Fransiscus Georgius Josephus van Lith

Pernahkah Anda mendengar tentang seorang Jesuit bernama van Lith? Di Jakarta, namanya diabadikan menjadi pelindung sebuah sekolah menengah pertama di bilangan Gunung Sahari. Di Muntilan, namanya dijadikan nama sekolah menengah atas milik Yayasan Pangudi Luhur. Siapakah dia sebenarnya? Mengapa ada dua sekolah yang menggunakan namanya? Apakah karyanya banyak terkait dengan bidang pendidikan?

Franz van Lith dilahirkan dengan nama lengkap Fransiscus Georgius Josephus van Lith. Beliau lahir pada tanggal 17 Mei 1863 di Oirschot, Brabant, Belanda Selatan. Ayahnya adalah seorang juru sita. Sejak kecil, tidak seperti ayahnya, van Lith berkeinginan menjadi entah seorang guru atau Imam. Setelah menimbang-nimbang, akhirnya van Lith memutuskan untuk masuk sekolah guru di Sint Oedenrode.

Sumber foto: https://upload.wikimedia.org/

Setelah memantapkan diri dan kehendak untuk mengikuti kata hatinya yang terdalam, van Lith melanjutkan langkahnya ke dalam formasi di dalam ordo Serikat Yesus sebagai seorang calon Imam. Ia masuk ke novisiat (pendidikan dasar) pada tanggal 18 September 1881 di Mariendaal, Grave, Brabant Utara. Setelahnya, ia melanjutkan studi Filsafat di Stonyhurst, Inggris. Pengalaman tahun orientasi kerasulannya dijalani dengan menjadi guru yang mengajar Matematika dan bahasa Inggris di Kolese Katwijk. Kuliah Teologi kemudian dilakukannya di Maastricht. Tepat pada tanggal 8 September 1894, van Lith menerima rahmat anugerah tahbisan Imamat. Lika-liku masa tersiat kemudian ditapakinya di negara Belgia.

Selepas masa tersiat, pertanyaan dalam hatinya menggema, “Mau ke mana dan di bidang apa aku hendak berkarya?” Sembari mendengarkan kata hatinya yang terdalam dan arahan dari pembesar, van Lith kemudian diutus untuk berangkat ke Pulau Jawa pada bulan Oktober 1896. Dengan latar belakang bergelut di bidang pendidikan, van Lith merasa bahwa orang-orang Jawa pertama-tama mesti dididik terlebih dahulu, sebelum kemudian mendapatkan pewartaan tentang Injil. Oleh karena itu, van Lith mendirikan sebuah kolese yang diberi nama Kolese Xaverius di Muntilan.

Dalam keseharian di Kolese Xaverius, van Lith sungguh merasakan kedekatannya dengan orang muda dan juga kedekatannya dengan budaya Jawa. Ia sungguh telaten mendengarkan dan memperhatikan bagaimana orang Jawa hidup dan berinteraksi satu sama lain. Meski demikian, karyanya ini tidak berjalan mulus begitu saja. Penipuan yang dilakukan beberapa katekis Jawa yang berprinsip “Asal Romo Senang” dan konflik dengan Rm Hoevenaars S.J. menjadi kesulitan dan tantangan yang dialaminya. Meski demikian, ia tidak menyerah. Ia terus berjuang menemani orang Jawa dalam karya pendidikan hingga akhir hayatnya.

Karena kecintaan orang Jawa terhadap Rm van Lith S.J., maka ketika meninggal, van Lith dimakamkan di kompleks pemakaman kerkoff Muntilan. Hingga kini, makamnya menjadi tempat peziarahan orang Katolik, terkhusus para murid SMA Pangudi Luhur van Lith yang dulunya bernama Kolese Xaverius.

Sebagai seorang Jesuit, van Lith sungguh telah mendedikasikan hidup seutuhnya bagi Gereja universal yang tidak terbatas wilayah di mana beliau lahir dan dibesarkan. Dengan pemetaan yang jitu, van Lith masuk ke dalam hati orang Jawa melalui pendidikan dan budaya. Dari sanalah, van Lith membawa orang Jawa melangkah lebih jauh memeluk iman Katolik. Bagaimanakah dengan kita? Zona nyaman kerap mengungkung kita untuk berani melangkah keluar. Nikmat rasanya berdiam dalam batas-batas yang kita buat sendiri. Semoga teladan van Lith mengajak kita untuk berani keluar dari wilayah nyaman dan aman kita, dengan cerdik memetakan apa yang terjadi di tempat kita melayani, serta sungguh memberikan diri bagi mereka yang dilayani.

BUKU BACAAN:
Hasto Rosariyanto, Floribertus. Van Lith: Pembuka Pendidikan Guru di Jawa. Yogyakarta: Penerbit USD, 2009.
Budi Subanar, G. dan Dona Prawita (ed). 150 Tahun Rama van Lith, SJ: “Dari Muntilan Merajut Indonesia”. Yogyakarta: Penerbit USD, 2013.

Penulis : Fr. Paulus Bagus Sugiyono, SJ