Ignatius Ulrig Jumeno, SJ

Ignatius Ulrig Jumeno, SJ

Toyota Hardtop Bruder Har

Siapa pernah menyangka panggilan menjadi seorang Bruder Jesuit bisa berawal dari rasa kagum terhadap mobil Hardtop? Bruder Jumeno merasa terpanggil karena rasa kekaguman masa kecilnya terhadap sebuah mobil Hardtop yang dikendarai Bruder Har — panggilan akrab Bruder Haryono, SJ.

“Ketika masih kanak-kanak, keinginanku untuk menjadi Bruder termotivasi oleh kedatangan seorang Bruder yang mengajar agama di kampungku. Beliau nampak gagah duduk di belakang kemudi mobil Hardtop yang ia kendarai. Sambil berjabatan tangan, beliau memperkenalkan diri dan menyebut namanya Bruder Haryono. Walaupun tidak terlalu sering berjumpa, ada beberapa pengalaman mengesan dan tak terlupakan yang aku alami saat berjumpa dengan beliau. Suatu hari, Bruder Har datang ke stasiku dengan mengendarai sebuah mobil Hardtop dan mobilnya terperosok di parit. Hal tersebut terjadi karena kondisi jalan di desaku saat itu belum beraspal. Maka, sehabis hujan, jalanan menjadi licin dan berlumpur. Umumnya, jika sebuah mobil sudah masuk ke parit, para sopir akan mengalami kesulitan untuk mengeluarkan mobilnya. Namun, hal tersebut tidak terjadi pada mobil yang dikendarai oleh Bruder Har. Mobil itu dengan mudah bisa keluar dari parit tanpa harus didorong oleh banyak orang seperti mobil-mobil lainnya. Sebagai seorang anak kecil, aku merasa heran melihat peristiwa tersebut. Aku sering membandingkan dengan mobil-mobil lainnya yang sering menjadi tontonan gratis karena mengalami selip dan sulit berjalan. Mengapa mobil itu begitu mudah keluar dari parit, padahal mobil lain yang pernah aku lihat, tidak semudah itu? Hal tersebut tampak seperti keajaiban bagiku. Aku merasa Bruder yang mengendarai mobil itu sangat hebat, seperti seorang pahlawan. Pengalaman ini adalah pengalaman awal yang menurutku paling mengesan, berjumpa Bruder Har dan mobil Hardtop yang dikendarainya”.

Perjumpaan selanjutnya dengan Bruder Har dan mobilnya selalu menjadi hal yang mengagumkan bagi Bruder Jumeno kecil. Imajinasi dan kekagumannya terhadap mobil Hardtop begitu hidup dan berapi-api. Ia menuturkan bahwa di waktu-waktu kunjungan yang lain, pada saat Bruder Har memberikan pelajaran agama di rumahnya, Bruder Jumeno dengan penuh semangat menyambut kedatangannya. Apa yang ingin disambut Bruder Jumeno pertama-tama bukanlah sosok Bruder Har, tetapi kehadiran mobil Hardtop-nya. Pada saat para orang tua asyik mengadakan pertemuan dengan Bruder Har, Bruder Jumeno pun menikmati keasyikannya bermain dengan mobil Hardtop yang sedang diparkir itu.

Karena terlalu asyik bermain, tak terasa acara pertemuan sudah selesai, sedangkan Bruder Jumeno masih saja asyik bermain duduk di dalam mobil. Karena mobil sudah mau dibawa pulang oleh yang empunya, ia pun diminta turun dari mobil tersebut. Seketika, wajahnya pun menjadi suram karena harus berhenti bermain. Melihat wajah cemberut, ayah Bruder Jumeno berusaha untuk menghiburnya dengan mengatakan, “Yen mung arep numpak mobil wae gampang kok le, dadi Bruder wae mengko lak ana sing maringi” (kalau hanya ingin punya mobil saja gampang nak, jadi Bruder saja, nantikan ada yang memberinya). Mulai saat itulah, Bruder Jumeno termotivasi ingin menjadi Bruder seperti Bruder Har agar bisa punya mobil.”

Bruder-Ulrig-3Dari Bawen ke Girisonta

Membayangkan proses awal panggilan hidup Bruder Jumeno mengundang kita untuk tersenyum. Ternyata, benih panggilan bisa juga tumbuh dan berkembang melalui peristiwa yang sungguh-sungguh sederhana. Barangkali, kita tidak menduga bahwa Tuhan bisa menyentuh hati seseorang dengan peristiwa seperti itu. Sentuhan awal tangan Tuhan ini ternyata tidak luntur begitu saja seiring berjalannya waktu. Bahkan, di kemudian hari, apa yang dibayangkan oleh Bruder Jumeno kecil untuk memiliki mobil, sungguh-sungguh menjadi kenyataan dalam bentuk yang berbeda.

