FX Murti Hadi Wijayanto, SJ

Saya penikmat film. Sejak saya menjadi imam, salah satu pekerjaan saya adalah membuat film.

Saya melihat perjalanan formasi saya dalam Serikat Yesus, dan mulai takut menceritakan pengalaman saya. Apakah dunia film bertentangan dengan dunia panggilan religius dan bisa mengganggu panggilan para religius? Jika jawabannya ya, pengalaman saya merupakan contoh buruk perjalanan formasi seorang religius.

Romo Murti sebagai sutradara
Romo Murti sebagai sutradara

Hobi dan Formasi Religius

Formasi saya dari novisiat sampai tahbisan imamat (1987-1998) saya jalani tepat waktu, tetapi sebenarnya selalu ada catatan merah di setiap jenjang formasi saya. Saya selalu dinilai terlalu banyak menonton televisi, dan hasil studi saya tidak terlalu bagus. Untunglah saya masih bisa naik kelas dan lulus. Pada waktu saya belajar filsafat, stasiun-stasiun televisi swasta di Indonesia lahir. RCTI yang pertama. Setahun kemudian SCTV. Lalu TPI dan Indosiar. Perubahan sosial besar-besaran terjadi di Indonesia pada saat itu. Masyarakat Indonesia (termasuk saya) menjadi masyarakat penonton televisi. Banyak orang Indonesia, setelah seharian lelah bekerja, pada malam hari menonton televisi. Tidak seperti para frater yang rajin belajar filfasat, saya senang menonton televisi: siang pulang kuliah, sore setelah membersihkan rumah, malam setelah makan menonton televisi lagi, dan sering tanpa saya sadari sampai larut malam. Terlalu… Seperti orang kecanduan televisi, saya menonton telenovela Wild Rose, sinetron Menghitung Hari, film serial MacGyver, video musik, dan acara-acara lain.

Dalam formasi masa filsafat, para frater Yesuit dididik dengan kebebasan, dan saya memanfaatkan pendekatan ini dengan menyalurkan banyak kesenangan saya. Hobi saya menonton film juga berkembang pada jenjang studi filsafat ini. Saya rajin melihat jadwal film di bioskop. Saya juga membaca resensi-resensi film. Kalau ada nama Dustin Hofmann, Jodie Foster, Al Pacino, Meg Ryan, atau Robert De Niro, menonton filmnya pasti saya jadwalkan. Bila musim film-film nominasi Oscar mulai bermunculan di bioskop, saya pasti mengusahakan untuk menonton. Pada waktu itu, harga tiket bioskop masih terjangkau oleh seorang frater dengan uang sakunya. Kadang saya harus menabung untuk menonton beberapa film. Kadang saya mengajak romo pendamping di rumah kami, yang disebut Pater Unit, bertaruh: yang kalah dalam pertaruhan mentraktir menonton film. Atau pakai modus, kata anak gaul zaman sekarang, supaya ditraktir menonton film oleh teman. Pada waktu itu, saya belum tahu apakah pada suatu saat saya akan membuat film.

Kesenangan menonton film masih terus berlangsung sampai sekarang, tetapi sekarang itu bukan hanya hobi melainkan juga upaya mengikuti perkembangan bagi pekerjaan saya di dunia film.

Selain menonton film, hobi saya juga menonton pertunjukan teater. Dulu di Jakarta, pertunjukan teater sering diselenggarakan di Taman Ismail Marzuki (TIM), dan saya tinggal di Wisma Kramat 7 di belakang Taman Ismail Marzuki. Saya hanya berjalan kaki untuk sampai ke TIM dan menonton film atau pertunjukan teater. Bila Teater Koma pentas, saya pasti menonton. Saya lupa bagaimana saya mendapatkan uang untuk beli tiket menonton teater pada waktu itu, karena tiketnya terlalu mahal bagi seorang frater. Yang jelas sering ada sumbangan dari teman frater, yang juga disumbangi tiket oleh saudaranya atau temannya. Sejak mulai tinggal di Jogja sampai sekarang, saya tidak pernah absen menonton Teater Gandrik.

