Yohanes Paulus Sunari, SJ

Yohanes Paulus Sunari, SJ

Pengayuh Sepeda dari Pulutan

Pagi itu ia mengayuh sepedanya dengan penuh semangat. Usaha untuk meraih cita-cita memang tidak mudah. Hal itu harus diperjuangkan. Melewati area pertanian dan hutan, yang sering kali mengalami kekeringan parah, Yohanes Sunari selalu bersemangat menuju sekolahnya, STM Negeri Mesin Produksi, Wonosari. STM Negeri Mesin adalah sekolah kejuruan yang dirintis sejak tahun 1968. Pada tahun 1985/1986, STM Negeri Wonosari memiliki 3 jurusan, yaitu Bangunan, Mesin, Listrik dengan jumlah kelas ada 21 kelas. Pada tahun 2000, nama STM Wonosari diganti menjadi SMK Negeri 2 Wonosari.

Setelah lulus dari STM Negeri Mesin, Sunari pun melanjutkan perjalanan hidupnya. Ia melanjutkan magang di SPM Realino atas rekomendasi Bruder Kirja, SJ. Di tempat itu, ia berjumpa dengan sosok Bruder Purwaatma, SJ. Ia pun kemudian harus meninggalkan Pulutan, desanya yang tercinta. Sepeda kesayangannya pun juga harus ia tinggalkan. Perjumpaan Sunari dengan Bruder Kirja dan Bruder Purwa nantinya memiliki arti tersendiri bagi sejarah panggilan hidupnya.

Kesibukan untuk bekerja dan berlatih di bengkel kerja Realino pun menyita sebagian besar perhatian Sunari. Di tempat itu, ia mengasah kemampuan dan ilmu yang pernah ia terima di STM Negeri Mesin.Dunia pelajar dan dunia kerja tentu dirasakan berbeda olehnya. Latar belakang kejuruan yang ia miliki membantu banyak dalam ia bekerja. Namun, tak sedikit pula “ilmu dan hal baru” yang ia peroleh dari dunia kerja bengkel Realino. Kerja keras, ketelitian, dan ketekunan adalah hal wajib ia kuasai.

Bruder-Sunari-2Tuhan Menyelenggarakan Segala Sesuatu

Keputusan untuk menjadi seorang Bruder Jesuit bukanlah keputusan yang mudah diambil. Ketika seseorang memutuskan meniti jalan panggilan ini, ia harus sudah siap menghadapi berbagai tantangan yang mungkin terjadi. Tantangan-tantangan tersebut bisa terasa ringan atau sebaliknya, berat. Seturut penuturan Bruder Purwa, Sunari pernah mengalami pergumulan di saat awal hendak memilih panggilan menjadi Bruder Jesuit.

Kegelisahan yang saat itu ditangkap oleh Bruder Purwa adalah soal keadaan keluarga dan tanggung jawab yang dimiliki oleh Sunari sebagai anak sulung. Seandainya Sunari memutuskan untuk menjadi seorang Bruder Jesuit, tentu ia tidak bisa membantu orangtua dan adikadiknya. Kegelisahan ini diceritakan Sunari kepada Bruder Purwa yang saat itu memang menjadi pendamping bagi orang-orang muda di Realino.

Mendengarkan pergumulan yang disampaikan oleh Sunari. Bruder Purwa sempat pula tertegun. Ia memahami betul pergumulan yang dialami oleh Sunari. Ia menemukan kebenaran dari alasan kegelisahan yang dialami Sunari. Saat itu, tidak banyak nasihat yang bisa disampaikan oleh Bruder Purwa. Ia dengan ringkas mengatakan bahwa “ketika kita menjadi seorang Bruder Jesuit, kita memang akan meninggalkan keluarga kita, tapi percayalah bahwa Tuhan tidak akan tinggal diam. Ia menyelenggarakan segala sesuatu, termasuk melengkapi kekurangan yang mungkin akan dihadapi keluarga dan adik-adikmu.” Kata-kata yang disampaikan oleh Bruder Purwa tersebut cukup menyejukkan hati Sunari. Suasana hatinya pun pelan-pelan berubah. Ia merasa lebih mantab dengan niatnya yang semula untuk menjadi Bruder Jesuit. Ia pun kemudian menjalani proses pendampingan untuk mempersiapkan diri masauk Novisiat Serikat Jesus di Girisonta.

Tanggal 1 juli 1994 adalah hari yang bersejarah bagi Sunari. Saat itulah ia memulai masa Novisiat. Ia beruntung, kala itu ada satu  novis lain yang juga tertarik untuk menjadi Bruder Jesuit. Ia adalah Bruder Bambang Genturjati, SJ. Bersama Bruder Bambang, Br Sunari pun ikut mewarnai dinamika panggilan para novis Serikat Jesus. Seperti para Jesuit lainya, Bruder Sunari menjalani masa novisiat selama dua tahun.

Trubusnya Panggilan

“Seminaris di Jakarta adalah “TRUBUS di tengah kota metropolis”. Trubus artinya bibit tanaman yang bersemi. Seminaris adalah trubus yang terpilih diantara belantara kehidupan metropolis. Suatu kebangaan bagi seminaris mempunyai wadah untuk terus berkembang dan menghasilkan buah. Pendidikan di Seminari adalah suatu proses “merawat dan memupuk serta membasmi hama”. Tetaplah trubus supaya menjadi semakin unggul buah-buahnya. Ayo tetap  semangat.” Demikianlah kata-kata motivasi yang disampaikan oleh Bruder Sunari dalam salah satu kesempatan yang ia miliki kepada para seminaris.

Saat ini, Bruder Sunari berkarya di Seminari Menengah Wacaca Bhakti. Berkarya di seminari bukanlah pengalaman pertama yang dialami oleh Bruder Sunari. Sebelumnya, setelah menempuh pendidikan di STF Driyarkara, ia pernah pula berkarya di Seminari Menengah Mertoyudan. Di kedua seminari tersebut, ia berjumpa dengan orangorang muda yang secara khusus menempuh pendidikan sebagai calon imam. Di ke dua seminari tersebut, Bruder Sunari berkarya sebagai Ekonom dan Minister. Karya tersebut adalah karya yang sangat penting bagi sebuah seminari. Agar pendidikan di seminari dapat berjalan dengan baik, karya pelayanan Bruder Sunari harus berjalan dengan baik. Oleh karena itu, Bruder Sunari pun selalu berusaha melayani dengan sungguhsungguh. Apa yang harus ia kerjakan, ia pun mengerjakan itu dengan sungguh-sungguh.

Tak mengherankan, beberapa teman Bruder senior mengatakan: “Ya Bruder Sunari itu orangnya cermat, mandiri, bisa mengerjakan macam-macam hal dan bisa diandalkan”. Ciri-ciri semacam itu tentu sangat tepat dan bermanfaat bagi karya pelayanannya saat ini. Dalam hal mengurusi keuangan seminari ia memang dituntut untuk selalu cermat. Sebagai Minister, ia dituntut untuk bisa menjadi pribadi yang mandiri, dapat mengerjakan banyak hal dan diandalkan. Semoga saja, dengan karya pelayanannya saat ini, panggilan Bruder Sunari sebagai Bruder Jesuit juga tetap trubus, sebagaimana ia berharap pula bagi para seminaris.

Catatan: Saat ini Bruder Yohanes Paulus Sunari, SJ menjalani perutusan sebagai Minister pada Kolese Gonzaga dan Seminari Menengah Wacana Bhakti. Bruder Nari  juga sebagai anggota Dewan Moneter Serikat Yesus provinsi Indonesia.