Sejarah Kolsani

Sejarah Kolsani

Kalau ngobrol dengan Yesuit, setidaknya Anda pernah satu kali mendengar kata “Kolsani”. Ya, Kolsani atau Kolese Santo Ignatius merupakan rumah pembinaan tahap teologi bagi para skolastik di Provinsi Indonesia Serikat Jesus. Para frater yang menempuh studi teologi disebut dengan teologan. Bulan Juli ini akan diselenggarakan tahbisan imam SJ dan peringatan Hari Raya / Open House / Ignatius Cup di Kotabaru. Guna mengenal lebih baik mengenai rumah legendaris ini, berikut kami sajikan sejarah Kolsani.

 

Baru sepuluh tahun sesudah Mgr E Luypen menerimakan sakramen penguatan kepada 90 orang Jawa pertama dan Pater van Lith membaptis 170 orang di Sendangsana, dua tamatan Kweekschool Muntilan yang pertama pada 1914 pergi ke Eropa untuk melanjutkan studi menjadi imam. Dua orang itu ialah Petrus Darmasepoetro SJ dan FX Satiman SJ. Selanjutnya, diikuti pemuda lain seperti Alb Soegijapranata SJ dan A Djajasepoetra SJ. Namun, karena di antara mereka ada tiga yang meninggal di usia muda maka diputuskan untuk membuka pendidikan imam di tanah air sendiri.

Di kawasan Sultan Boulevard, sekarang di Jl I Dewa Nyoman Oka 22, Kotabaru, dibukalah novisiat SJ yang pertama. Rektor dan pemimpin Novisiat ialah P Fransiskus Strater SJ dan dibantu P Koch SJ, Br van der Voort SJ, dan Br van Zon SJ. Di rumah sewaan itu, lima novis pribumi dan dua novis Belanda menjadi penghuni perdana.

Sementara itu, dibeli pula sebidang tanah luas di Kotabaru dan dimulainya pembangunan novisiat baru. Batu peringatan yang terdapat di ruang rapat Kolsani menandai peringatan pendirian ini.

AMDG

Me posuit Hoeberechts

Sup Miss SJ

die 18 Febr. 1923

 

pada 16 Juni 1923, novisiat pindah. Pembangunan diteruskan karena novisiat romo-romo muda membutuhkan ruang bagi yuniorat. Di Yuniorat, mereka mempelajari bahasa Latin, Yunani, Jawa, sejarah, dan kemahiran berbicara.

Pertengahan 1925, juga dimulai sebuah seminari kecil kedua, khusus bagi anak-anak lulusan sekolah dasar HIS atau ELS di samping kursus di Muntilan bagi yang sudah memiliki ijazah guru. Gedung seminari ini dibangun di Barat Kolsani dan saat ini berfungsi sebagai kampus pendidikan guru agama Katolik Universitas Sanata Dharma (IPPAK). Gedung ini diberkati Mgr van Velsen SJ pada 1927. Sementara gedung gereja St. Antonius Kotabaru sudah selesai sebelumnya dan diberkati pada 1926.

Pada tahun 1931, para yunior dan novis pindah dari Kolsani ke Kolese St Stanislaus, Girisonta, Ungaran, bersebelahan dengan rumah retret yang sudah dibangun setahun sebelumnya.

Masuknya Jepang ke tanah air berpengaruh besar bagi hidup penguni Kolsani. Pada Maret 1942, tentara Belanda meletakkkan senjata. Para misionaris Belanda diinternir dan mengalami penyiksaan Jepang. Pada 19 Juni 1944, P Strater SJ wafat akibat mengalami kekejaman Jepang. Sampai bulan September 1943, Kolsani masih  bisa bekerja dalam situasi sulit. Mereka diberi waktu tiga hari untuk menyelamatkan isi rumah, namun baru 24 jam pintu rumah ditutup. Rumah disita, segala inventaris termasuk perpustakaan hilang. Para Yesuit belanda dimasukkan ke kamp. Yesuit Jawa berpencar ke mana-mana. Kolsani sempat dijadikan penampungan wanita dan anak-anak Belanda sebelum dipindah ke kamp konsentrasi.

