Antonius Dieng Karnedi, SJ

Antonius Dieng Karnedi, SJ

Bruder Jesuit bukanlah Jesuit kelas dua! Memang dalam kacamata pemikiran orang sering dipandang menjadi bruder itu kurang jelas. Mengapa tidak sekalian saja menjadi imam. Kalau yang dipandang adalah status, maka status bruder bisa dilihat sebelah mata.

Seorang imam adalah dia yang tampil di depan, menjadi public figure, dan bahkan disebut sebagai pemuka jemaat. Seorang bruder adalah dia yang lebih berada di belakang, membantu dalam segala pekerjaan yang kecil, sederhana, praktis, dan material terutama lewat kerja tangan. Maka lalu dibedakan antara clerk (klerus) dan pembantu. Namun yang dibicarakan di sini bukanlah soal status, melainkan soal panggilan.

Baik imam maupun bruder menghayati panggilan yang satu dan sama, dalam panggilan sebagai Jesuit. Perannya memang berbeda, namun semuanya merupakan realitas dalam satu tubuh (bdk. 1 Kor 12: 12-30). Peran berbeda tidak pernah diartikan sebagai pembedaan kelas, sebab toh semuanya mengabdi dalam satu tubuh.

Romo Driyarkara dalam tulisannya di Swara Tama, 20 Agustus 1941, menggambarkan panggilan bruder dalam ungkapan “mati ing sajroning urip, urip ing sajroning pati”: hidupnya hanya bagi Allah, dan karena itu mereka mati dari kesenangan atau ambisi duniawi.

Di situlah, menurutnya, letak keluhuran panggilan bruder: mengangkat dan menguduskan segala pekerjaan yang remeh, dan dijadikannya sebagai karya yang suci serta berbuah banyak. Memang yang dikerjakannya kelihatan remeh dan biasa, namun sebenarnya di balik itu semua ada kurban, yang dipersembahkan bagi kemuliaan Allah.

Karena itulah, pekerjaan tersebut menghasilkan buah rohani melimpah dan menjadikan kesaksian iman.

Kita tidak bisa membayangkan Serikat Yesus tanpa adanya bruder. Pernah ada yang mengungkapkan antara imam dan bruder dalam Serikat Yesus bagai dua sisi sepasang sayap, yang satu mengandaikan yang lain, saling membutuhkan agar dapat saling mengepak dan terbang. Coba bayangkan, apakah ada burung yang bisa terbang kalau hanya satu sisi sayap. Demikian pulalah kehadiran para bruder Jesuit, menjadikan wajah dan tugas rasuli Serikat Yesus makin berkibar dan memberi arti.

Demikian kutipan pengantar oleh Romo Telesphorus Krispurwana Cahyadi, SJ dalam buku “Anda itu Siapa?” hasil karya Bruder Antonius Dieng Karnedi, SJ. Sebuah buku yang mengetengahkan kisah dari pribadi-pribadi khas; para Jesuit, yang berkarya bagi Allah, Gereja dan masyarakat sebagai seorang Bruder dalam Serikat Yesus. Dan berikut ini adalah kisah serta sejarah panggilan Bruder Dieng sebagai seorang Jesuit.

Bruder Antonius Dieng Karnedi, SJMengapa Nama Saya Dieng?

Apakah nama itu penting? Ada ungkapan yang sering dikatakan orang, “Apalah arti sebuah nama?” Bagi saya, nama adalah penanda. Melalui nama, orang dikenali. Melalui nama itu pula, identitas seseorang dinyatakan. Apa jadinya ketika seseorang memiliki nama yang tidak dalam golongan mainstream, berbeda, dan jarang digunakan oleh orang lain? Yang pasti, nama tersebut akan mengundang orang lain untuk bertanya.