Walaupun mengalami pasang surut, benang merah panggilan Bruder Jumeno untuk menjadi seorang Bruder terus tersambung. Saat remaja, ia kembali ingat bahwa ia pernah bercita-cita untuk menjadi seorang Bruder. Dalam sebuah rekoleksi Orang Muda Katolik (OMK) di Goa Maria Kerep, Ambarawa, Bruder Jumeno kembali teringat akan benih panggilannya. Di akhir rekoleksi, semua peserta diminta untuk menulis ujub doa. Saat itu, Bruder Jumeno menulis doa tentang cita-citanya untuk menjadi seorang Bruder. Entah apa gerangan yang membuat Bruder Jumeno berani menulis doa tersebut. Ujub doa itu ditulis dalam secarik kertas yang kemudian dibakar bersama dengan milik temannya yang lain. Peristiwa itu terasa sakral sekali. Sebelum membakar ujub doanya, Bruder Jumeno dan teman-temannya membuat lingkaran, berdoa sambil bergandengan tangan. Ketika telah menjadi seorang Bruder Jesuit, Bruder Jumeno sering mengenang peritiwa tersebut. Hatinya bertanya, apakah mungkin panggilannya menjadi Bruder saat ini adalah jawaban doa saat itu? Jika memang benar demikian, tentu semua itu tidak terlepas juga dari pertolongan Bunda Maria yang saat itu ia jadikan sebagai perantara doanya.

Bruder Jumeno tak segera yakin terpanggil untuk menjadi seorang Bruder. Dalam perjalanan hidup selanjutnya, Bruder Jumeno lupa bahwa dua pengalaman tonggak telah ia miliki. Masa remaja dihabiskan Bruder Jumeno dengan menempuh pendidikan di SMK Kristen di Salatiga dan bekerja. Apa yang kemudian tersisa dalam angan-angan Bruder Jumeno adalah semangat bekerja, mengumpulkan uang dan modal untuk membantu keluaraga dan adik-adiknya. Ia mencoba mengubur cita-cita mulia yang pernah terbersit dalam pengalaman dan doanya. Ia mencoba meyakinkan diri bahwa ia tidak layak untuk menjadi seorang Bruder. Ia merasa bahwa ia hanyalah orang sederhana dan kemampuan akademiknya biasa-biasa saja.

Rupanya, apa yang dipikirkan dan dirancang oleh Bruder Jumeno tidak berjalan seperti yang ia bayangkan. Tuhan melalui cara-caranya-Nya yang tak terpahami, menggiring Bruder Jumeno untuk setapak demi setapak menjalani proses perjalanan panggilannya. Dari tempat asalnya, Bawen, Bruder Jumeno dipersiapkan Tuhan untuk menjalani formasi awalnya untuk menjadi seorang Bruder Jesuit di Girisonta. Semua itu berawal ketika Bruder Jumeno bekerja dalam proyek pengaspalan jalan selepas ia lulus SMK. Salah satu tugasnya dalam proyek tersebut adalah menjadi operator atau supir mesin silinder, loader, dan forklift.

Pada tahun 1999, Bruder Jumeno dan beberapa pekerja proyek pengaspalan diminta untuk mengaspal jalan di kompleks halaman depan Novisiat St. Stanislaus Girisonta. Jika kita saat ini berkunjung ke Novisiat Girisonta dan melihat jalanan beraspal di tempat itu, itulah karya dari Bruder Jumeno dan teman-temannya. Karena mengetahui bahwa pengaspalan itu dilakukan di kompleks gereja, Bruder Jumeno, dengan semangat makantar-kantar (berapi-api), bekerja dengan sungguh-sungguh. Ia sadar, bahwa dengan melakukan itu, ia membantu Gereja. Tanpa disadari oleh Bruder Jumeno, semangat dan ketekunan yang ia miliki ini dilihat dan diamati oleh Romo Yusuf Suharyoso, SJ. Maka, enam bulan setelah proyek pengerjaan jalan itu selesai, Bruder Jumeno diberi tawaran untuk bekerja di bengkel dan kemudian menjadi supir di Novisiat Girisonta. Barangkali Rm. Suharyoso berpikir, kalau mesin silinder saja bisa dioperasikan oleh Bruder Jumeno, tentu ia juga bisa nyetir mobil. Ternyata, dugaan Romo Suharyoso salah. Bruder Jumeno belum bisa nyetir mobil saat itu. Apa jawaban Bruder Jumeno ketika ia ditawari untuk menjadi seorang supir? Jika kita mengingat kisah awal panggilannya, dengan mudah kita bisa menebak. Ya, dia mau menjadi supir di novisiat. Dengan cepat, Bruder Jumeno belajar nyetir dan mahir melakukan itu.