Sampai akhir perang, Kolsani dijadikan kantor Jepang. Kolsani dikembalikan kepada misi pada September 1945. Para suster CB dari Panti Rapih membantu memulihkan kondisi Kolsani dan pemerintah RI membantu mengembalikan sebagian buku yang disita Jepang.

Pada perang Dunia II dan pendudukan Jepang tercatat 27 Yesuit meninggal karena pelbagai sebab. Seminari tinggi masih dapat berjalan secara diam-diam. Imam dan seminaris menanggung percobaan perang dengan gemilang dan berhasil melanjutkan gereja dalam keadaan yang serba sulit.

Pada tahun 1946, kuliah filsafat Kolsani dapat dimulai kembali. Karena keterbatasan tempat pasca perang, gedung Kolsani dibagi untuk pendidikan Yesuit dan imam praja. Baru pada 1952 seminari tinggi kembali ke gedung Code dan seminari menengah kembali ke Mertoyudan, Magelang. Rektor saat itu ialah P A Djajasepoetra SJ. Pada 1 Maret, beliau diangkat sebagai vikaris apostolik Jakarta.

Rama H van Opzeeland SJ yang tinggal di Kolsani 1951-1954 memberi kesaksian “Setiap hari Kamis kami para skolastik diutus berdua-dua ke desa-desa, naik sepeda memakai jubah dan ‘topi prop’. Kami berangkat setelah makan pagi, pulang sore, kadang sampai malam. Tugas utama kami ialah mengunjungi umat dan mencari umat. Kami disangoni setumpuk ‘kartu keluarga Katolik’ dari zaman sebelum zaman Jepang dengan tugas mencari keluarga-keluarga itu: apakah masih ada, masih Katolik, dan informasi-informasi lainnya. Wilayah tugas ini meliputi seluruh DIY dan luar kota, yang pada waktu itu wilayah wilayah tersebut diurus oleh Rektor Kolsani sebagai ‘pastor kepala DIY’. Sering ada yang heran bahwa ‘masih ada romo’, karena sejak zaman Jepang mereka tidak pernah bertemu lagi dengan seorang romo. Kami tidak membawa bekal. Kami makan dan minum apa saja yang disajikan: nasi atau nasi gunung (=jagung) dengan ikan asin. Teh pahit. Ada kalanya kami mendapatkan sajian yang lebih baik.”

Kuliah filsafat masih diberikan dalam bahasa Latin. Materi kuliah para frater meliputi Filsafat, seperti Logika, Kritika, Theodicea, Cosmologia, Antropologia Speculativa, dan Ethica. Ada pula beberapa kursus seperti Psikologi Eksperimental, sejarah Filsafsat Barat dan Filsafat agama-agama serta kebudayaan Asia.

Sengketa Belanda dan Indonesia sekitar Irian Barat menyebabkan kesulitan dalam hal studi teologi para frater di Maastricht. Maka, diputuskan bahwa dalam tahun 1954 akan dimulai kursus teologi di Kolsani dengan 7 frater. Kursus teologi SJ pun dimulai pada tahun 1955. Kuliah teologi terpaksa dibuka di Indonesia sebagai akibat dari keputusan pemerintah yang menyatakan dalam rangka konfrontasi dengan Nederland semua warga Negara Belanda harus meninggalkan Indonesia. Syukur kebanyakan skolastik Belanda mendapatkan izin tinggal tanpa batas waktu di Indonesia (SKK). Para pemegang SKK boleh tetap tinggal di Indonesia, tetapi jika ke luar negeri tidak boleh kembali lagi. Maka pimpinan Provinsi memutuskan untuk membuka Teologi di Yogya: mendadak tanpa persiapan! Karena Kolsani masih dipakai untuk studi Filsafat, para teologan sesudah satu tahun dititipkan untuk sementara
di Seminari Tinggi.  Dosen didatangkan dari Seminari Tinggi pula. Dan ada juga dosen Filsafat yang ‘naik’ menjadi dosen Teologi. Mata kuliah teologi yang diajarkan antara lain Teologi Moral, Teologi Dogma tentang Trinitas, Kristologi, Gereja, Sakramen, Hukum Gereja, Liturgi, Teologi Islam, Budha,
Hindu, dan Kitab Suci.