Ada tiga pertanyaan yang sering saya terima selama 12 tahun terakhir ini dan itu bukan terkait dengan nama saja: “Mengapa namamu Dieng? Mengapa kamu menjadi bruder? Dan mengapa menjadi bruder Jesuit?” Jika dihitung, pertanyaan yang sama mungkin sudah berjumlah ratusan kali disampaikan. Saya selalu tersenyum ketika mendengar tiga pertanyaan itu diajukan. Pernah saya berpikir untuk membuat kartu nama dengan keterangan khusus tentang nama dan statusku tersebut. Namun, hal tersebut tidak saya lakukan. Ada juga keinginan untuk menulis jawaban dari pertanyaan-pertanyaan di atas dalam sebuah bentuk kisah. Tapi, baru sekarang saya punya waktu untuk menuliskan sejarah tentang nama dan identitas saya yang lain.

Semua berawal dari sejarah. 34 tahun yang lalu, ayah saya mengadakan perjalanan ziarah ke Sendangsono—tempat ziarah umat Katolik di daerah Promasan, Kalibawang, Yogyakarta. Jalan yang beliau tempuh waktu itu adalah daerah Boro. Boro adalah daerah perbukitan. Karena itu, tak mengherankan bahwa pemandangan di tempat itu begitu indah. Dalam perjalanan, ayahku berangkat bersama-sama dengan umat stasi asalku—Kedunggalar, Paroki Ngawi. Di suatu tempat yang agak tinggi dan lapang, ayahku melayangkan pandangan ke sekitar. Beliau begitu takjub melihat indahnya pemandangan di daerah itu. Lebih lagi, ketika beliau melihat ke sisi utara, di sana tampak megah dan indahnya sebuah gunung yang menjulang. Karena rasa kagum, ayahku bertanya pada Pak Alim, temannya. “Pak, apa nama gunung yang indah itu?” Pak Alim sebenarnya tidak tahu persis nama gunung itu. Tapi, dengan mantap beliau menjawab, “Itu adalah gunung DIENG”. Sampai di sini, aku hendak menyebut Pak Alim bukan “alim” lagi—karena beliau memberikan keterangan yang salah. Sesampainya di rumah, ibu saya yang sedang mengandung melahirkan.

Singkat cerita, atas dasar kekaguman terhadap gunung Dieng yang indah itu, ayah saya memberikan pilihan nama terbaik untuk saya, yaitu Dieng. Itulah nama yang saya gunakan hingga saat ini. Sampai saya lulus SMU, saya merasa nyaman dengan nama saya yang keren tersebut. Apalagi ketika ada tambahan nama lain di samping Dieng, yaitu KARNEDI. Ketika saya sudah merasa nyaman dengan nama yang saya miliki, orang-orang di sekitar saya tetap saja bertanya. “Mengapa namamu kok Dieng?” Sebagai pelajar yang saat itu juga berminat di bidang sejarah, saya pun melalukan penelusuran. Saya pun kemudian mengunjungi perpustakaan sekolah. Saya menemukan bahwa “Dieng” adalah nama sebuah candi dan dataran tinggi di daerah Wonosobo, Jawa Tengah.

Pertanyaan pun muncul dalam pikiran saya, “Jika ayah saya berziarah ke Sendangsono, mengapa nama saya bisa menjadi Dieng—nama candi dan dataran tinggi yang berada di Jawa Tengah? Padahal, satu-satunya gunung yang ada di Jogja adalah gunung Merapi.” Persis di sinilah, saya menemukan kekeliruannya. Seharusnya, saya adalah MERAPI dan bukan DIENG. Jika saja saat ditanya oleh ayah saya, jawaban Pak Alim tidak keliru, barangkali nama saya saat ini adalah Merapi. Walaupun nama yang saya gunakan saat ini adalah nama yang keliru, saya tetap mensyukurinya. Di balik kekeliruan itu, saya menangkap arti yang mendalam dari nama saya. Secara etimologis, Dieng berasal dari gabungan dua kata bahasa Sunda kuno, yaitu “Di” yang berarti tempat atau gunung, dan “Hyang” yang bermakna Dewa. Dua kata tersebut kemudian mengalami perubahan hingga menjadi kata Dieng. Dengan demikian, Dieng berarti “daerah pegunungan, tempat bersemayamnya para dewa”. Lalu, apa arti kata Karnedi? Bagi ayah saya, Karnedi berasal dari dua kata “mekar” dan “edi” yang berarti “mekar dengan baik.” Sampai di sini, saya menangkap pesan orangtua saya melalui nama yang diberikan kepada saya, yaitu agar saya menjadi tempat atau sarana bagi para dewa untuk bersemayam. Saya juga diharapkan tumbuh sebagai pribadi yang baik, mekar dengan baik. Semoga saja harapan orangtua saya, terutama ayah saya dapat saya penuhi.

