Stevanus Prihana, SJ

Stevanus Prihana, SJ

Bukan Bruder “Sakit Jiwa”

Pakem, Yogyakarta adalah tempat asal Bruder Stevanus Prihana, SJ. Di tempat yang sama, terdapat Rumah Sakit Jiwa. Kendati berasal dari tempat yang sama, Bruder Prih bukanlah Bruder Sakit Jiwa, tetapi ia adalah seorang Bruder Serikat Yesus. Bruder Prih tertarik menjadi Bruder Jesuit karena awalnya terkesan bahwa “menjadi Bruder Jesuit itu lebih relax dan menyenangkan, bahkan banyak hiburannya.” Perjumpaan yang intens dengan Bruder Kirja Utama, SJ yang memiliki minat sama dengan dirinya, yaitu “dunia pedalangan”; menumbuhkan benih panggilannya untuk menjadi seorang Bruder Jesuit. Menjadi Bruder Jesuit itu unik. Seorang Bruder Jesuit tetap bisa berkarya bagi sesama, sembari menghidupi hobi dan minat yang mereka miliki. Tak jarang, melalui hobi dan minat yang mereka miliki, mereka bisa lebih banyak membantu sesama.

Kecintaan Bruder Prih terhadap dunia pedalangan ditekuni dengan mengikuti sekolah pedalangan di Habiranda — sekolah dalang di Keraton Yogyakarta. Selama 8 bulan, ia mengikuti sekolah tersebut. Kendati tidak bisa menyelesaikan sekolah pedalangan tersebut secara penuh, Bruder Prih sudah mahir mendalang. Uniknya, pedalangan yang dikembangkan oleh Bruder Prih bukanlah pedalangan dengan lakon wayang klasik, tetapi pedalangan untuk mementaskan wayang Wahyu. Wayang Wahyu memiliki cakupan lebih luas untuk menyentuh sisi kehidupan kebanyakan orang. Peristiwa harian yang terjadi di dalam masyarakat dan kisah-kisah aktual yang terjadi di masyarakat pun bisa dipentaskan dalam sebuah kisah pewayangan. Wayang Wahyu dapat pula mengangkat kisah-kisah yang terdapat Kitab Suci, baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru.

Selain aktif menekuni dunia pewayangan, Bruder Prih juga aktif dalam kegiatan kepemudaan di parokinya. Sebagai pemuda yang penuh semangat dan enerjik, Bruder Prih bersama teman-temannya pernah mengembangkan Biro Perawatan Salak Pondoh. Setelah lama mempelajari dunia salak, Bruder Prih juga mengembangkan budidaya cabai. Usaha ini ternyata berhasil cukup baik sehingga memungkinkan untuk menyewa sawah yang lebih luas untuk budidaya cabai. Mendengar cerita ini, tampaknya agak aneh, sebab Bruder Prih sendiri menempuh studinya di SMEA jurusan Administrasi Perkantoran tahun 1994. Tentu, apa yang ia pelajari di sekolah, sangat berbeda dengan usaha-usaha yang ia kembangkan. Agaknya, bakat untuk berwirausaha dan bertani ini turun ke dalam dirinya secara alami dari orangtuanya.

Bruder Prih adalah seorang Bruder Jesuit yang tergolong masih muda di dalam Serikat Yesus. Ia bergabung dalam Serikat pada tahun 2011. Namun, pergumulan panggilannya telah berjalan cukup lama, yaitu sejak tahun 2006. Sejak saat itu, Bruder Prih sudah mencoba untuk menimbangnimbang; apakah ia memang sungguh-sungguh ingin menjadi seorang Bruder Jesuit. Pengalaman ragu-ragu, cemas, dan tidak jelas, pernah ia alami. Ia juga menimbang cukup dalam ketika menyadari bahwa dengan menjadi Bruder, ia harus meninggalkan orangtua, sawah, ladang, dan wayang-wayangnya. Untuk menegaskan panggilannya, Bruder Prih berziarah dengan berjalan kaki dari Turi ke Goa Maria Sendang Sono. Itulah saat-saat yang penting bagi kemantapan hatinya.

Bruder-Suprih-2Dalang sekaligus “Prodiakon”

Kendati sudah mengenakan jubah dan memperkenalkan diri sebagai seorang Bruder, tetap saja sebagian umat memanggil Bruder Prih dengan sebutan bapak. Panggilan tersebut tidak dipermasalahkan oleh Bruder Prih. “Mungkin tampang saya memang lebih mirip prodiakon daripada seorang Bruder Jesuit”, kata Bruder Prih. Bruder Prih menempuh formasi awalnya di Novisiat ketika ia telah berusia 36 tahun. Usia tersebut jauh berbeda dibandingkan dengan teman-teman novisiatnya. Perlahan namun pasti, Bruder Prih berusaha untuk menyesuaikan diri dengan kehidupan barunya di novisiat. Belajar, membaca, menulis, berefleksi, ia geluti lagi setelah 17 tahun meninggalkan kebiasaan itu. Tentu, ini pengalaman yang tidak mudah.

