Siapa saja Konselebran Misa Tahbisan SJ 2017

Siapa saja Konselebran Misa Tahbisan SJ 2017

Perayaan misa tahbisan imam Serikat Yesus  akan diselenggarakan pada: Kamis, 13 Juli 2017, Pukul 09.00 WIB. Misa konselebrasi akan dipimpin oleh:

Mgr. Robertus Rubiyatmoko, Uskup Keuskupan Agung Semarang.

Mgr Rubi sebelumnya dikenal sebagai dosen Hukum Gereja di Fakultas Teologi Wedabhakti, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Sebagian besar para neomis merasakan buah pembinaan Romo Rubi di kelas-kelas sakramentologi, ekaristi, tutorial hukum perkawinan, pastoral hukum perkawinan, serta ujian Ad Audiendas (yurisdiksi). Tahbisan imam SJ 2017 ini akan menjadi perayaan tahbisan pertama yang dipimpin oleh Uskup Agung Semarang ini.

Yang akan menjadi konselebran pada misa tersebut adalah:

Kardinal Julius Darmaatmadja S.J.

Yesuit senior ini merupakan uskup emeritus Keuskupan Agung Jakarta dan Keuskupan  Agung Semarang. Ia ditahbisan uskup pada 29 Juni 1983 dan diangkat sebagai Kardinal oleh Yohanes Paulus II pada 26 November 1994 dengan gelar Cardinal-Priest of Sacro Cuore di Maria. Ia merupakan anggota Emeritus Dewan Kepausan untuk Dialog  Antaragama sejak 2009, Anggota Emeritus Kongregasi untuk Evangelisasi Bangsa-bangsa sejak 2009, Anggota Emeritus Dewan Kepausan untuk Kebudayaan sejak 2009,  Uskup Emeritus  Militer dan Kepolisian Indonesia sejak 2 Januari 2006.

Kardinal Darmaatmadja sering memimpin  tahbisan karena ia pernah menjabat sebagai Provinsial Serikat Yesus Indonesia, Uskup Agung Semarang, dan Uskup Agung Jakarta.  Dalam bahasa Inggris, penyebutan formal seorang Kardinal ialah His Eminence, atau Your Eminence. Di sebutan formal bahasa Latin, di depan namanya ditulis ERD (Eminentissimum ac reverendissimum Dominum).

Pater Arturo Marcelino Sosa Abascal, S.J.

Pater Jenderal Serikat Yesus, yaitu Pater Arturo Marcelino Sosa Abascal S.J. yang berkedudukan di Roma berkenan mengunjungi kami di Indonesia. Ia merupakan pimpinan umum ke-31 Serikat Yesus yang dipilih oleh Kongregasi Jenderal di Roma, pada 14 Oktober 2016. Ia berasal dari Caracas, Venezuela. Antara tahun 1996 dan 2004, Sosa adalah Pemimpin Provinsi Yesuit di Venezuela. Ia berbicara dalam bahasa Spanyol, Italia, Inggris, dan mengerti bahasa Prancis.

Sebutan formal seorang pimpinan umum Yesuit ialah ARPN, yakni Admodum Reverendus Pater Noster. Judul resmi dalam bahasa Latin adalah Praepositus Generalis, yang mungkin bisa dianggap sebagai “superior jenderal”. Istilah ini bukan berasal dari militer (walaupun ada kesalahpahaman yang populer dan Ignatius dari latar belakang militer Loyola sendiri) namun diturunkan dari “umum”, sebagai lawan dari “tertentu”. Ordo Dominikan memakai sebutan Master Jenderal, para Fransiskan pada umumnya menyebut pemimpinnya Minister Jenderal, pemimpin tertinggi Ordo Salib Suci disebut Magister General. Sementara para kepala pertapaan disebut Abas (pria) atau Abdis (perempuan).

Pater Petrus Sunu Hardiyanta, S.J.

Ia merupakan pimpinan Serikat Yesus provinsi Indonesia. Mulai 13 Maret 2014, Superior Jenderal  di Roma –Pater Adolfo Nicolas SJ—telah resmi menunjuk dan mengangkat Provinsial SJ yang baru untuk Provinsi Indonesia (Provindo) yakni Romo Sunu. Ia menjabat provinsial sejak 15 Juli 2014. Sebelumnya ia bertugas sebagai dosen di Fakultas Farmasi USD Yogyakarta. Romo Sunu adalah ahli Biologi lulusan  Vrije Universiteit Amsterdam, Belanda.  Provinsialat SJ berkedudukan di Jalan Argopuro, Semarang.

Pater Andreas Sugijopranoto, S.J.

Romo Andre menjabat sebagai pimpinan rumah formasi teologi di Kolese St Ignatius Yogyakarta sejak 2014. Sebelumnya, ia berkarya sebagai Direktur ATMI Solo.  Politekik ATMI Solo sudah sangat diakui sebagai institusi pendidikan tinggi vokasi bidang manufaktur teratas di Indonesia. Romo Andre adalah mantan misionaris di Thailand dan Kamboja. Kolese Ignatius merupakan tempat pembinaan para calon imam Yesuit di tahap terakhir sebelum tahbisan. Sebelum masuk Kolsani, para frater umumnya menempuh tahun orientasi kerasukan (TOK) di pelbagai tempat. Sebelum TOK, mereka harus menyelesaikan studi filsafat. Pendidikan filsafat ditempuh para frater di STF Driyarkara, Jakarta. Setidaknya, dibutuhkan 10 sampai 12  tahun pendidikan (formasi) dari awal masuk Novisiat hingga tahbisan imamat.

NB: sekadar pertanyaan iseng, berapa orang yang berkumis di gambar di atas? 🙂