Mengapa Jadi Bruder?

Pertanyaan kedua ini tidak kalah seringnya diajukan oleh orangorang yang baru saya kenal, atau bahkan mereka yang sudah sekian lama mengenal saya. Tidak semua yang mengajukan pertanyaan tersebut puas dengan jawaban yang saya berikan. Terlebih, ketika saya memberikan jawaban yang singkat. Bagi saya, pertanyaan di atas membutuhkan jawaban berupa kisah panjang keseluruhan hidup panggilan yang saya jalani hingga saat ini. Ungkapan beberapa kata atau kalimat tak akan bisa menjawab secara penuh gambaran hidup menjadi seorang bruder.

Sosok bruder Jesuit pertama kali saya kenal pada tahun 1994. Pada saat itu, saya tinggal di sebuah daerah transmigrasi, Desa Bukit Intan Makmur, Riau. Di desa tersebut, terdapat beberapa keluarga Katolik yang setiap hari Minggu berkumpul untuk mengadakan ibadat hari Minggu bersama. Dua minggu sekali, desa kami dikunjungi oleh Frater, Bruder, atau Romo dari Paroki Pasir Pangarayan. Melalui kunjungan-kunjungan itulah, pelan-pelan saya mengenal mereka. Namun, saat itu saya belum bisa membedakan identitas mereka sebagai Jesuit atau yang lain.

Pada tahun 1997, menjelang kelulusan saya dari SMP Sei Intan, saya berjumpa dengan Br. Kirja Utama, SJ dalam sebuah ibadat pagi di desa kami. Tanpa basa-basi, beliau bertanya kepada saya “Mas, apakah kamu mau saya sekolahkan? Kalau mau, kamu ikut saya”. Pertanyaan tersebut begitu menyentuh saya. Saya tidak mengenal baik Br. Kirja dan saya yakin beliau juga tidak mengenal saya dengan baik, namun mengapa ia memberi tawaran yang menurut saya luar biasa tersebut? Jika tidak ada tawaran tersebut, mungkin saya juga tidak bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang Sekolah Menengah Atas. Tanpa ragu-ragu, saya menjawab “ya” untuk tawaran tersebut. Bagi saya, tawaran yang saya terima ini nantinya akan menjadi titik awal sejarah panggilan saya. Sejak saat itulah, saya pun berpindah tempat dari desa transmigrasi yang lebih dikenal sebagai “Desa Prambanan”. Selanjutnya, selama tiga tahun berikutnya, saya melanjutkan pendidikan di SMA Negeri 1 Rambah.Saya tinggal dan hidup bersama dengan para Jesuit dan teman-teman asrama lain di Paroki St. Ignatius, Pasir Pangarayan.

Selama hampir 3 tahun, saya tinggal di Pastoran Pasir Pangarayan. Selama itu pula, saya mendapatkan banyak pengalaman baru: studi, kerja, berdoa, memasak, berteman, dan lain sebagainya. Pengalaman-pengalaman tersebut perlahan menjadikan saya sebagai pribadi yang dewasa. Keteladanan yang diberikan oleh para Jesuit serta cara mereka mendidik kami, menjadi pengalaman yang sungguh mengesan. Rm. Ignatius Haryoto, SJ memiliki karakter tegas, sistematis, presisi, dan lurus. Baginya, banyak hal harus dikerjakan sesuai dengan apa yang telah direncanakan. Banyak hal harus dilakukan dengan sungguhsungguh dan maksimal. Kami tidak ditawari pilihan untuk melakukanpekerjaan secara setengah-setengah, asal-asalan, dan tidak teratur. Br. Kirja, SJ lebih tampil sebagai seorang “ibu”. Ia lebih sering berada bersama kami. Keteladanan kerja dan keberanian untuk mensharingkan pengalaman hidupnya menjadi ciri khas yang ditawarkan kepada kami. Tak jarang, ia mengajak kami untuk lembur, entah itu untuk memetiki kacang tanah yang telah dipanen, mengamplas meja kursi atau mengecatnya, hingga larut malam. Kadangkala, ia membagikan makanan “enak” atau mentraktir kami. Tentu ini menjadi pengalaman yang menggembirakan. Sementara itu, Fr. Irwan, SJ (saat ini telah menjadi Rm. Irwan Susiananta, SJ) sering mengajak kami untuk belajar bernyanyi. Kami anak-anak muda dari kampung diajari untuk menjadi anggota koor sehingga bisa menyanyikan lagu-lagu Gereja yang merdu. Bersamanya pula, kami belajar persiapan komuni dan krisma, bahkan pelajaran agama dan membaca Kitab Suci.

