Mengenal “Asas dan Dasar” Latihan Rohani

Mengenal “Asas dan Dasar” Latihan Rohani

Sahabat, ada salah satu teks kunci dalam Latihan Rohani yang cukup populer di pelbagai tempat. Jika kita pernah retret dengan Yesuit, bersekolah di sekolah Yesuit, atau mendengarkan kotbah Yesuit, sudah barang tentu pernah muncul kata “asas dan dasar”. Tulisan singkat ini menguraikan apakah isi dan maknanya bagi hidup kita.

Teks Asas dan Dasar

Manusia diciptakan untuk memuji, menghormati, serta mengabdi Allah Tuhan kita, dan dengan itu menyelamatkan jiwanya. Ciptaan lain di atas permukaan bumi diciptakan bagi manusia, untuk menolongnya dalam mengejar tujuan ia diciptakan.

Karena itu manusia harus mempergunakannya sejauh menolong untuk mencapai tujuan tadi dan harus melepaskan diri dari barang-barang tersebut, sejauh itu merintangi dirinya.

Oleh karena itu, kita perlu mengambil sikap lepas bebas terhadap segala ciptaan tersebut, sejauh pilihan merdeka ada pada kita dan tak ada larangan.

Maka dari itu, dari pihak kita kita tidak memilih kesehatan lebih daripada sakit, kekayaan lebih daripada kemiskinan, kehormatan lebih daripada penghinaan, hidup panjang lebih daripada hidup pendek.

Begitu seterusnya mengenai hal-hal lain yang kita inginkan dan yang kita pilih ialah melulu apa yang lebih membawa ke tujuan kita diciptakan. (St. Ignatius Loyola)

ibo_et_non_redibo_amdg_mural

Pengantar

Setiap manusia ingin bahagia. Kebahagiaan itu bersifat relatif. Setiap orang mengusahakan agar dirinya memiliki ukuran atau standar: kesehatan, kekayaan, pangkat dan kehormatan, umur panjang, dsb. Salahkah? Tentu saja tidak. Hal tersebut malah sangat manusiawi dan merupakan potensi berharga untuk mengembangkan diri dan sesama.
Apakah hidup rohani terpisah dari hidup keseharian? Tidak. Justru keseharian kita mendapatkan maknanya dalam spiritualitas (penghayatan hidup rohani) kita.

Pengertian

Apakah itu “Asas dan Dasar?” Paling mudah teks itu dipakai bagaikan suatu rumus filsafat, umum dan abstrak, yang perlu dijelaskan atau suatu rangkuman yang termasuk isi pokok Latihan Rohani (disingkat LR) dan latar belakang bagi kebenaran-kebenaran lain dalam Latihan Rohani. Menurut Tom Jacobs SJ, Asas dan Dasar adalah pengantar untuk seluruh LR. Darminta SJ menyebutnya sebagai referensi seluruh prinsip praktis LR maupun metode LR serta tahap latihan. Patut diingat, Asas dan Dasar bukan merupakan meditasi atau kontemplasi. (Meditasi adalah merenungkan dengan akal budi pokok demi pokok doa. Kontemplasi lebih mempergunakan imajinasi, fantasi, misalnya berjalan-jalan di taman dengan mewangi dan memandang bunga satu per satu).

LR 23 dikatakan sebagai petunjuk untuk mengangkat pengalaman religius. “…untuk mendasari suatu kehidupan dan hubungan, pernyataan-pernyataan tersebut seharusnya merupakan sulingan dari pengalaman konkret”. LR 23 dikatakan pula sebagai inti dari LR. Yang lain memandang LR 23 sebagai ajaran kehidupan. Hironimus Nadal SJ, tangan kanan Ignatius menyebutnya sebagai sintesis,  garis besar kehidupan. Secara singkat dan padat saya menawarkan pengertian ini: sebagai referensi hidup di hadirat Tuhan dan sikap batin yang mesti diambil di hadapan-Nya.

“Pengalaman akan Allah” ditemukan dalam keseharian, dalam cara pandang terhadap segala ciptaan, benda, kehormatan, kesehatan, kekayaan yang serba manusawi dengan CARA PANDANG yang berbeda, supaya menjadi menjadi pengalaman akan Allah, sehingga desire yang dalam diriku kualami selaras dengan maksud Allah dalam penciptaan dunia ini dan keinginan itu menjadi semangat hidup. LR 23 mengajak orang pada pengalaman akan Allah sekaligus tantangan beriman: bagaimana desire-ku hidup pada titik keseimbangan (at balance) dengan desire Allah?