Di sela-sela kesibukannya menjalani formasi di novisiat, Bruder Prih tetap menekuni hobi lamanya, yaitu dunia pedalangan. Kendati tidak bisa mempraktikkannya, ia merasa cukup dengan menuliskan dan menyanyikan “geguritan” dalam bahasa Jawa. Rupanya, bahasa Jawa ini juga cukup penting di Novisiat, sebab para Frater dan Bruder wajib menguasai bahasa ini. Paling tidak, bahasa Jawa akan sangat bermanfaat ketika mereka harus melakukan kerasulan di stasi-stasi, dengan mendampingi anak-anak, remaja dan orang tua. Kerena kemampuannya menguasai bahasa Jawa, Bruder Prih justru mendapat kesempatan istimewa, yaitu diminta oleh Romo Magister untuk mengajar bahasa Jawa kepada teman-temannya. Kendati sering digoda karena sudah tua dan kadang sering lupa, ia tidak patah semangat. Semangat belajarnya justru tumbuh, apalagi ketika ia menemukan sebuah buku dalam bahasa Jawa karya Romo Henricus Haripranata, SJ tentang St. Yohanes Berchmans. Entah mengapa, ketika membaca buku tersebut, kendati dalam bahasa Jawa dengan ejaan lama, ia merasa bahagia. Dengan membaca buku tersebut, Bruder Prih serasa menemukan penghiburan.

Saat ini, Bruder Prih menjalani masa studi di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta setelah mengucapkan kaul pada 24 Juni 2013. Mungkin ini adalah pengalaman yang tidak mudah dan menimbulkan ketidaknyamanan. Namun, dengan bekal pengalaman formasi di novisiat selama dua tahun, studi tersebut tidaklah menjadi soal. Jika ada pengalaman suka dan duka, itu adalah hal yang wajar. Selain studi, ada banyak kegiatan lain yang bisa dilakukan oleh para Frater dan Bruder, yaitu ikut aktif berkegiatan di paroki dan masyarakat, menjalani adextra atau latihan kerasulan dan tentunya, belajar bahasa dan budaya. Baru-baru ini, Bruder Prih bergabung dengan kelompok karawitan di Paroki St. Ignatius Jalan Malang. Sebagai seseorang yang mencintai dunia pedalangan, musik tradisional Jawa atau gamelan adalah bagian yang tak terpisahkan. Dalam perkenalan dengan para anggota karawitan, Bruder Prih memperkenalkan diri sebagai seorang Bruder Jesuit. Semoga saja di komunitas yang baru ini, ia tidak dianggap lagi sebagai seorang bapak atau prodiakon.

Menjadi Bruder Jesuit: Relevankah?

Menjadi Bruder Jesuit di zaman modern ini adalah sebuah pilihan hidup yang unik dan khas. Ketika Anda menjadi Bruder Jesuit, Anda harus siap untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang menyangkut hidup panggilan Anda. Banyak orang akan bertanya mengapa Anda menjadi Bruder. Bagi Bruder Prih, panggilan menjadi Bruder itu tetap relevan meskipun di zaman yang berbeda. Untuk mengembangkan panggilan Bruder Jesuit, para Jesuit perlu terus kreatif menyiasatinya. Bagi Bruder Prih, kesaksian hidup kita yang commited dan penuh dengan kegembiraan dalam menjalani panggilan adalah salah satu sarana promosi panggilan yang efektif. Akan lain halnya jika seorang Bruder tidak happy dalam menjalani panggilan dan mempromosikannya.

Menurut Bruder Prih, panggilan menjadi Bruder Jesuit dapat dipromosikan dengan cara-cara yang kreatif. Ia menganalogikan, jika ketela hanya direbus saat dijadikan makanan, maka nilai ketela tidak akan terlalu menarik. Namun, dengan cara-cara kreatif, mengolah ketela menjadi kripik, getuk, tape, tepung, bahkan roti, maka ketela akan menjadi bahan makanan yang istimewa. Panggilan menjadi Bruder pun juga demikian. Seseorang yang menjadi Bruder Jesuit harus mampu menunjukkan sisi-sisi keistimewaannya, selain fakta bahwa dia adalah seorang biarawan. Mungkin, teladan hidup Bruder Prih sebagai seorang Bruder Jesuit yang juga sekaligus sebagai seorang dalang, akan menjadi “magnet” yang menarik, sebagai sarana untuk mempromosikan panggilan menjadi Bruder Jesuit kepada banyak orang muda. Atau mungkin, wajah Bruder Prih yang sering dianggap sebagai wajah prodiakon, bisa menjadi daya tarik lain. Jika wajah Bruder Prih yang lebih mirip prodiakon saja bisa menjadi Bruder Jesuit, mengapa tidak dengan banyak pria lajang dan lebih muda dari dirinya?

Catatan: Saat ini Bruder Stevanus Prihana, SJ sedang menjalani perutusan studi khusus pada Seni Pedalangan di Institut Seni Indonesia (ISI) di Yogyakarta.