Saya juga pencinta musik Indonesia. Saya tidak bisa bermain musik, tetapi suka mendengarkan musik dan menyaksikan pertunjukan musik sejak zaman Koes Plus sampai sekarang, zaman Jkt 48. Hati saya gampang sekali disentuh dengan musik. Saya masih ingat, pada waktu masih kecil, saya mendengarkan nyanyian Eddy Silitonga yang berjudul “Mama”. Hati saya sampai ikut pilu. Pada waktu itu, saya sungguh merasa takut kehilangan ibu saya. Anak-anak zaman sekarang mungkin tidak lagi mengenal siapa itu Eddy Silitonga, tetapi lagu-lagunya dulu sangat terkenal. Pada zaman itu, dia setenar Ariel Noah pada zaman sekarang. Pada waktu dia menyanyikan lagu “Jatuh Cinta”, rasanya jatuh cinta itu memang indah sekali, saya sampai tertawa sendiri bila mengingat lagu-lagu Eddy Silitonga.

Saya masih rela menonton lagu-lagu pop di televisi saja, tetapi bila ada pertunjukan musik jazz, saya selalu meluangkan waktu untuk menonton. Dulu setiap Jumat malam ada pertunjukan jazz gratis di Pasar Seni Ancol. Saya bersama beberapa teman frater pencinta musik jazz nongkrong di sana setiap Jumat, apalagi bila musisi yang pentas ialah Elfa Secioria, Karimata, Krakatau, atau Idang Rasjidi dengan penyanyi seperti Ruth Sahanaya, Utha Likumahuwa, atau Trie Utami. Sekarang di Jogja pun, saya tidak pernah melewatkan panggung-panggung jazz di UGM Economics Jazz atau Ngayogjazz, apalagi bila ada Glenn Fredly atau Raisa.

Bagi saya, musik merupakan bahasa kalbu yang bisa langsung menancap di hati. Musik menjadi warna bagi perasaan saya. Kesedihan atau kegembiraan sering tidak terungkapkan dengan kata-kata pada saat mendengarkan musik, tetapi langsung terasa dan dialami. Sering, saya tidak lagi peduli siapa saya, ketika Glenn Fredly menyanyikan lagu yang berirama lincah di panggung, saya ikut berdiri dan menari. Ada kegembiraan yang sangat terasa (nendang banget, kata anak-anak zaman sekarang).

Sayangnya, hal semacam ini tidak pernah saya rasakan di gereja. Banyak lagu liturgi gereja yang bagus, apalagi bila dinyanyikan oleh kor yang bagus juga, tetapi tidak pernah menggerakkan hati saya untuk berdoa. Saya berdoa di gereja karena gereja memang tempat doa, tidak karena lagu menyentuh hati saya dan mengajak saya untuk berlutut dan khusuk berdoa. Para ahli liturgi sering mengatur mana lagu yang boleh masuk liturgi, mana yang tidak boleh, terutama dalam liturgi pernikahan. Anehnya, justru sering saya tersentuh oleh lagu-lagu pop yang dibawakan secara indah oleh kor yang bagus daripada nyanyian kor gereja yang tidak kalah indahnya. Mungkin, ini perkara selera, tetapi bagi saya, lagu-lagu pop itu lebih mendarat, lebih dekat dengan kehidupan nyata, dengan kemanusiaan kita. Bisa jadi, lagu-lagu itu mewakili pengalaman orang yang sedang menikah itu. Nah lagu-lagu mana yang bisa membawa kita kepada Tuhan? Menurut saya bukan lagu-lagu liturgi yang bagus, syahdu, jauh dari pengalaman kemanusiaan kita, melainkan lagu-lagu yang menyentuh hati kita, dekat dengan pengalaman kita. Hati yang disentuh itu akan mengarahkan kita untuk bersimpuh, berdoa, mendekatkan diri kepada Tuhan.