Proses bagaimana Tuhan menggiring Bruder Jumeno dari Bawen ke Girisonta hingga menjadi karyawan di Novisiat Girisonta adalah sebuah proses yang mungkin tak disadari oleh Bruder Jumeno. Namun, semua itu tampak jelas jika dilihat saat ini. Di Novisiat, Bruder Jumeno sering berjumpa dengan para novis dan formator. Ia menjadi tahu sedikit banyak tentang proses formasi yang terjadi di Novisiat. Bahkan, ia selalu mengikuti pertandingan sepak bola yang diadakan di lapangan bola belakang kompleks Novisiat. Ia pun juga sering diajak para formator — Romo Magister dan Socius — untuk mengunjungi para novis yang menjalani probasi luar rumah. Di tempat kerja inilah, ketertarikan Bruder Jumeno untuk menjadi seorang Bruder kembali berkobar. Namun, ia mencoba memadamkan dengan mengatakan dalam diri bahwa ia tidak mungkin bisa menjadi seorang Bruder Jesuit. Gambaran bahwa untuk menjadi seorang Bruder Jesuit itu harus pintar, kembali memadamkan kobaran api panggilannya.

Suatu ketika, dalam sebuah obrolan dengan Romo Magister, Romo Priyo Poedjiono, SJ, Bruder Jumeno memberanikan diri untuk mengungkapkan bahwa ia pernah memiliki cita-cita untuk menjadi seorang Bruder Jesuit. Namun, ia mengurungkan niatnya karena melihat berbagai “kekurangan” yang ia miliki. Rupanya, obrolan itu ditangkap serius oleh Romo Magister. Singkatnya, Bruder Jumeno pun akhirnya mengikuti retret panggilan dan untuk selanjutnya didampingi oleh Romo Budi Gomulia SJ. Setelah melalui jalan panjang pergumulan, Bruder Jumeno akhirnya diterima di Novisiat St. Stanislaus Girisonta, untuk memulai formasi awalnya sebagai seorang Bruder Jesuit. Mengingat semua kisah ini, tentu kita ingat tentang bagaimana Allah yang sebenarnya berkehendak dan menggiring Bruder Jumeno dengan cara-cara-Nya yang khas. Ini adalah fase awal dari jawaban doa yang pernah dimohonkan oleh Bruder Jumeno, sebelum fase-fase lain dalam perjalanan sejarah panggilannya.

Menjadi Jesuit: Rahmat sekaligus Pilihan

Setelah 10 tahun hidup sebagai Jesuit, Bruder Jumeno dapat mengatakan bahwa menjadi Jesuit itu rahmat sekaligus pilihan. Bruder Jumeno pertama-tama menyebut panggilannya sebagai rahmat, sebab ia sadar sepenuhnya bahwa ada banyak kekurangan dan tantangan yang ia miliki sebelum bergabung menjadi Jesuit, entah itu dari latar belakang keluarga, pendidikan, dan motivasi yang ia miliki. Namun, semua itu menjadi tidak berarti dan mampu ia lewati. Kemampuan untuk melewati semua tantangan tersebut tidak semata berasal dari kemampuan diri sendiri, melainkan karena rahmat Allah semata. Dengan rahmat Allah itu, Bruder Jumeno dimampukan dan ditopang untuk berani menghidupi pilihan-pilihannya. Selanjutnya, panggilan menjadi Jesuit juga dimaknai sebagai pilihan. Sebab, tanpa adanya kemauan untuk memilih, ia tidak akan pernah mampu menjalani setiap komitmen yang harus ia penuhi ketika menjadi seorang Jesuit.