Bagi saya, Br. Kirja adalah figur yang paling dekat dan saya sukai saat itu. Kedekatan dan keteladanan hidup yang ia berikan, menggantikan absennya peran orangtua dan keluarga yang tidak pernah lagi saya rasakan sejak saat itu. Maka, setelah saya lulus SMA, saya pun kembali mengikuti jejak Br. Kirja dan berpindah ke Seminari Tinggi St. Paulus, Yogyakarta. Sebelum berpindah ke Seminari Kentungan untuk bekerja dan bergabung dengan Promosi Panggilan (Prompang), saya tersandera oleh tiga huruf lambang Serikat Yesus — IHS. Saya merasa selalu heran, mengapa di Pastoran Pasir Pangarayan, banyak sekali terdapat tiga huruf besar tersebut. Tulisan tersebut terdapat di rancakan gamelan miliki Br. Kirja, di jendela pastoran, bahkan di gagang parang yang sering kami pakai untuk bekerja. Jawaban yang diberikan para Jesuit tak pernah memuaskan rasa ingin tahu saya. Rm. Haryoto mengatakan “Itu artinya Ignatius Haryoto Sak’kanca”. Br. Kirja mengatakan “Ini Hak Saya”. Fr. Irwan menjelaskan “Ini Home Saya”. Saat itu, saya berpikir dan tidak yakin dengan jawaban-jawaban yang mereka berikan. Jawaban yang benar dari tiga huruf IHS tersebut baru saya temukan kemudian ketika saya membaca buku-buku tentang Jesuit yang saya dapatkan di perpustakaan Seminari Kentungan. Sejak saat itu pulalah, saya semakin tertarik untuk menjadi seorang bruder Jesuit dan mengikuti Retret Panggilan pada 19 Juli 2001. Tahun berikutnya, saya diterima masuk menjadi novis Jesuit.

Ringkasan kisah di atas adalah bagian dari jawaban atas pertanyaan mengapa saya menjadi seorang bruder. Panggilan menjadi bruder sebenarnya adalah panggilan yang sangat sederhana, yaitu panggilan yang langsung menuju kepada Allah. Saya sungguh suka menggunakan rumusan ini: Tidak banyak sebenarnya yang harus kita cari dalam hidup ini selain jalan atau cara-cara menuju kepada Allah.

Bruder kok Bruder Jesuit?

Bagi saya, menjadi Jesuit adalah pilihan pertama. Menjadi bruder atau imam adalah pilihan kedua. Jesuit adalah pendosa yang dipanggil untuk menyelamatkan jiwa-jiwa. Bekerja, mengabdi, memuji, dan menghormati Allah melalui karya-karya kerasulan bagi sesama. Untuk mewujudkan cita-cita tersebut, biasanya seseorang lalu memilih jalan panggilan sebagai imam atau bruder. Saya sendiri tertarik untuk menjadi seorang bruder Jesuit. Bagi saya, menjadi bruder Jesuit adalah pilihan sarana paling “OK” agar bisa melayani sesama secara lebih efektif. Saya sendiri selalu berkeyakinan bahwa yang penting bagi seorang Jesuit adalah kemampuan mereka dalam merasul, berkarya, dan melayani sesama.