Membaca novel juga menjadi kegemaran saya. Yang paling mengesankan pada waktu studi filsafat adalah serial Musashi. Oleh Pater Unit, saya dipinjami buku-buku ini, yang bagi saya lebih mengasyikkan, bisa membuat saya menjadi betah di rumah, tahan berjaga sendiri di dalam kamar, tidak menonton televisi untuk sementara. Membaca buku-buku filsafat dan teologi selalu membikin saya mengantuk dan tertidur. Pada masa teologi, buku yang masih mengesankan, kuat dalam ingatan saya, adalah Arus Balik. Buku Pramoedya Ananta Toer itu saya sikat habis dalam seminggu karena saya tergoda dan tidak tahan untuk selalu membaca kelanjutannya. Gema buku itu dalam hati saya sangat lama. Saya masih ingat bagaimana Pramoedya menggambarkan strategi perang sapit urang, tetapi saya tidak ingat buku teologi apa saja yang sudah saya baca. Terlalu…

Ketika saya mendapatkan kesempatan kursus komunikasi di Lyon, Prancis, Pater Pierre Babin OMI menyadarkan saya bahwa semua kesenangan saya itu berada di wilayah pengetahuan afektif. Otak kanan menangkap kebenaran melalui perasaan dan pengalaman yang konkret. Inilah dunia gambar dan suara, dunia penceritaan. Berbeda dari dunia buku yang termasuk wilayah pengetahuan kognitif. Kebenaran ditangkap dengan pikiran. Dunia formasi studi saya adalah dunia pikiran, sedangkan dunia hobi saya adalah dunia gelora hati (passion). Dalam diri setiap orang seharusnya keduanya bisa seimbang. Tetapi bisa jadi, keduanya justru saling bertentangan. Bagaimana jika dunia karya kita sebagai religius menyatu dengan dunia hobi kita? Bagaimana jika dunia pikiran, kewajiban, tugas kita dan dunia kesenangan kita saling mendukung? Tentu rasa bahagia yang ada. Dan kebahagiaan itu adalah energi kehidupan, energi pada saat kita bekerja, juga pada saat kita sedang terpuruk. Tetapi bagaimana jika jarak antara kerasulan dan gelora hati kita terlalu jauh? Tentu saja kaul ketaatan menjadi jawabannya. Kaul ketaatan bisa dihayati secara ringan jika kita menerima semuanya dengan hati yang terbuka (legawa), tetapi bisa juga menjadi salib yang terlalu berat untuk dipikul. Dan ini bisa berujung krisis panggilan.

Rm Murti pada proses pembuatan film "Soegija"

Ketika Hobi Menjadi Kerasulan

Pada liburan tahun pertama masa filsafat, saya mengikuti Kursus Teater Rakyat yang diselenggarakan oleh Studio Audio Visual Pusat Kateketik (SAV Puskat) Yogyakarta. Pada tahun-tahun berikutnya, saya selalu terlibat dalam pementasan teater di STF Driyarkara. Menjelang kelulusan masa filsafat, saya mengajukan permohonan untuk menjalani Tahun Orientasi Kerasulan di SAV Puskat, tetapi tidak dikabulkan. Saya ditugaskan di Yayasan Kanisius Cabang Yogyakarta. Saya menerima kenyataan itu dengan gembira, tetapi sejak saat itu, keinginan saya untuk bekerja di SAV Puskat saya matikan. Saya berpikir, setelah tahbisan, mungkin saya kembali ke Yayasan Kanisius.
Hobi menonton film dan musik masih terus berlangsung. Teman-teman saya adalah guru-guru Kanisius yang muda. Mereka tinggal di asrama Bintaran, Yogyakarta. Pada malam hari, saya pergi bersama mereka ke bioskop Senopati, yang sekarang sudah menjadi Taman Pintar, menonton film-film Indonesia seronok zaman Inneke Koesherawati sebelum memakai jilbab. Terlalu… Juga pada waktu itu, saya sering menonton Dangdut Purawisata bersama guru-guru muda itu. Saya menikmati kebersamaan dengan rakyat biasa yang cenderung sederhana. Menarik mengamati mereka menonton film sambil teriak-teriak. Film diteriaki. Lucu! Saya kaget karena di tempat-tempat seperti itu saya juga berjumpa dengan frater-frater dari Kentungan. Ternyata mereka diminta untuk melakukan riset, tugas mata kuliah Sosiologi dan Antropologi. Saya menjadi tenang. Kalau ada yang bertanya, saya akan menjawab sedang meneliti dampak film seronok bagi masyarakat kecil. Terlalu… Itu masa tergila dalam jenjang formasi saya.

