ia menambah: “Kalau mau, bisa diutus ke Indonesia karena ada misi Provinsi SJ Belanda di sana.” Memang sejak 1859 seluruh wilayah Nusantara menjadi daerah misi Serikat Yesus. Karena bersedia, saya (masih novis dua) pada 19 Desember 1948 bersama tiga teman naik kapal barang menuju Indonesia mengarungi lautan Atlantik selama 40 hari.

Pada tanggal yang sama mulai serangan kedua tentara Belanda. Pada hari berikutnya Romo Sandjaja Pr. dan Fr. Bouwens SJ dibunuh dengan kejam di Muntilan. Kami baru tahu itu pada akhir Januari 1949 ketika kami mendarat di Tanjung Priok.

Beberapa hari kemudian kami dapat meneruskan perjalanan ke Novisiat Giri Sonta untuk melanjutkan novisiat. Di situ kami diterima oleh tiga novis Indonesia (dua keturunan Tionghoa dan satu Indo). Ternyata kompleks novisiat rusak: semua daun pintu dan jendela telah diambil orang, seluruh inventaris termasuk buku-buku perpustakaan lenyap. Kebun menjadi hutan mimosa yang dihuni ular. Selama enam bulan kami kerja bakti untuk membersihkan sampai masuk tahap pendidikan yuniorat, belajar bahasa Jawa dan etnologi bangsa Indonesia.

Daerah Karangjati sering diganggu oleh gerombolan-gerombolan. Pada waktu sore mereka turun dari bukit-bukit sebelah timur untuk merampok dan juga membunuh. Sering kami dikejutkan oleh tembak-menembak antara mereka dan polisi. Seorang tukang kayu yang membantu memasang daun pintu dan jendela baru ditembak mati. Sapi kurus yang baru kami beli ikut lenyap. Pada waktu itu belum ada listrik dan telepon. Para frater belajar dengan memakai teplok.

Romo “Sinyo”

Pada 1951 saya pindah ke Kolese Santo Ignatius (Kolsani) Yogyakarta untuk studi filsafat. Pada waktu itu Kolsani dibagi dua: separo dipinjamkan kepada Seminari Tinggi karena gedungnya masih dipakai oleh dinas Pemerintahan Republik. Sebagian besar frater filosofan adalah frater Belanda, hanya dua orang Jawa. Para dosen masih misionaris Belanda kecuali Pater N. Driyarkara SJ.

Pada waktu itu Rektor Kolsani, Pater A. Djajasepoetra SJ, sekaligus pastor kepala seluruh DIY. Saya bersama teman-teman setiap hari Kamis diutus berdua-dua naik sepeda ke stasi-stasi untuk mencari sisa umat dari zaman sebelum invasi Jepang memakai kartu-kartu keluarga yang masih dapat diselamatkan ketika Jepang masuk. Karena masih amat muda kami sering disebut “romo sinyo.” Setiap malam dan hari Minggu sebuah jeep tua menghantar beberapa frater dan imam untuk mengajar dan merayakan Ekaristi di desa-desa.

Hidup pada waktu itu sangat sederhana. Banyak orang lapar. Banyak juga yang kena penyakit TBC. Saya akhirnya juga kena dan harus beristirahat di rumah sakit selama satu tahun.

Pada Februari 1953 rektor kami, Pater A. Djajasepoetra SJ, diangkat oleh Paus menjadi Vikaris Apostolik Jakarta, menggantikan Mgr. P. Willekens SJ. Dengan demikian Semarang dan Jakarta menjadi dua wilayah misi yang masih dilayani oleh Provinsi Belanda tetapi sudah dipimpin oleh imam Indonesia asli. Mgr. A. Djajasepoetra SJ menerima tugas yang berat. Pada waktu itu terjadi perubahan besar dalam umat dan personalia misi akibat konfrontasi Irian. Ini berpengaruh besar. Semua orang Belanda diusir dan perusahaan-perusahaan mereka dinasionalisasi. Akibatnya, jumlah umat Katolik Jakarta berkurang drastis. Para misionaris Belanda masih boleh tinggal di Indonesia, tetapi bila keluar tidak lagi boleh masuk. Syukur, Provinsi Jerman bersedia mengirim misionaris untuk menggantikan misionaris Belanda yang tidak dapat masuk lagi. Demikian pula Swis dan Amerika. Para frater Belanda yang biasanya studi teologi di Belanda tidak dapat berangkat. Risikonya terlalu besar. Maka diputuskan bahwa mereka studi teologi di Yogyakarta.