Sejak tahun 2002, saya menjalani masa formasi sebagai Jesuit yang diawali dengan formasi awal di Novisiat dan dilanjutkan dengan masa formasi Yuniorat, Filsafat dan Teologi, Tahun Orientasi Kerasulan (TOK), dan berkarya sebagai bruder yunior. Setelah 3 tahun berkarya di Paroki St. Yohanes Pemandi, Waghete, Papua, saya menempuh studi khusus di Pendidikan Biologi Sanata Dharma, hingga saat ini. Bagi Jesuit, lamanya waktu formasi dan studi dimaksudkan agar menjadi sarana yang Salah satu pengalaman paling mengesan yang saya alami dalam proses formasi dan karya sebagai bruder Jesuit adalah saat mendapat tugas untuk berkarya di Paroki St. Yohanes Pemandi, Waghete, Papua. 5 Agustus 2010 adalah hari pertama saya menginjakkan kaki di Papua. Beberapa waktu sebelumnya, saya masih menjalani TOK di Seminari Menengah Mertoyudan. Karena sebuah panggilan telepon dari Provinsial, pada tanggal 5 Agustus ini saya berlayar ke Papua. Saya masih ingat persis kata-kata yang diucapkan oleh Rm. Provinsial.

“Br. Dieng, sudah satu tahun bruder menjalani TOK di Mertoyudan. Sekarang ada dua pilihan baru bagi bruder untuk menjalani masa TOK selanjutnya, yaitu di ATMI (Akademi Teknik Mesin Industri) dan di Waghete, Papua. Bruder memiliki dua pilihan tersebut, tetapi saya yang akan memutuskan ke mana bruder akan diutus”. Saat itu, saya mengatakan, “Saya siap, Romo, ke mana pun akan diutus”. Saat merenungkan kembali kata-kata Rm. Provinsial, saya tersenyum. Saya diberi dua pilihan, tetapi saya akan dipilihkan untuk memilih pilihan tersebut.

Tanpa berpikir panjang dan merenung lama, saya pun mulai mempersiapkan diri untuk mengurus perjalanan ke Papua. Saya masih ingat bahwa saat itu, pikiran saya terpecah belah, sebab ayah saya sedang sakit kanker prostat stadium akhir. Kecemasan selama mengurus ayah yang sedang sakit rupanya tidak memberi kesempatan bagi saya untuk merasa khawatir ketika harus pergi ke Papua. Agaknya, keakraban saya dengan berbagai macam kesulitan dalam hidup membantu saya kali ini.

Persis lima hari sebelum saya berangkat ke Papua, ayah saya dipanggil menghadap Tuhan. Di satu sisi saya bersedih, karena saat itu pula saya tidak lagi memiliki seorang ayah. Di sisi lain, saya merasa lega, sebab masih diberi kesempatan untuk mengantar kepergian ayah saya hingga ke peristirahatannya yang terakhir. Perutusan misi ke Papua pun terus berlanjut. Akhirnya, saya tiba di Paroki St. Yohanes Pemandi Waghete sebagai tempat perutusan saya yang baru. Di paroki ini, saya menggantikan posisi Br. Norbert Mujiana, SJ. Br. Norbert sendiri sudah berkarya selama 10 tahun di tempat ini. Banyak hal telah dikerjakan oleh Br. Norbert dan rekan-rekan Jesuit lain yang pernah berkarya di Waghete. Saya pun juga harus memberikan sumbangan atau kontribusi saya sebagai Jesuit di tempat ini, demikian seruan hati saya.

Beradaptasi dengan tempat dan tugas perutusan baru selalu menjadi pengalaman yang tidak mudah. Saya membutuhkan waktu kira-kira 2 bulan untuk bisa beradaptasi secara baik dengan keadaan di Waghete. Tantangan awal yang paling berat di Waghete saat itu adalah pengalaman kesendirian. Ketika tiba di Waghete, saya hanya ditemani selama 1 minggu oleh Br. Norbert untuk serah terima tugas-tugas dan apa saja yang bisa saya kerjakan. Seminggu kemudian, rekan sekomunitas saya, Rm. Budiarta, SJ pergi ke Yogyakarta untuk mengurus sesuatu hampir selama 2 bulan. Akibatnya, saya pun harus mengalami kesendirian dalam arti memang sungguh-sungguh sendiri di Paroki Waghete. Kala itu, suasana di Waghete masih sangat sepi, belum ada jaringan telepon seluler (sinyal) dan listrik. Jalan menuju Waghete juga masih sangat buruk. Masih banyak keterbatasan lain yang kala itu sempat saya alami bersama teman perutusan saya di Waghete.