Ketika mulai masuk studi teologi, hidup saya mulai dikhususkan lagi untuk bersiap diri menjadi imam. Yang paling mengejutkan bagi saya, menjelang tahbisan imam, saya dipanggil oleh Pater Provinsial. Dia akan mengutus saya untuk mencoba bekerja di SAV Puskat. Pada waktu itu, para pembesar ingin tahu apakah hobi saya menonton televisi itu konsumtif atau produktif. Bagai disambar geledek, saya hanya berkata, “Siap!” Ada kebahagiaan sekaligus ketakutan yang tak terkatakan. Cita-cita yang sudah saya kubur harus saya bangun kembali. Saya juga cemas, kalau saya diberi kesempatan ini apakah saya bisa benar-benar produktif. Jangan-jangan saya memang konsumtif dan hanya bisa menjadi penikmat. Pikiran itu terus mengganggu sampai saya tidak bisa tidur pada malam harinya.

Sampai saat saya menulis kisah ini, tanpa terasa, saya sudah berkarya di SAV Puskat selama 17 tahun dan belum pernah dipindahkan dari dunia yang saya senangi ini. Ada situasi saling menguntungkan antara kehidupan pribadi saya, institusi karya dan Serikat. Sebagai pribadi, saya bahagia. Tidak ada pertentangan antara kerasulan dan kesenangan saya. Kalau pun ada masalah di tempat karya saya, saya mencoba memecahkan masalah-masalah di tempat kerja tidak dengan berat hati.

Kebahagiaan juga membawa perubahan-perubahan dalam kehidupan saya ke arah yang lebih baik. Boleh percaya atau tidak, sejak bekerja di SAV Puskat, proporsi waktu saya menonton televisi justru menurun tajam. Artinya, sekarang saya bisa memandang televisi secara seimbang. Saya bukan lagi orang yang gila televisi. Saya semakin selektif terhadap program televisi yang saya tonton. Bekerja di dunia televisi bisa menjadi obat mujarab bagi orang yang sakit “demam televisi”. Puluhan film sudah saya produksi. Dengan bangga tetapi tetap harus rendah hati, saya bisa mengatakan kepada diri saya bahwa saya produktif. Saya bisa membuktikan kepada para pembesar saya, kepada Serikat dan kepada institusi karya bahwa saya produktif. Saya berkarya dengan gelora hati, maka insya Allah panggilan saya sebagai Jesuit terjaga, dan pekerjaan lancar. Orang-orang yang bekerja bersama kita juga bisa tertular aura kebahagiaan ini. Bagaimana pun, orang lebih senang bekerja bersama orang yang gembira daripada orang yang selalu tampak sedih dan marah, penuh keluhan dan protes.

Lentera Jiwa

Gagasan mengenai bekerja dengan gelora hati tidak lagi asing dalam dunia profesional. Sekarang ini banyak profesional muda yang merancang kantornya sedemikian hingga kantor menjadi tidak seperti kantor yang serius, tetapi seperti café, art gallery, atau bahkan seperti tempat bermain. Perubahan-perubahan ini dibuat supaya orang yang berangkat kerja merasa seperti orang yang mau bermain, menyalurkan kesenangannya, pekerjaan jauh dari kesan formal dan kaku. Orang yang kerasan dengan pekerjaannya akan bekerja secara lebih cepat dan efektif.
Lagu “Lentera Jiwa” yang dipopulerkan oleh Nugie syairnya berisi pencarian lentera jiwa yang akan menuntun kita untuk menemukan karya yang sesuai dengan gelora hati kita. Dalam video klipnya digambarkan banyak orang yang mendapatkan pekerjaan yang jauh dari bidang ilmu yang dipelajarinya di sekolah formal. Mereka justru sukses, bahagia, karena mereka bekerja dengan gelora hati mereka.

Kita adalah manusia-manusia pencari kebahagiaan. Apa lagi yang perlu dicari oleh orang yang sudah menemukan kebahagiaan?

F.X. Murti Hadi Wijayanto SJ

Imam Jesuit, insan perfilman

Catatan:

  • Saat ini Romo Murti sedang menjalani perutusan studi di International School of Cinema, Paris
  • Tulisan ini dimuat di Majalah ROHANI Februari 2015. dimuat ulang atas izin redaksi