FX Marsono, SJ

FX Marsono, SJ

Berawal dari Menjahit

Setumpuk kain-kain tenda yang masih baru itu harus segera dijahit menjadi tenda-tenda yang kokoh. Jika tenda-tenda itu tidak segera selesai, tak mungkin para novis Jesuit akan bisa berkemah dan berlibur di lereng gunung Sindoro-Sumbing. Lantas, siapa yang bisa mengerjakan penjahitan tenda itu? Saat itu, Bruder Marsono hadir sebagai “jagoan” yang menjadi penyelamat liburan para novis. Dengan keahlian menjahit yang telah ia miliki sebelum masuk novisiat, Bruder Marsono dengan cekatan mengukur, memotong, dan menjahit tumpukan kain-kain tenda yang telah tersedia. Teman-teman novis lain tidak terlalu bisa berbuat banyak, karena mereka tidak bisa menjahit. Apa yang bisa mereka lakukan adalah membantu keperluan-keperluan lain yang secara umum bisa dikerjakan untuk meringankan “proyek” pembuatan tenda menjelang liburan tersebut. Dalam proses pembuatan tenda, tidak disediakan waktu khusus bagi Bruder Marsono. Maka, ia harus mengorbankan waktu siesta (tidur siang) di Novisiat selama beberapa minggu. Sementara teman-teman novis lain menikmati waktu siesta, Bruder Marsono dengan penuh dedikasi terus menjahit kain-kain tenda dengan sepenuh hati. Beberapa teman novis kadangkala menemani Bruder Marsono saat menjahit tenda dengan memegang atau meluruskan kain-kain yang hendak dijahit.

Meskipun dikerjakan dalam waktu yang “kurang tepat”, toh tenda-tenda yang berhasil dibuat oleh Bruder Marsono memiliki kualitas yang baik. Akhirnya, menjelang liburan tiba, 6 buah tenda beserta perlengkapannya berhasil diselesaikan oleh Bruder Marsono. Melihat semua itu, Romo Magister, Romo Socius, dan teman-teman novis merasa gembira. Kita beruntung memiliki Bruder Marsono saat itu. Hingga saat ini, tenda-tenda hasil karya Bruder Marsono masih tetap awet dan bagus. Semangat dan keterampilan yang dimiliki oleh Bruder Marsono inilah, yang kemudian hari menjadi inspirasi bagi para novis di tingkat bawahnya.

Saat ini, Bruder Marsono sedang menyelesaikan studi khusus untuk mengambil gelar magister bidang pendidikan dan kurikulum di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung. Proses studi tersebut ia jalani dengan semangat kesungguhan. Tak jarang, aneka kesulitan dalam menempuh studi itu pun ia alami; baik itu karena persoalan tempat tinggal, faktor usia yang tidak lagi muda, tugas-tugas kuliah yang tidak mudah, dan dosen pembimbing yang tidak mudah untuk diikuti kemauannya. Kendati ia mengalami aneka kesulitan, Bruder Marsono tetap memiliki target dan semangat yang tinggi. Ia sendiri merencanakan tidak mau berlama-lama untuk memperoleh gelar S2-nya agar segera bisa berkarya dan kembali tinggal bersama dengan komunitasnya.

Mengapa Bruder Marsono memilih bidang pendidikan dan kurikulum untuk studi khususnya? Bagi Bruder Marsono, pilihan tersebut bukan tanpa alasan. Sebelum ia menempuh studi S2 di UPI, ia menjalani Tahap Orientasi Kerasulan (TOK) di Pendidikan Industri Kayu Atas (PIKA), Semarang, tahun 2008. Di tempat itu, ia tidak hanya menjadi staf di sekolah namun juga mengajar anak-anak muda yang bercitacita untuk menjadi tukang-tukang kayu handal. Selama kurang lebih 4 tahun, Bruder Marsono bergelut dengan pendidikan anak muda di PIKA. Ia juga sempat menjadi kepala asrama bagi para siswa yang menempuh pendidikan di PIKA. Dari situlah, muncul perhatian dan passion Bruder Marsono untuk mengembangkan bidang pendidikan secara lebih baik, khususnya dalam bidang kurikulum. Setelah membicarakan minat bidang studi ini dengan komisi studi khusus Serikat Yesus, Bruder Marsono pun mendapat izin untuk menempuh pendidikan S2. Ia diperkenankan untuk mencari dan memilih sendiri universitas mana yang cocok untuk menjawab kebutuhan studinya. Pilihan pun jatuh pada UPI.

