Santo Ignatius Loyola

Pendiri SerST-IGNATIUSikat Yesus ini dilahirkan pada tahun 1491. Dia adalah anak bungsu dari keluarga bangsawan dari wilayah Basque di Spanyol utara. Ignatius dididik dan dilatih sebagai seorang bangsawan dan ksatria pada masa kekuasaan Raja Ferdinand. Sejak kecil dia mengidamkan kejayaan sebagai seorang ksatria dengan pedang dan baju zirahnya. Ketika Ignatius dilahirkan pada tahun 1491, jaman abad pertengahan baru saja berakhir dan jaman Renaissance mulai merasuki Eropa. Dengan demikian bisa dipahami, bahwa Ignatius hidup dalam dua pengaruh jaman dan dunia yang berbeda.

Ketika masih kanak-kanak, ia dikirim untuk menjadi abdi di istana raja. Di sana ia tinggal sambil berangan-angan bahwa suatu hari nanti ia akan menjadi seorang laskar yang hebat dan menikah dengan seorang puteri yang cantik.

Di kemudian hari, ia sungguh mendapat penghargaan karena kegagahannya dalam pertempuran di Pamplona. Tetapi, luka karena peluru meriam di tubuhnya membuat Ignatius terbaring tak berdaya selama berbulan-bulan di atas pembaringannya di Benteng Loyola. Ignatius meminta buku-buku bacaan untuk menghilangkan rasa bosannya. Ia menyukai cerita-cerita tentang kepahlawanan, tetapi saat itu hanya tersedia kisah hidup Yesus dan para kudus. Karena tidak ada pilihan lain, ia membaca juga buku-buku itu. Perlahan-lahan, buku-buku itu mulai menarik hatinya. Hidupnya mulai berubah. Lantas Ignatius berkata kepada dirinya sendiri,

“Mereka adalah orang-orang yang sama seperti aku, jadi mengapa aku tidak bisa melakukan seperti apa yang telah mereka lakukan?”

Semua kemuliaan dan kehormatan yang sebelumnya sangat ia dambakan, tampak tak berarti lagi baginya. Ia mulai meneladani para kudus dalam hal doa, silih dan perbuatan-perbuatan baik. Pada masa-masa awal pertobannya tersebut, Ignatius harus menderita banyak pencobaan dan penghinaan.

Sebelum ia memulai karyanya dengan membentuk Serikat Yesus, ia harus bersekolah terlebih dahulu hal yang dilakukannya adalah dengan belajar tata bahasa Latin. Sebagian besar murid dalam kelasnya adalah anak-anak, sementara Ignatius sudah berusia tiga puluh tiga tahun. Meskipun begitu, Ignatius tetap bersemangat mengikuti pelajaran, karena ia tahu bahwa ia memerlukan pengetahuan ini untuk membantunya kelak dalam pewartaan.

Dengan sabar dan gembira Ignatius menerima ejekan dan cemoohan dari teman-teman sekelasnya. Selama masa itulah, Ignatius mulai mengajar dan mendorong orang lain untuk berdoa. Karena kegiatannya itu, ia dicurigai sebagai penyebar bidaah (agama sesat) dan harus mendekam dipenjara. Namun hal tersebut tidak membuatnya berhenti dan tidak pula membuat semangatnya padam.

“Seluruh kota tidak akan cukup menampung begitu banyak rantai yang ingin aku kenakan karena cinta kepada Yesus.”

Ignatius berusia empat puluh tiga tahun ketika ia lulus dari Universitas Paris. Pada tahun 1534, bersama dengan enam orang sahabatnya, ia mengucapkan kaul rohani. Ignatius dan sahabat-sahabatnya, yang pada waktu itu masih belum menjadi imam, ditahbiskan pada tahun 1539. Mereka berikrar untuk melayani Tuhan dengan cara apa pun yang dianggap baik oleh Bapa Suci. Pada tahun 1540 Serikat Yesus secara resmi diakui oleh Sri Paus. Sebelum Ignatius wafat, Serikat Yesus telah beranggotakan seribu orang. Para Jesuit banyak melakukan perbuatan baik dengan mengajar dan mewartakan Injil.

Kerap kali Ignatius berdoa,

“Berilah aku hanya cinta dan rahmat-Mu, ya Tuhan. Dengan itu aku sudah menjadi kaya, dan aku tidak mengharapkan apa-apa lagi.”

Ignatius Loyola wafat di Roma pada tanggal 31 Juli 1556, dan ia dinyatakan sebagai orang kudus (Santo) pada tahun 1622 oleh Paus Gregorius XV.

Marilah pada hari ini kita berdoa dengan menggunakan kata-kata Santo Ignatius dari Loyola.