Seiring berjalannya waktu, daftar litani kesulitan di Waghete menjadi tidak berarti lagi. Perlahan namun pasti, ada banyak hal yang ternyata bisa saya kerjakan. Tugas-tugas yang “diwariskan” oleh Br. Norbert, menjadi kepala sekolah TK Komugai, mengurus Asrama Putri Mediatrix, mengurus Kios Paroki, dan beternak sejumlah babi, dan mencari donatur untuk bentuk karya-karya pelayanan tersebut adalah tugas-tugas yang dengan sendirinya menyita banyak waktu.

Melayani Secara Kreatif

Bagi saya, kreativitas adalah hal yang sangat penting untuk berkarya di tanah misi. Dengan kreativitas itulah, terbuka peluang yang lebar untuk bisa melayani umat dan masyarakat di paroki Waghete. Peluang besar yang pertama-tama saya identifikasi dari pemikiran kreatif tersebut adalah pendidikan. Pendidikan menjadi kata kunci untuk bisa mengangkat kehidupan masyarakat Mee yang kala itu saya layani. Pilihan terhadap bidang pendidikan ini adalah pilihan yang mendasar, sebab ada banyak penduduk Mee di Waghete yang tidak bisa, atau bahkan tidak pernah mengenyam pendidikan yang memadai. Sistem pendidikan di Waghete dan daerah-daerah di sekitarnya tidak berjalan dengan efektif, bahkan tidak berjalan sama sekali. Lemahnya bidang pendidikan inilah yang kemudian menjadi “lingkaran setan” yang membelenggu masyarakat Mee. Akibatnya, di Waghete, banyak sekali kita temui anggota masyarakat dan umat yang miskin, sakit, dan memiliki pengetahuan terbatas.

Dalam sebuah buku yang pernah saya tulis, berjudul: “Dari Menghapus Ingus hingga Belajar Komputer: Kisah Pendidikan di Waghete”, saya menuturkan puluhan kisah menarik tentang pendidikan yang coba kami kembangkan di Paroki Waghete. Dari buku tersebut, saya membagikan banyak bentuk pendekatan pendidikan yang pernah dilakukan oleh para Jesuit pendahulu dan saya sendiri dengan bentuk-bentuknya yang kreatif. Beberapa proses pengembangan pendidikan yang patut diingat adalah didirikannya TK Komugai oleh Br. Norbert bersama Rm. Eddy Anthony, SJ dan sejumlah guru serta umat di paroki Waghete. Pendirian TK tersebut menandai titik awal perhatian Paroki Waghete terhadap proses pengembangan pendidikan. Hingga saat ini, TK tersebut berkembang dengan baik. TK tersebut adalah TK pertama yang pernah ada di kabupaten Deiyai yang baru-baru ini terbentuk. Selain TK Komugai, saya sendiri juga dengan mudah bisa mengingat didirikannya Asrama Putri Mediatrix, yang dalam pengelolaannya dilakukan bersama dengan para suster dari Tarekat Maria Mediatrix. Asrama tersebut memfasilitasi anak-anak dan remaja perempuan Mee yang ingin menempuh pendidikan lebih baik di Waghete.

Tidak hanya berhenti di situ, program-program pengembangan pendidikan pun terus dikembangkan oleh paroki Waghete; di antaranya yaitu diadakannya kursus komputer dan les menulis, membaca, dan menghitung di Pastoran, program bantuan solar cell untuk belajar di rumah, dan menghadirkan guru-guru volunteer untuk mengajar anak-anak Sekolah Dasar. Geliat pengembangan pendidikan di Paroki pun semakin hari menjadi semakin ramai. Pada saat bersamaan, semakin banyak orang dan pihak yang lalu ikut membantu proses pengembangan pendidikan tersebut. Tidak sedikit para donatur yang lalu memberikan bantuan-bantuan mereka yang sungguh-sungguh berharga bagi kami. Pelan namun pasti, proses pengembangan pendidikan di Waghete pun semakin semarak. Saat ini, di Waghete ada dua orang Jesuit dan lima orang guru volunteer yang melayani kebutuhan pendidikan umat dan masyarakat Mee.