“Meskipun pada awalnya ada rasa bimbang dan ragu, tetapi pada akhirnya aku berani menjawab, “ya, aku mau”. Rasa takut untuk menjadi Bruder Jesuit memang cukup besar. Bagaimana mungkin aku bisa menjadi Jesuit, wong Jesuit itu terkenal dengan para anggotanya yang pinter-pinter. Mungkinkah aku bisa diterima sebagai Jesuit? Ketika merenungkan kembali cita-citaku untuk menjadi Bruder, sepertinya hal ini tidaklah mungkin. Tetapi, kenyataannya aku diterima dan bisa masuk menjadi seorang Bruder Jesuit. Barangkali, semua itu karena rahmat Allah yang ditawarkan kepadaku. Bagi Allah, segala sesuatu itu tidak ada yang mustahil. Aku bersyukur setelah mengalami berbagai macam pergulatan dan keragu-raguan, akhirnya merasa mantap memutuskan jalan hidup menjadi seorang Bruder Jesuit.”,/em>

Apa yang disampaikan oleh Bruder Jumeno, menggambarkan sejarah panggilannya dengan cukup ringkas, namun mendalam. Belajar dari kisah para Nabi dalam Kitab Suci, mereka pun mengalami hal yang sama. Mereka pernah merasa kecil hati dan tidak yakin akan mampu mengikuti panggilan Allah. Namun, setelah melalui pergumulan panjang, mereka toh mampu menjadi nabi-nabi Allah yang kisahnya dapat kita baca dalam Kitab Suci. Apa yang secara umum menarik dari kisah hidup mereka adalah kesediaan mereka untuk berani memilih, mengatakan “ya”, dan menjalankan kehendak Allah. Selebihnya, rahmat Allah menyertai perutusan mereka. Pengalaman para nabi ini kiranya juga akan menjadi pengalaman yang dialami oleh Bruder Jumeno dalam menjalani dinamika formasi sebagai seorang Bruder Jesuit. Maka, tidak mengherankan bahwa ia berani mengatakan “menjadi Jesuit itu rahmat sekaligus pilihan”.

Kuncinya adalah Ketekunan

Saat ini, Bruder Jumeno menjalani Tahap Orientasi Kerasulan (TOK) di Akademi Tehnik Mesin Industri (ATMI) Cikarang. Di ATMI inilah, Bruder Jumeno memulai karya awalnya untuk belajar berkarya di salah satu karya Serikat Yesus Indonesia. Ia telah mampu melewati proses formasi awalnya di Novisiat (2005-2007) dan studi S1 Filsafat dan Teologi di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara (2007-2011). Rupanya, keyakinan yang ia miliki sebagai Jesuit dengan mengatakan bahwa “Bukan karena aku pintar, melainkan karena aku mau”, menjadi kata-kata ampuh yang mampu mengatasi banyak hal.

Sebagai Bruder Jesuit yang merasa memiliki kemampuan paspasan, Bruder Jumeno memiliki strategi yang mungkin tidak dimiliki oleh banyak orang, yaitu ketekunan dan kemauan untuk belajar terus menerus. Dengan modal ketekunan dan kemauan yang besar itulah, Bruder Jumeno mampu melalui formasi di novisiat bersama teman-teman angkatannya yang memiliki perbedaan usia cukup jauh, yaitu 13 tahun. Ketekunan adalah semangat yang unik. Tanpa disadari, ketekunan bisa menjadi modal yang besar bagi seseorang untuk meraih cita-citanya dalam bentuk apa pun. Ketekunan biasanya menghasilkan buah yang baik. Bruder Jumeno membuktikan hal tersebut dalam formasi novisiat dan filsafat-teologi. Yang kemudian menjadi pertanyaan adalah, apakah sebenarnya Bruder Jumeno tidak pintar? Jika tidak pintar, mengapa ia mampu melewati jenjang formasi yang mengandaikan penguasaan terhadap kemampuan intelektual dan kecerdasan?

Rupanya, Bruder Jumeno tidak sadar ketika mengatakan bahwa ia “tidak pintar”, ia melupakan potensi positif yang ia miliki, yaitu semangat ketekunan dan kemauan untuk belajar terus-menerus. Kedua semangat tersebut adalah semangat yang menjadikan ia pintar dalam bentuk yang lain. Dalam perjalanan selanjutnya, kedua semangat yang dimiliki oleh Bruder Jumeno ini menjadi dominan dan mewarnai kekhasan pribadinya. Saat tulisan ini dibuat, Bruder Jumeno sedang mempersiapkan karya misi yang selanjutnya, yaitu berkarya di tanah misi Papua. Selamat mempersiapkan tugas baru! Tetap tekun dan setia!

Catatan: Saat ini Bruder Ignatius Ulrig Jumeno, SJ sedang menjalani perutusan sebagai Minister pada Kolese Le Cocq d’Armandville. Kolese tersebut meliputi SMA Adhi Luhur (didirikan 1987), Peternakan Babi dan Pertukangan Kayu Alfonsus, Asrama Putra Teruna Karsa dan Asrama Putri Santa Theresia.