Isi dan Struktur “Asas Dan Dasar”

Judul: Asas dan Dasar

Ketika menulis, Ignatius pertama kali menggunakan kata Spanyol, ”Principio y Fundamento”, kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Latin, ”Principium et Fundamentum”, dan bahasa Inggris ”Principle and Foundation”.  Terjemahan yang berlaku umum dalam Bahasa Indonesia adalah “Asas dan Dasar”. Asas adalah sesuatu yg menjadi tumpuan berpikir atau berpendapat. Dasar adalah pokok atau pangkal suatu pendapat (ajaran, aturan).

1. Tujuan

Santo Ignatius mengamanatkan pesan rohani: “Manusia diciptakan untuk memuji, menghormati, serta mengabdi Allah, Tuhan kita, dan dengan itu menyelamatkan jiwanya”. Ia mengemukakan, tujuan akhir hidup manusia terdiri dari dua aspek. Pertama, yakni kemuliaan  Tuhan yang merupakan akibat dari pujian, penghormatan dan pengabdian kepada Tuhan. Kedua, keselamatan jiwa yang merupakan kebahagiaan tertinggi.

Dalam asas dan dasar ini, Ignatius tidak membahas karya penciptaan melainkan tujuan penciptaan. Penciptaan ini merupakan pemberian diri Tuhan. Maka, penciptaan seluruhnya tertuju kepada makhluk.    Manusia adalah makhluk yang tergantung pada Allah karena ia ciptaan. Tapi Allah juga imanen, artinya hadir dalam penciptaan itu. Penciptaan merupakan pemberian diri Allah yang senantiasa memanggil manusia untuk berhubungan pribadi. Maka, Tuhan dikenal lewat dinamika hidup manusia. Allah dikenal dalam praksis, namun manusia harus mencariNya. Dengan keterarahan yang jelas dan nyata kepada Allah, yang menjadi dasar dan tujuan hidupnya, manusia diajak menemui Tuhan dalam hubungan yang lebih pribadi.

Pantas kita perhatikan: Kalimat pertama dan kedua berbicara mengenai manusia, kalimat ketiga dari LR 23 mengenai kita. Kalimat pertama membentangkan suatu visi dan suatu peristwa, kalimat kedua menunjuk laku manusia. Manusia ditempatkan dalam “happening” yang disebut ciptaan, yang mengkiblatkan manusia pada Allah dan Tuhan, sementara seluruh kekayaan yang ada dipandang dan ditempatkan “mengingat manusia” dan “supaya membantu dia untuk mengejar tujuan ia diciptakan”: begitu kalimat pertama. Dengan kalimat kedua, visi beralih pada praksis: orang “semestinya mempergunakan mereka, sejauh membantu menata tujuannya” dan “tidak memerhatikan mereka” bila mereka merintangi.

2. Sarana

Ignatius menulis: “Ciptaan lain di atas permukaan bumi diciptakan bagi manusia, untuk menolongnya dalam mengejar tujuan ia diciptakan.”    Semuanya itu diciptakan  Tuhan bagi kebutuhan manusia, untuk mengatur keinginan, kesenangan, pendidikan dan perkembangannya, dan juga untuk membantunya dalam mengejar tujuannya, yakni memuji, menghormati, dan mengabdi Tuhan. Di sini ciptaan tidak diciptakan supaya manusia tergantung padanya tetapi supaya menjadi penolong baginya.

3. Sikap Lepas Bebas

Ignatius lalu melanjutkan, katanya: “Oleh karena itu, kita perlu mengambil sikap lepas bebas…”. Bagi manusia yang mudah jatuh, segala hal mengandung potensi bahaya, termasuk hal-hal yang baik, misalnya kesehatan, kekayaan, kehormatan, dan hidup panjang. Maka, Ignatius mengatakan bahwa barang-barang tersebut digunakan atau ditinggalkan “sejauh itu merintangi dirinya.”

Sikap lepas bebas bukanlah tujuan pada dirinya sendiri, tetapi untuk mencapai sikap yang “seimbang.” Untuk mencapai sikap lepas bebas manusia harus memandang hakikat dan tujuannya diciptakan. Maka, sikap lepas bebas selalu mencakup hubungan antara manusia dengan Tuhan, bukan antara manusia dengan barang-barang.

Dalam Latihan Rohani 179, sikap “lepas bebas” jelas dilawankan dengan “rasa lekat tak teratur”. Yang dimaksud dengan “rasa lekat tak teratur” adalah kecenderungan untuk bergantung pada sesuatu demi kepentingan diri sendiri (sikap-sikap egois).  Kehendak Ilahi baru dapat dicari setelah orang melepaskan diri dari rasa lekat tak teratur. Sikap lepas bebas bukanlah sikap netral, sikap tak tentu, melainkan sikap untuk mencari kehendak Allah secara positif. Jadi, Ignatius mengajak kita untuk tidak memutlakkan kesehatan, kekayaan, kehormatan, dan umur panjang. Dan di sisi lain, Ignatius mengajak kita untuk tidak takut dan ragu mempergunakan sarana-sarana yang membuat Allah semakin dimuliakan