Perhatian yang lebih besar pun saat ini diterima oleh paroki Waghete secara khusus dan misi Jesuit di Papua secara umum. Saat ini, karya-karya pelayanan Jesuit di Papua telah dipayungi oleh sebuah yayasan yang memang secara khusus didirikan untuk tujuan itu. Dukungan yang terakhir ini rupanya sangat melegakan bagi banyak Jesuit Papua. Tidak seperti saat ini, pada saat saya berkarya di Papua, saya sering kali merasa gelisah, sebab kadangkala dihantui oleh rasa takut kalau-kalau karya di Papua tidak bisa berkelanjutan, merasa cemas kalau-kalau kehabisan dana untuk berkarya di sana. Ketakutanketakutan tersebut perlahan berkurang, sebab karya misi di Papua ini sekarang sungguh-sungguh menjadi karya kita bersama. Kepedulian banyak pihak pun hingga kini terus mengalir. Keadaan ini adalah saat yang perlu sungguh-sungguh kita syukuri.

2015-12-10 6:35 GMT+07:00 norbert mujiyana

Rm Magnis yang baik.
Saya br Norbert di Nabire-Papua.
Saya senang dan terdukung oleh Romo yang mau dan telah memahami gerak langkah para BRUDER JESUIT menghidupi Serikat dengan suka dan dukanya lewat (salah satu buku) yang ditulis oleh Br Dieng. Harapan kami semoga Rm Magnis menjadi penggerak anak mudah yang “mau memaknai jalan hidupnya menjadi BR JESUIT”, selain kami-kami para bruder Jesuit juga mempromosikan diri langsung dengan kegiatan sehari-hari. Sekali lagi saya senang Rm Magnis telah menyimak kiprah para bruder Jesuit untuk membuka hati para pemuda yang mau menjadi BRUDER JESUIT. Kita SJ bersama mempromosikan diri.

Salam Kotekakukeri: kobarkan tekat kita untuk Serikat Yesus. Norbert-Papua.
From: Franz Magnis-Suseno SJ
Sender: Provindo
Date: Wed, 9 Dec 2015 21:19:19 +0700
To: Provindo
ReplyTo: Provindo
Subject: RE: [internos] Bruder Yesuit

Bruder Dieng Karnadi yang baik,
Tadi saya sudah selesai membaca dari permulaan sampai akhir buku “Anda itu Siapa? Bruder Yesuit“. Bagus sekali – dan pekerjaan luar biasa. Terimakasih atas buku bagus ini! Saya menulis di Internos karena menurut saya buku ini sangat bagus untuk promosi panggilan Bruder. Sebaiknya buku itu diletakkan dalam kamar-kamar penerima tamu di komunitas dan paroki kita dan kalau ada yang tertarik, buku diberikan kepadanya.
Bruder Dieng sendiri saya harap terus menulis lagi.
Salam
Franz

Catatan:

  • Saat ini Bruder Antonius Dieng Karnedi, SJ sedang menjalani perutusan studi khusus Program Studi Pendidikan Biologi di Universitas Sanata Dharma sejak tahun 2013.
  • Bruder Antonius Dieng Karnedi, SJ juga telah bermurah hati untuk membagikan buku “Dari Menghapus Ingus hingga Belajar Komputer: Kisah Pendidikan di Waghete” dan buku “Anda itu Siapa?”. Bagi anda yang tertarik untuk menjadi seorang Bruder Yesuit, dapat juga menyimak dokumen Panggilan Bruder Yesuit. Ketiga dokumen tersebut dapat anda unduh disini.
  • Bruder Antonius Dieng Karnedi, SJ dapat dihubungi disini atau dapat juga menyimak blog pribadi Bruder Dieng disini.