Homili Kardinal Darmaatmadja pada 60 tahun sebagai Yesuit

Homili Kardinal Darmaatmadja pada 60 tahun sebagai Yesuit
Perayaan ekaristi dipimpin oleh Kardinal didampingi konselebran Pater Rektor Eddy Mulyono SJ dan Pater Priyo Poedjiono SJ.

Sahabat Prompang,

 

Pada 18 September Bapak Kardinal Julius Darmaatmadja SJ memimpin perayaan ekaristi memperingati 60 tahun sebagai Yesuit di Kapel Domus Patrum Girisonta. Perayaan persisnya ialah pada 7 September yang lalu. Namun karena aneka agenda, baru kali ini beliau merayakannya bersama seluruh anggota komunitas SJ di Girisonta. P. Johanes Madyasusanta SJ, yang bersama-sama masuk Novisiat SJ bersama Kardinal 60 tahun yang lalu, tidak dapat hadir karena alasan kesehatan. Ia tetap hadir dalam doanya di Wisma Emaus Girisonta.

Berikut petikan homili Bapak Kardinal:

Peringatan ini menjadi salah satu tonggak saya dalam Serikat Yesus. Kalau dirunut ke alasan kenapa saya masuk SJ, itu bukan karena motivasi yang hebat-hebat. Saya masuk SJ karena sebenarnya saya ini penakut. Saya ingin selamat, tetapi saya tidak percaya diri kalau sendiri. Saya takut menjadi imam tanpa memiliki spiritualitas yang mantap, tanpa kepemimpinan. Mungkin kalau mendaftar sekarang menjadi SJ dengan motivasi itu saya tidak lolos.

Setelah 12 tahun menjadi Yesuit, saya ditawari tahbisan imam. Ada keciutan hati, apakah saya mampu menghidupi keyesuitan, apakah saya mampu menjadi imam. Di sanalah, saya melihat Tuhan sendiri yang berkarya dan memberi pondasi-pondasi. Sehingga, motto tahbisan saya, yang diambil dari 2 Kor 4:1 (Bejana tanah liat) “Oleh kemurahan Allah kami telah menerima pelayanan ini. Karena itu kami tidak tawar hati.”  Saya yakin bahwa imamat bukanlah pilihan tetapi rahmat. Hal-hal rohani kekuatannya dari Allah sendiri. Di sanalah saya yang semula penakut akhirnya makin PD.

Sebagai imam, saya ditugaskan di paroki Kalasan, kemudian paroki Girisonta. Di Girisonta, saya merangkap sebagai socius dan minister. Banyak yang mengatakan saya selalu menjadi pimpinan. Padahal, waktu itu memang tidak ada lain, baik pastor rekan dan tidak ada pastor kepala. Saya satu-satunya pastor, maka tidak ada pilihan lain menjadi pastor kepala paroki. Dari Girisonta saya diutus menjadi Socius Provinsial, kemudian Rektor Seminari Menengah Mertoyudan dan akhirnya sebagai Provinsial Serikat Yesus Indonesiadan ditunjuk sebagai uskup.

Pada logo asli uskup, sebenarnya terdapat gunungan. Gunungan melambangkan bahwa hidup saya dekat dengan latar belakang kehidupan orang Jawa, dekat dengan ciri keindonesiaan. Entah beberapa tahun kemudian, saya mendapati logo ini ada yang mengubahnya menjadi tameng. Kalau orang mengerti kekayaan makna dari simbol aslinya , pasti tidak akan mengubahnya menjadi seperti tameng.

Kardinal memberikan potongan roti untuk Frater Novis SJ yang berulang tahun.

Ketika diangkat sebagai uskup, saya percaya bahwa menjadi uskup itu semuanya karya Allah. Maka, saat membuat Arah Dasar KAS yang pertama (1984-1990), saya mengutip kata-kata dari Paulus:  “Allah yang memulai karya baik di antara kita akan menyelesaikannya bdk. 1Flp:6).” Saya tidak merasa menjadi uskup KAS yang hebat, sendiri, tetapi Allah yang telah terlebih dahulu memulai berkarya di KAS dan pada zaman saya juga berkarya, dan juga Dialah yang akan menyelesaikannya.

Ketika ditunjuk sebagai uskup militer dan juga uskup KAJ, saya sudah pasrah, “terserahlah”. Tuhan nanti yang akan bersama saya juga. Menjadi uskup itu berkarya bersama Gereja-Nya, bersama seluruh imam diosesan dan religius, bersama biarawan-dan biarawati, dan semua awam. Di sanalah kuasa Allah hadir. Bahkan, banyak pertobatan hadir karena kesaksian hidup awam-awam yang baik.

Ketika saya menjadi emeritus, semangat itu pun saya hayati. Apapun yang dikerjakan demi pelayanan Gereja, dan tujuan Gereja demi keselamatan umat.

Amin.

 

Kor para novis SJ memeriahkan perayaan ekaristi 60 tahun hidup meyesuit Kardinal Julius dan Rm Madyasusanta