4. Magis

Dalam kalimat terakhir asas dan dasar dinyatakan: “…apa yang kita pilih ialah melulu apa yang lebih membawa ke tujuan kita diciptakan.”   Ini merupakan kriteria Ignatius yang utama untuk memilih berbagai alternatif pilihan yang tersedia. Kriteria seperti itu mendorong pada kemurahan hati, pada “magis.” (Kata magis jika tidak dimengerti dalam konteks LR St. Ignatius berarti : menyatakan sesuatu bersifat magi; berkaitan dengan hal atau perbuatan magi (gaib, sakral, klenik).  Magis  adalah kata dari Bahasa Latin yang menyatakan ‘yang lebih’, the more.)  Orang harus murah hati akan tetapi kemurahan hati itu harus disesuaikan dengan keterbatasan fisik dan spiritual seseorang, situasi dan rahmat yang Tuhan berikan.   Untuk menemukan sarana yang paling baik dibutuhkan diskresi cermat dan kadang-kadang lama. Maka, magis merupakan upaya untuk mencari kehendak Allah. Kalau dihubungkan dengan tiga tingkat kerendahan hati, terlihat bahwa semangat magis itu terungkap dalam tingkat ketiga. Tingkat pertama merupakan prinsip umum untuk mencapai keselamatan kekal, tingkat kedua adalah sikap yang lebih sempurna dari sikap pertama, yakni sikap lepas bebas. Pada tingkat ketiga, yang mau diraih tidak sekedar sikap lepas bebas tetapi Kristus sendiri. Di sinilah terletak semangat magis, melulu hanya mencari Kristus.

Tantangan

Orang akan terkesan bahwa kita sangat fokus dengan pekerjaan kita, produktif dan efisien, penuh vitalitas dan bersemangat. Namun, terlihat sibuk atau menyibukkan diri, kadang dalam realitas yang terdalam seringkali menyembunyikan rasa bingung, tidak percaya diri, dan ketakutan. Dalam situasi yang demikian, terlihat sibuk atau hanyut dalam kesibukan hanyalah sebuah outlet atau pelarian dari sebuah ketakutan dan sikap tidak percaya diri seseorang, atau pelarian dari sebuah unfinished business dalam hidup seseorang. Singkatnya, sibuk kadang menjadi sebuah defense mechanism psikologis.

Menyibukan diri atau memiliki jadwal yang sibuk memang membuat diri kita merasa penting, tetapi apakah yang kita sibukkan itu memang sesuatu yang penting dan esensial dalam hidup kita?

Asas dan Dasar menawarkan suatu prinsip dan ‘etika’ tindakan manusia, yakni:

  1. Manusia agar sadar dan selalu ingat tujuan ia diciptakan (ilahi)
  2. Ia tahu bagaimana mengelola dan memandang ciptaan: dengan lepas bebas dan magis (sarana duniawi)
  3. dengan demikian, ia mampu berelasi dengan sehat dengan dunia dan dengan Allah.

Dalam perspektif ini, semua yang ada merupakan anugerah Tuhan melulu. Manusia dan segala sesuatu tidak memiliki arti jika tidak diarahkan kepada Tuhan. Manusia tidak ditentukan oleh dunia sekitarnya atau oleh keinginan emosionalnya sendiri, tetapi melulu oleh keterarahannya kepada Allah. Itulah yang dimaksud dengan ‘sikap lepas’ bebas dan juga ‘jiwa besar dan hati yang bebas’.

LR 23 memberi ciri yang unik akan Spiritualitas Ignasian.

Spiritualitas Benediktin bermaksud mencintai Tuhan sesempurna mungkin dalam komunitas pertapaan/kontemplatif. Spiritualitas Dominikan mencoba memenangkan hati manusia melalui pewartaan (khotbah) sabda Tuhan. Spiritualitas Fransiskan mengajak untuk berbagi kesaksian atas Kristus yang miskin dan rendah hati. Spiritualitas Ignasian mengajak manusia belajar menemukan Tuhan dalam pengalaman hidup keseharian, melalui pengalaman duka, pergulatan, sukacita, meskipun kita terbenam dalam keduniawian.

Spiritualitas ini mengajak terjun ke dunia, sebagaimana dikatakan Ignatius “We are in the world, but not for the world”.

Lantas, spiritualitas ini mengajak supaya apa? Jawabannya: supaya kita belajar untuk terus berelasi dengan Tuhan dan merasa nyaman dengan-Nya meskipun kita harus menanggung salib dan kebangkitan hidup sehari-hari, juga dalam setiap orang yang kita jumpai, cintai, dan layani.

Catatan:

  • Tulisan ini pernah dipakai dalam bahan pertemuan Magis Jakarta, 2011.
  • Jika tertarik memperdalam tema Asas dan Dasar dalam bahasa Inggris, klik disini