Bruder-Marsono-2Pengalaman Formasi

Sejak tahun 2001, Bruder Marsono menjalani masa formasi sebagaimana layaknya para Jesuit lainnya. Ia bersama dengan 21 rekan-rekan muda memulai formasi awal di Novisiat Girisonta. Ia adalah satu-satunya novis calon Bruder Jesuit. Walaupun demikian, ia tidak merasakan adanya pembedaan bentuk formasi selama di Novisiat. Tak jarang, dalam proses formasi novisiat ini, Bruder Marsono mendapati temantemannya merasa tidak kerasan dan pulang meninggalkan Novisiat. Kendati merasa sedih karena kehilangan teman-teman yang dicintainya, ia tetap teguh melanjutkan masa formasinya. Di akhir masa novisiat, Bruder Marsono merasa gembira karena diperkenankan mengucapkan kaul pertama dan bergabung dalam Serikat Yesus bersama 5 rekannya.

Seusai menjalani masa formasi di Novisiat, Bruder Marsono bersama 3 orang teman frater mendapat kepercayaan untuk melanjutkan masa formasi yuniorat di Manila, Filipina. Di sana, ia tinggal di Arrupe International Residence, sebuah komunitas Jesuit yang anggotanya berasal dari 5 negara lebih. Belajar bahasa Inggris menjadi kewajiban yang harus dilakukan oleh Bruder Marsono dan teman-temannya. Mereka harus menghabiskan waktu berjam-jam di ruang kelas untuk belajar bahasa Inggris. Tanpa menguasai bahasa Inggris, ia akan mengalami kesulitan dalam berkomunikasi.

Bruder Marsono dan teman-temannya juga mengikuti kegiatan livein bersama dengan penduduk lokal di daerah Navotas. Navotas adalah perkampungan miskin dan kumuh yang terletak di pinggiran kota Manila. Tempat itu menjadi cerminan kontradiktif bahwa di balik segala kemewahan yang dimiliki oleh kota Manila, terdapat banyak penduduk miskin yang memiliki bentuk kehidupan tidak layak. Kegiatan live-in ini dilakukan bukan untuk menyelesaikan masalah kemiskinan dan ketidakadilan yang terjadi di Navotas, tetapi untuk menumbuhkan rasa empati, kepedulian, dan kesadaran para Jesuit dalam formasi, terhadap masalah-masalah sosial dan kemiskinan yang dihadapi oleh banyak orang.

Selama di Navotas, Bruder Marsono tinggal bersama keluarga Marqit Ingeniero. Ingeniero memiliki jumlah anggota keluarga yang besar. Mereka memiliki 8 orang anak yang masih kecil-kecil. Rumah mereka sangatlah kecil, sehingga tidak muat ketika harus digunakan untuk tidur bersama-sama. Anehnya, meskipun kemiskinan dialami begitu dekat oleh orang-orang Navotas, mereka seolah-olah tidak terlalu memusingkan keadaan itu. Atau, barangkali mereka sudah menerima keadaan itu. Di sela-sela waktu yang ada, mereka gemar untuk berjoget dan bernyanyi, bahkan mengajak para frater dan Bruder yang tinggal di rumah-rumah mereka, untuk ikut serta. Mungkin, itulah satu-satunya cara bagi mereka untuk sejenak lepas dari himpitan persoalan sosial dan kemiskinan yang selalu mereka hadapi.

Setelah satu tahun menjalani masa yuniorat, Bruder Marsono kembali ke Indonesia dan melanjutkan jenjang formasinya dengan menempuh studi Filsafat dan Teologi di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Bruder Marsono dapat menyelesaikan studinya dengan baik, kendati ia pernah mengalami pengalaman tidak enak, sebab harus berpindah program dari Filsafat ke Teologi. Hal tersebut terjadi pada tahun kedua studinya. Akibatnya, di masa akhir studi, ia harus berjuang keras untuk mengambil kembali mata kuliah-mata kuliah yang dulu tidak ia ambil di masa awal studi filsafat. Untunglah Bruder Marsono adalah seorang mahasiswa yang tekun. Dengan ketekunannya tersebut, ia dapat menyelesaikan studi S tepat pada waktunya. Proses formasi pun terus berlanjut. Setelah menyelesaikan studi di STF Driyarkara, Bruder Marsono mendapat perutusan untuk menjalani masa TOK di PIKA, Semarang.

