Obituari Romo Ardi Handojoseno SJ

Obituari Romo Ardi Handojoseno SJ
Romo Ardi pada saat memberikan Pidato Dies Natalis USD, Desember 2016

Jesuit Indonesia mengucapkan rasa kehilangan yang besar atas wafatnya rekan terkasih, Rm Ardi Handojoseno SJ. Ia wafat di makam taman Maria Ratu Damai Girisonta pada saat jogging Sabtu, 8 April 2017 pada pukul 17.30 karena serangan jantung.

Romo Ardi, demikian ia disapa, ialah salah seorang Yesuit yang masuk Novisiat SJ dari jalur Prompang pada tahun 1998. Ia merupakan teman senovisiat Rm Bei (RR. Civita), Rm Bambang Irawan (Dosen FTW USD), dan Rm Vincent (Tiongkok).

Ia merupakan putra bapak CB Suparlan Sosrohandoyo (alm.) dan ibu Eleonora Maria Rahayu Miranti. Pria kelahiran Tegal 24 Mei 1969 ini bersekolah di Tegal, Kudus, dan akhirnya masuk SMA Kolese Loyola Semarang pada 1985-1988. Selepas SMA, Ardi muda mendaftar di ITS Surabaya pada bidang teknik elektro. Sempat menjadi guru fisika SMA Stanislaus Surabaya dan dosen elektro dan teknologi pada Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya. Di Surabaya, ia dikenal sebagai bukan hanya penyanyi, tetapi pelatih koor dan musisi – pengarang lagu. Salah satu lagunya ialah “Mars Widya Mandala”. Tulisan asli lagu ini dari tangannya masih tersimpan gedung Widya Mandala.

Ia menyelesaikan pendidikan novisiat di Girisonta dan mengucapkan kaul pertama pada 3 Juli 2000. Romo Priyo Poedjiono ialah magisternya sekaligus yang menemukannya diam di depan patung di makam Girisonta hari Sabtu lalu dalam keadaan tidak menghembuskan nafas.

Sebagai frater muda, Frater Ardi ditugaskan belajar di STF Driyarkara. Salah satu kerasulannya ialah menjadi guru agama Katolik di SMA N 8 Jakarta, Bukti Duri. Rekan-rekan guru mengenangnya sebagai frater yang berbakat musik, bahkan sampai membuat band guru.

Sesudah menjalani studi, frater Ardi bekerja di Campus Ministry Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta pada 2003-2005. Frater Ardi kemudian belajar teologi di Melbourne Australia pada 2005-2008. Ia ditahbiskan di Gereja St Antonius Kotabaru, Yogyakarta pada 23 Juli 2008 oleh Mgr I. Suharyo, uskup KAS. Rekan seangkatan tahbisannya ialah Rm Alis, Rm John Nug, Rm Dwi Kris, Rm Parwoto, Rm John Agus, dan Rm Bei.

Sesudah menerima tahbisan, Rm Ardi menjadi pastor rekan di Paroki St. Anna Duren Sawit, Jakarta. Sebagai gembala muda, ia dikenal sangat dekat dengan kaum muda. Para putra altar (Papisa) dan anak-anak Magis Indonesia di Jakarta binaanya banyak merasa kehilangan. Tak jarang muridnya dibawa bersepeda sampai ke Puncak, Bogor.

Sejak 2010, Rm Ardi belajar kembali di bidang Teknik Elektro untuk level Master dan Doktoral di Sydney Australia hinggaa memproleh gelar PhD. Topik penelitiannya adalah Deteksi Freezing of Gait pada pasien Parkinson’s disease dengan menggunakan gelombang sinyal otak (EEG) dan sistem cerdas. Penelitian dilakukan sebagai bagian dari kerjasama tim dari Centre for Health Technologies-University of Technology Sydney dan Parkinson’s disease Research Clinic- Brain and Mind Research Institute – University of Sydney; kerjasama antara para insinyur dan dokter medis.

Selepas Doktoral, Rm Ardi kembali ke Indonesia untuk mengajar di teknik elektro USD Yogyakarta. Pada Desember 2016, ia membawakan Pidato Dies dengan judul” Aku terkoneksi, maka aku ada” dengan gemilang di Auditorum Driyarkara USD.

Di Yogyakarta, ia masih mengembangkan talenta tarik suaranya dan menyanyi dua lagu di Malam Pujian Gereja Kotabaru, dengan menyanyikan lagu karya Damian Alma. Di Australia, pada Maret 2015, ia pernah mengadakan konser rohani A Lenten Concert by Indonesian Catholic Family Choir Melbourne. Di channel Youtube-nya, Romo Ardi Handojoseno, pemilik suara Bariton, menulis:

7th March 2015 at Our Lady of Mount Carmel Church, Melbourne.
Presenting The Seven Last Words of Christ by Theodore Dubois (1837-1924).
“Second Word
Verily, thou today shalt be with me in Paradise.
Amen, so I tell thee.
Lord, my God, remember me, when Thou comest into Thy kingdom.”

Sejak 24 Januari 2017, agar menjadi Yesuit yang segar bugar dalam hidup ia menjalani Tersiat atau pembinaan lanjut bagi Yesuit di Girisonta dalam pendampingan a.l. Rm Putranto, Rm Wiryono, dan magisternya dulu, Rm Priyo. Ia menjalani tersiat bersama Rm Nico, Rm Bambang Ir, Rm Andalas, Rm Seno, dan Rm Andre Yuniko. Belum lama, baru 2 April lalu ia menyelesaikan kembali retret agung hening 30 hari di Girisonta sebagai bagian dari perjalanan rohani wajib bagi Yesuit.

Dia terkena serangan jantung pada saat jogging di kompleks Girisonta, tempatnya awalnya menimba panggilan menjadi Yesuit. Ia sempat dibawa ke RS Ken Saras tetapi nyawanya tak terselamatkan.

Kamar di Kolsani sudah disiapkan baginya sampai tanggal 12 April sebab rencananya, hari mulai Minggu Palma ini ia dan para tersiaris akan berada di Jogja untuk belajar bersama Rm Leo Agung Sardi (mantan socius magisternya di Novisiat tahun 1999)  mengenai Latihan Rohani.

Misa requiem akan diadakan di Gereja St Stanislaus Girisonta pada hari Senin, 10 April 2017 pukul 10.00 pagi dilanjutkan pemakaman di Taman Maria Ratu Damai Girisonta, tempatnya joggingnya.

Romo Ardi, kematianmu di hari Sabtu Palma mengagetkan kami semua. Tetapi kami percaya bahwa jiwamu kini telah bahagia di pangkuan Bapa. Romo Ardi, engkau senang berolahraga dan menyanyi, selamat bersepeda dan jogging di Surga dan nyanyikan lagumu bersama petikan gitarmu bersama para malaikat. Engkau wafat sebagai imam Yesuit abadi, pendoa kekal bagi kami.