Serikat Yesus di Indonesia

Karya Serikat Yesus di Indonesia diawali pada pertengahan abada ke-16 oleh Santo Fransiskus Xaverius di Maluku. Kegiatan tersebut lantas diteruskan oleh para  imam Jesuit dan misionaris Eropa lainnya, hingga berakhirnya masa penetrasi Portugal di Muluku. Setelah masa itu, karya Jesuit praktis terhenti dalam kurun waktu yang cukup lama, karena VOC sebagai penguasa baru ketika itu, melarang secara mutlak keberadaan Gereja Katolik di seluruh wilayan yang dikuasainya.

Pada tahun 1859; Pater Martinus van den Elzen, SJ dan Joannes Baptista Palinckx, SJ tiba di Jakarta, mereka memulai kembali karya Jesuit di Indonesia (ketika itu di Paroki Surabaya).

Pada tahun 1890, tercatat ada 43 imam Jesuit, dan 12 bruder Jesuit yang berkarya di 28 stasi/paroki. Pada akhir abad ke-19, karya Serikat Yesus mencakup seluruh wilayah Indonesia; dari Sumatera Utara hingga Papua. Dari 32 stasi/paroki yang ada pada saat itu, sebagian besar muncul dan berkembang berkat kerja keras para Jesuit.

Pada 1893 W.J. Staal, SJ ditugaskan sebagai Vikaris Apostolik yang berkedudukan di Batavia.

Pada 14 Desember 1904, Pater van Lith, SJ membaptis 171 orang di Sendangsono, Muntilan, Jawa Tengah, setelah sebelumnya 4 orang dari desa Kalibawang dibaptis pada 20 Mei 1904.

Van Lith juga membangun sekolah seminari menengah di Muntilan. Seminari ini akhirnya menghasilkan para imam Jesuit pertama dari Indonesia yang ditahbiskan antara tahun 1926–1928 yaitu F.X. Satiman, SJ, A. Djajasepoetra, SJ, dan Albertus Soegijapranata, SJ.

Dengan keputusan Paus Pius XII pada tanggal 1 Agustus 1940 Vikariat Apostolik Semarang didirikan, dengan Uskup pertamanya yaitu Mgr. Albertus Soegijapranata, SJ. Mgr. Albertus Soegijapratana, SJ adalah Uskup pribumi Indonesia pertama.

Seorang imam diosesan, Mgr. Yustinus Darmojuwono, Pr. kemudian menggantikan beliau sebagai Uskup Agung Semarang sejak 1964, dan kemudian beliau diangkat menjadi Kardinal pertama dari Indonesia pada 26 Juni 1967.

Mgr. Yustinus Kardinal Darmojuwono kemudian digantikan oleh Mgr. Julius Darmaatmadja, SJ sebagai Uskup Agung Semarang dan kemudian menjadi Uskup Agung Jakarta. Kemudian beliau diangkat sebagai Kardinal kedua dari Indonesia.

Mgr. Julius Kardinal Darmaatmadja, SJ kemudian digantikan oleh Mgr. Ignatius Suharyo, Pr sebagai Uskup Agung Jakarta pada tahun 2010.

Saat ini karya Jesuit Indonesia tersebar di 7 wilayah Keuskupan di Indonesia, yaitu:

  • Keuskupan Agung Jakarta
  • Keuskupan Agung Semarang
  • Keuskupan Malang
  • Keuskupan Agung Medan
  • Keuskupan Bogor
  • Keuskupan Manokwari-Sorong
  • Keuskupan Timika

Aktivitas Jesuit di Indonesia

Jesuit juga aktif dalam karya komunikasi sosial, pendidikan, pelayanan pastoral, dan sosial kemasyarakatan.

Dalam bidang komunikasi Jesuit berkarya dengan menerbitkan Majalah Hidup, Majalah Basis, penerbitan Cipta Loka Caraka dan Kanisius, studio Sanggar Prativi dan audiovisual Puskat.

Dalam bidang sosial kemasyarakatan Jesuit mengupayakan keadilan melalui karya-karya yang sudah dibuatnya antara lain melalui pembinaan para sukarelawan pada Institut Sosial Jakarta dan Jesuit Refugee Service Indonesia.

Di bidang pendidikan Jesuit aktif melalui sekolah-sekolah umum seperti:

  • Kolese Kanisius, Jakarta
  • Kolese Gonzaga, Jakarta
  • Kolese Loyola, Semarang
  • Kolese de Britto, Yogyakarta
  • Kolese Le Cocq d’Armandville, Nabire-Papua

Maupun pendidikan khusus teknik dan pertanian seperti:

  • SMK Kolese Mikael, Solo
  • ATMI (Akademi Teknsik Mesin Industri) St. Mikael, Solo
  • SMTIK-PIKA (Sekolah Menengah Teknologi Kayu Atas-Pendidikan Industri Kayu Atas), Semarang
  • SPMA, Ambarawa
  • KPTT (Kursus Pertanian Taman Tani), Salatiga
  • AAK (Aksi Agraris Kanisius), Semarang

Dalam bidang pendidikan tinggi, Jesuit mengelola Universitas Sanata Dharma di Yogyakarta dan anggotanya mengajar di berbagai perguruan tinggi di Indonesia.

Dalam pelayanan pastoral, Jesuit mengajar agama, membimbing retret, memberi bimbingan rohani, mendirikan pusat riset dan pengembangan di bidang pastoral.

Dalam bidang sosial kemasyarakatan, sejumlah Jesuit aktif dalam bidang sosial budaya dan kemasyarakatan. Petrus Josephus Zoetmulder memiliki pengetahuan mendalam mengenai sastra Jawa dan berhasil menyusun dua jilid kamus Jawa Kuna.