Karena Yesuit di Indonesia merasa belum mampu mengurus filsafat dan teologi sendiri, maka pada 1959 frater-frater pergi ke Poona, India untuk belajar filsafat. Mulai 1957, ada tahbisan imam SY di Kotabaru. Kolsani juga memperoleh penghuni baru, yakni para imam dan frater SCJ yang akan mengikuti kuliah di seminari tinggi. Selama tiga semester, para frater teologan SJ, ikut kuliah teologi di ruang kelas besar Collegium Theologicum SJ. Setelahnya mereka mengikuti kuliah di Seminari Jalan Code bersama para frater projo Makassar, Denpasar, Bandung, dan Surabaya. Kolsani juga menjadi sangat majemuk dengan kehadiran para dosen dari Belanda, Hungaria, Filipina, dan skolastik dari Indonesia, Belanda, Filipina, Belgia, Swiss, dan Jerman.

Perubahan fungsi dan komposisi Kolsani dialami pada awal 1967. Saat itu diputuskan bahwa untuk menghemat tenaga dosen dan mempererat hubungan dengan seminari tinggi, maka teologan Yesuit Kolsani akan belajar kuliah bersama dengan seminaris. Pendirian Institut Filsafat dan Teologi (IFT- kini Fakultas Teologi Wedabhakti, Kentungan) dan pindahnya seminari tinggi dan bersama dengan asrama frater MSF dan SCJ dari sekitar Kotabaru ke Kentungan, Jl Kaliurang km 7,5 merupakan perubahan terbesar dan mantap hingga kini.

Kolsani memiliki dua ekstrakurikuler utama bagi para frater, yakni kerasulan sosial YSS di Pingit dan kerasulan jurnalistik majalah ROHANI. Para frater dan rekan relawan awam terlibat langsung dalam menangani ‘gelandangan’, atau ‘tunawisma’ yang sejak tahun 1966, bekerja sama dengan “Yayasan
Sosial Soegiyopranoto” (YSS). Saat itu YSS dikoordinir Br. Servas, FIC di Jl. Pandanaran Semarang. Para perintis dari Kolsani adalah Rm. Bernhard Kieser, SJ, dan dua frater Yesuit yang sudah mengundurkan diri, yakni Stan van Wichelen dan Waibel. YSS cabang Yogyakarta yang ditangani para frater Kolsani ini melakukan beberapa kegiatan seperti menyediakan kebutuhan makan yang waktu itu berwujud Bulgur, pelayanan Kesehatan, penyediaan sandang, dan perumahan sangat sederhana yakni di Pingit, Yogyakarta, mengurus transmigrasi, mengusahakan kelompok belajar anak-anak, kursus menjahit bagi ibu-ibu, membina anak-anak melukis (hasil karya mereka dipamerkan di Belanda), atau melatih pengamen Malioboro. Majalah ROHANI bernaung di bawah Yayasan Basis yang terletak di Jl Pringgokusuman 35, sebelah Barat Malioboro. Yayasan Basis menaungi karya majalah BASIS, UTUSAN, dan ROHANI serta rumah seni dan budaya OMAH PETROEK di Kaliurang. Majalah tersebut merupakan karya penerbitan Serikat Yesus Indonesia yang dimulai sejak 1950-an.Dengan dibimbing romo senior, para frater yang bertugas di ROHANI menjadi redaksi majalah yang dikhususkan bagi imam, biarawan, dan biarawati ini.

foto Kotabaru tahun 1936
foto Kotabaru tahun 1936
foto Kolsani tahun 1936
foto Kolsani tahun 1936
foto Kolsani tahun 1936
foto Kolsani tahun 1936

situs web Kolsani ialah: http://www.kolsani.or.id

disarikan dari: Iman dan Pengabdian, J Weitjens, SJ dkk. Yogyakarta, 1973 dan Dari Rahim Kolsani, H van Opzeeland, dkk, Yogyakarta 2014 oleh Surya Awangga SJ.