Awalnya Ingin Menjadi Guru

Dalam menuturkan sejarah awal panggilannya sebagai Bruder Jesuit, Bruder Marsono mengungkapkan bahwa cita-cita masa kecilnya adalah menjadi seorang guru. Keinginan menjadi Bruder muncul ketika ia dewasa. Namun, bila kita melihat dengan kacamata saat ini, sebenarnya Bruder Marsono justru meraih kedua cita-citanya. Saat ini, ia menjadi seorang Bruder Jesuit sekaligus seorang guru. Pengalaman mengajar dan mendampingi orang-orang muda di PIKA, dan studinya di bidang pendidikan dan kurikulum, sangat jelas menggambarkan perwujudan cita-cita masa kecil Bruder Marsono.

Bruder Marsono mengingat dua pengalaman dasar yang ia yakini menjadi bagian dari sejarah panggilannya. Masih segar dalam ingatannya, saat ia masih berusia kira-kira 0 tahun, ia sering mengikuti kegiatan Misa di lingkungan dan di gereja. Hal ini sebenarnya agak aneh karena pada saat itu, ia dan keluarganya belum menjadi Katolik. Pengalaman mengikuti misa dan melihat romo yang makan enak setelah misa, menjadi awal ketertarikannya menjadi seorang religius. Ia berpikir, “Wah, kok enak ya menjadi seorang romo, bisa makan enak?”  Muncullah niat dalam hati Bruder Marsono untuk menjadi seperti romo itu. Seiring berjalannya waktu, cita-cita untuk menjadi religius itu pun memudar.

Suatu hari, ketika Bruder Marsono masih duduk di Sekolah Menengah Pertama (SMP), ia diminta untuk menjadi misdinar dalam sebuah Misa pemakaman jenazah. Karena yang meminta adalah ketua lingkungan, ia tidak bisa menolak. Saat itu, ia sungguh-sungguh merasa grogi dan badannya bercucuran keringat karena takut. Bagi Bruder Marsono, menjadi misdinar adalah pengalaman pertama baginya. Sebelumnya, ia tidak pernah berlatih untuk menjadi misdinar. Ia memang sering mengikuti Misa dan melihat teman-temannya menjadi misdinar, namun ia tidak tahu pasti apa saja yang harus dilakukan ketika diminta menjadi misdinar. Dalam Misa itu, ia ditugasi untuk membawa wirug. Karena tidak paham cara memegang dan menenteng wirug, Bruder Marsono tidak tahu bahwa wirug yang dia pegang harus sedikit diayun-ayunkan. Ia mendiamkan saja wirug itu di samping bawah kakinya. Tanpa disadari, wirug itu pun membakar jubah misdinar yang ia kenakan. Bruder Marsono baru menyadarinya ketua lingkungan memberitahunya. Ia pun merasa sangat bersalah dan berjanji dalam hatinya untuk mengganti jubah yang terbakar tersebut.

Dua pengalaman masa kecil di atas ternyata membekas cukup kuat dalam diri Bruder Marsono hingga ia dewasa. Ia merasa gelisah dan bertanya-tanya serta berusaha untuk mencari informasi tentang cara hidup membiara. Kegelisahan itu pun terus berlangsung, bahkan ketika ia sudah bekerja di Jakarta. Kebetulan, saat itu ia bekerja dan tinggal di salah satu paroki yang dikelola oleh Jesuit. Dari sinilah, titik terang untuk memulai proses hidup membiara terbuka bagi Bruder Marsono. Di paroki itu, oleh seorang pendamping Promosi Panggilan Serikat Yesus,  Bruder Marsono diberi sebuah buku yang berjudul “Sisi Sepasang Sayap: Wajah-wajah Bruder Jesuit”. Dengan penuh minat, Bruder Marsono pun membaca buku yang diberikan kepadanya. Setelah membaca buku yang berisikan kisah-kisah panggilan para Bruder Jesuit tersebut, ia berkata dalam hatinya dengan bahasa gaul Jakarta, “Ini kok gue banget!” Sejak saat itulah, Bruder Marsono menyatakan niatnya untuk menjadi seorang Bruder Jesuit.

Dalam salah satu permenungannya, Bruder Marsono sempat berpikir, apakah pilihan hidup yang ia tekuni saat ini adalah jawaban dari kata hatinya yang pernah terlontar ketika tanpa sengaja ia membakar jubah misdinar itu? Saat itu, ia berkata hendak mengganti jubah yang terbakar karena ulahnya. Hidupnya saat ini barangkali adalah pemenuhan janji hati yang pernah dilontarkannya.

Catatan: Saat ini Bruder Fransiskus Xaverius Marsono, SJ menjalani perutusan studi khusus Paska Sarjana pada Bidang Pendidikan dan Kurikulum di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) di Bandung.