Pada 1957 ditahbiskan kelompok lulusan teologi SJ yang pertama: lima misionaris Belanda. Pada tahun yang sama saya mulai belajar teologi. Sementara kami tinggal di gedung seminari tinggi karena Kolsani masih dipakai oleh para filosofan. Pada tahun yang sama mulailah perubahan besar dalam status misi SJ di Indonesia. Wilayah misi Belanda mulai dilepas oleh Provinsi Belanda karena dinilai personalia Indonesia asli sudah banyak sedangkan di Belanda sendiri sangat berkurang. Langkah pertama: misi Belanda menjadi Vice Provinsi Indonesia. Ini berarti bahwa Provinsi Belanda masih membantu secara finansial, tetapi di bidang personalia Indonesia sudah berdikari. Pemimpinnya masih misionaris. Pada 1971 Vice Provinsi ini menjadi Provinsi yang berdikari penuh dengan pemimpin Indonesia asli: Pater A. Soenarja SJ.

Made in Jawa, Indonesia

Saya ditahbiskan imam di Yogya pada 1960. Teman-teman setahbisan masih misionaris semua: Belanda (ada yang lahir di Indonesia), satu Jerman. Keluarga tidak ada yang bisa hadir. Seluruh perayaan sangat sederhana.

Dalam tahun keempat studi teologi saya, pada 3 Januari 1961, terjadi peristiwa yang sungguh mengubah situasi Gereja Katolik di Indonesia. Paus Yohanes XXIII memutuskan mengubah status Gereja Indonesia dari misi menjadi Gereja yang berdikari dengan pembentukan hirarki. Dengan demikian semua vikaris apostolik menjadi uskup atau uskup agung. Dan pada tahun berikutnya ketika pada 11 Oktober 1962 di Roma dimulai Konsili Vatikan II, mereka dapat ikut serta, duduk dan bersuara setingkat dengan semua uskup sedunia.

Sebelumnya, tamat teologi medio 1961, saya pindah ke Giri Sonta untuk tersiat dipimpin oleh mantan Vikaris Apostolik Jakarta Mgr. Willekens SJ. Habis tersiat, saya ditugaskan di Giri Sonta, menjadi pengurus rumah tangga, mengurus pendidikan para bruder SJ muda dan membantu pemimpin novisiat. Pemimpin novisiat masih misionaris tetapi semua novis sudah Indonesia asli. Jelas bahwa generasi muda SJ akhirnya akan meneruskan karya yang tadinya berstatus misi.

Peristiwa Gestok juga amat dirasakan oleh para penghuni Giri Sonta. Dari rapat rahasia BTI diketahui bahwa Giri Sonta akan dibumihanguskan bersama dua perusahaan di sebelah timur. Juga di beberapa tempat disiapkan lubang bagi tokoh-tokoh masyarakat yang akan dibunuh. Untung, kami menerima bantuan dari pemuda Ansor untuk menjaga kompleks Giri Sonta dari luar, sedangkan penghuni Giri Sonta berjaga di dalam dengan aneka peralatan untuk memadamkan api. Puji Tuhan, Giri Sonta selamat. Beberapa tokoh masyarakat yang akan dibunuh diberi tempat persembunyian di Giri Sonta, pura-pura menjadi orang sakit yang tidak boleh diganggu! Akhirnya mereka pun selamat.

Bulan Madu Romo Muda

Pada 1966 saya pindah ke suatu stasi di pinggiran utara Jakarta. Wilayahnya sebagian besar terdiri dari empang dan sebagian dari perumahan beberapa perusahaan. Saya tinggal di daerah bekas empang yang masih sering tergenang air. Wilayah itu menampung banyak orang miskin yang datang dari pulau-pulau lain untuk mencari pekerjaan, antara lain banyak lelaki dari Flores, orang miskin dari Bangka, Sumatera, tetapi juga sejumlah gembong PKI atau Pemuda Rakyat yang belum “diamankan.” Saya masih “orang putih,” lebih-lebih karena saya biasanya keliling kampung memakai jubah dan sepatu boot. Meskipun demikian, saya tidak merasa diri misionaris asing karena saya diterima oleh para warga setempat. Saya mengagumi semangat solidaritas yang mempersatukan mereka yang sebagian besar “senasib.” Stasi itu hanya memiliki satu bangunan semi permanen Sekolah Rakyat. Dinding kayu antara ruang kelas bisa dibuka untuk perayaan Ekaristi. Pada 1968 stasi itu secara resmi menjadi Paroki St. Alfonsus Rodriguez Pademangan.

Saya belajar banyak di bidang pastoral dari beberapa tokoh. Mereka membantu untuk mendata dan menata umat. Gaya pastoral mereka, yang tidak diajarkan di teologi, sering amat jitu, amat kena. Pada waktu itu banyak keluarga belum resmi, belum diberkati, dan banyak anak belum dipermandikan. Segala usaha saya, yang dididik dan lama hidup di Jawa Tengah, untuk membujuk mereka membereskan perkawinannya dan mempermandikan anak gagal. Ternyata pendekatan tokoh-tokoh dengan pendekatan pastoral mereka dapat mengatasi masalah itu. Mereka juga menjadi penunjuk jalan lewat galengan di tengah empang untuk mencapai wilayah baru yang kemudian berkembang menjadi Stasi Sunter (kini paroki St. Lukas Sunter). Saya sering terkesan dan bersyukur atas karya Allah, the invisible Hand, di belakang aneka peristiwa, antara lain pembukaan Sekolah Teknik Menengah bagi banyak penganggur muda di wilayah itu.

Sejak 1969 saya ditemani oleh Bruder F.X. Wirjasudarma SJ yang pandai mengajar agama. Banyak orang dewasa ingin menjadi Katolik. Pada tahun berikutnya terpaksa saya meninggalkannya karena saya harus cuti untuk operasi tumor kelenjar gondok. Setelah sembilan bulan saya dapat kembali ke paroki tercinta itu.

Jakarta Yang Memperkaya

Copy of a3Pada 1972 Paroki St. Alfonsus mendapatkan tambahan imam: Romo H. Witdarmono Pr. yang sangat bersemangat dan dekat dengan umat biasa. Saya sendiri mendadak dipindahkan ke Paroki Katedral karena pastornya meninggal kecelakaan. Berat meninggalkan paroki yang umatnya begitu akrab. Selama empat tahun saya melayani paroki besar ini, sebagian dibantu oleh seorang misionaris SVD. Sementara pastoran lama yang dibangun pada 1850 dibongkar untuk memberi tempat bagi gedung Keuskupan, saya tinggal di gedung sosial di belakang gereja. Pada 1977 saya dipanggil oleh Mgr. Leo Soekoto. Ternyata di kamar kerjanya sudah ada tamu lain: Pater Provinsial A. Soenarja SJ. Mereka menyampaikan bahwa saya diminta untuk bekerja di Sekretariat Keuskupan Agung.

Mulailah satu fase baru kehidupan saya yang memperkaya dan memperluas pandangan saya. Pada awal sebagai sekretaris, kemudian sebagai bendahara selama 13 tahun. Bapak Uskup melibatkan saya dalam gerak perkembangan umat di ibukota yang cepat. Sebagai bendahara saya sering diutus ke luar negeri.

Pada 1970-an dan awal 1980-an mulai perdebatan mengenai siapa yang akan memimpin paroki dan karya gerejani. Banyak yang masih dipegang oleh (mantan) misionaris, tetapi generasi muda Indonesia menuntut supaya kepemimpinan itu diserahkan kepada tenaga Indonesia asli. Ternyata proses ini sering tidak mudah. Saya sendiri telah lama yakin bahwa memang pembangunan umat harus menuju ke “all Indonesia final.” Itulah tujuan misi seperti yang sudah dirumuskan dan diusahakan oleh Mgr. P. Willekens SJ. Bahkan, jika lebih baik bagi Gereja Indonesia, saya bersedia pulang ke tempat asal (meskipun saya bercita-cita melayani umat di Indonesia seumur hidup). Puji Tuhan, masalah ini akhirnya terselesaikan secara baik. Pada saat saya menulis ini tinggal lima misionaris Belanda yang sudah tua.

Apakah Gereja Indonesia sesudah bukan lagi daerah misi masih memiliki hubungan dengan misi? Dokumen Konsili Vatikan II dalam pasal pembuka Ad Gentes menjawab: “Gereja peziarah pada hakikatnya bersifat misioner, karena Gereja peziarah berasal dari perutusan Putera dan perutusan Roh Kudus, sesuai dengan rencana Allah Bapa sendiri.” Jadi Gereja Indonesia pun pada hakikatnya misioner.

Catatan:

  • Romo Henk saat ini bertugas sebagai Ekonom Komunitas Kolsani, Yogyakarta.
  • Tulisan ini pernah dimuat dalam ROHANI September 2014 dan dimuat ulang atas izin redaksi.

a41 7r3

a42

a43