CAFE PUNA: CARPE DIÉM ! NIKMATILAH HARI INI !

CAFE PUNA: CARPE DIÉM ! NIKMATILAH HARI INI !

Pada tanggal 16 November 2017 yang lalu, para frater dan bruder Skolastik SJ Unit Pulo Nangka Timur mengadakan kegiatan Cafe Puna. Tema yang diusung ialah “Carpe Diem! Nikmatilah Hari Ini!” yang menjelaskan langkah kedua dan ketiga dari Examen Conscientiae.

 

Langkah Kedua Examen[1]

Memohon Rahmat

Oleh Gerald Lukwe, S.J.

Pada langkah pertama yang dipresentasikan di Café Puna Mei lalu, kita sudah mendapatkan pemahaman bahwa rasa “syukur” adalah pusat relasi antara Tuhan dengan manusia. Dengan bersyukur dan berterimakasih, kita mengingat cinta, rahmat, dan kehadiran Tuhan dalam hidup kita. Kini, langkah kedua dari Examen adalah “memohon rahmat”.

Tahap ini dapat dilakukan secara sederhana seakan-akan kita berbicara kepada Tuhan dan bertanya, “Ya Tuhan, apakah yang hendak Engkau tunjukkan padaku dari pengalaman hari ini? Apa yang menurut-Mu perlu kulihat dari hariku?”[2] Berangkat dari pertanyaan tersebut, kita dapat melahirkan kesadaran bahwa semua hal yang kita alami bergantung pada kehendak dan penyelenggaraan Tuhan. Dengan demikian, semua hal yang kita alami dapat dipandang sebagai rahmat Tuhan (“It is all about something that God does. It is all about grace…”). Orang yang sudah memahami hal ini akan merasakan buah dari Examen dalam hidupnya (fruitful Examen).

Pemahaman bahwa semua hal terjadi dengan rahmat Tuhan bukan berarti bahwa usaha manusia kita tidak berguna sama sekali. Ketika seseorang melakukan Examen dengan cukup tekun dan rutin, ia akan semakin merasakan bahwa usaha manusiawi tanpa rahmat Tuhan dapat mengurangi kenikmatan dalam mencecap buah pengalaman harian. Wawasan dan kekuatan transformatif[3] sebagai buah dari Examenhanya bisa terjadi lewat karya rahmat Tuhan yang ada dalam diri kita. “Karena itu, dalam Examen,sesudah langkah pertama (rasa syukur) dan sebelum langkah ketiga (melihat kembali pengalaman hidup selama sehari), Santo Ignasius mengundang kita untuk berdoa kepada Tuhan dengan rendah hati untuk meminta rahmat dari-Nya. Hanya rahmat Tuhan yang bisa membuat Examen kita berbuah.”[4]

Di langkah kedua, kehendak (desire) yang sudah penuh dengan rasa syukur (langkah pertama) menjadi sebuah permohonan (petition) dari hati. Kita memohon kepada Tuhan supaya rahmat-Nya (grace) menolong kita agar menyelaraskan segala keinginan dan kehendak kita (wish and desire) dengan kehendak-Nya sendiri. Dengan kata lain, ada 2 rahmat yang kita mohonkan: rahmat pemahaman (understanding) yang membuka jalan mencapai rahmat kebebasan (freedom).

Di langkah kedua, kita berdoa untuk pemahaman yang mendalam akan karya Tuhan yang konkret dalam hari kita. Selain itu, kita juga meninjau gerak-gerak batin apa saja yang terjadi dalam diri kita.Secara khusus, kita memperhatikan gerak batin yang melawan karya Tuhan, supaya kita dapat bertindak lebih tepat dalam mengatasi semua hal yang menghalangi kebebasan kita untuk menumbuhkan relasi kita dengan Tuhan.[5]

Contoh 1. Memohon Terang dan Kekuatan

 Stella adalah seorang mahasiswi. Imannya kepada Kristus sangat kuat dan ia mempunyai keingingan untuk semakin menumbuhkan relasinya dengan Tuhan. Berbekal keinginan itu, ia meminta pastor mahasiswa untuk menjadi pebimbing rohaninya.

Ia telah mempraktikkan Examen sejak 6 bulan yang lalu. Ia mengalami Examen sebagai cara baru menemukan Tuhan dalam kesehariannya. Akan tetapi, baru-baru ini, ia mengalami sebuah kesulitan dalam Examen yang ia sendiri tidak pahami. Ia lalu berbicara dengan pembimbing rohaninya. Pelan-pelan ia mulai memahami bahwa ada sesuatu di dalam dirinya yang ingin menolak kedekatan baru yang ia rasakan dengan Tuhan. Ia tidak mengerti bagaimana caranya ia bisa berdamai dengan perasaan itu.

Seperti biasanya, Stella menghabiskan malamnya dengan studi di perpustakaan. Karena waktu dan tempat itu nyaman baginya, ia sekaligus melakukan Examen tepat sebelum memulai studinya. Ia mengingat kembali rahmat Tuhan dalam sehari dan ia bersyukur kepada Tuhan atas rahmat dan cinta yang boleh dirasakannya. Sebelum Stella mulai untuk melihat kembali peristiwa-peristiwa dalam hidupnya selama sehari, ia memohon kepada Tuhan rahmat terang dan keterbukaan dalam Examen-nya.

Stella menyatakan keinginannya kepada Tuhan. Ia ingin agar relasi yang telah terjalin di antara mereka menjadi lebih mendalam.Ia juga mengungkapkan bahwa ia tidak memahami apa yang tengah terjadi di dalam dirinya. Ia memohon rahmat untuk memperoleh pemahaman rohani akan tegangan yang terjadi di dalam dirinya—keinginan untuk tetap menjalani relasi yang mendalam dengan Tuhan dan rasa penolakan yang muncul sekaligus. Ia percaya bahwa Tuhan akan menolongnya mengatasi penolakan yang ada dalam dirinya.

Lalu Stella teringat akan kisah si buta Bartimaeus.Ia berdoa berkali-kali dalam hatinya menggunakan kata-kata yang diserukan Bartimeus, “Yesus, anak Daud, kasihanilah aku!” (Mrk 10: 47). Berdoa dengan kata-kata itu, Stella merasakan sebuah harapan baru bahwa Tuhan akan menolong ketika ia melihat kembali harinya. Dengan ini, Stella sudah mengalami langkah kedua dalam Examen.

Contoh 2. Memohon Kebijaksanaan Roh Kudus

Rita sudah menjadi biarawati selama30 tahun. Rita sudah rutin berdoa Examen harian. Baginya, Examen menumbuhkan kepekaannya akan cinta Tuhan.Ia telah mendapatkan sebuah cara untuk melihat peran Tuhan di dalam kesibukkannya setiap hari.

Seperti biasanya, sesudah karasulan, Rita berkumpul dan makan malam bersama dengan suster-suster lain. Sesudah makan bersama, Rita duduk dalam kapel dan memulai doa Examen malam. Ia bersyukur kepada Tuhan atas cinta dan rahmat yang ia alami di hari siang (inilah langkah pertama). Lalu Rita memohon terang Roh Kudus untuk memanfaatkan waktu rohani ini sebaik mungkin. Dengan rendah hati, Rita membuka diri dan memohon rahmat kebijaksanaan supaya ia bisa melihat kembali gerak-gerak batin dalam hidupnya. Dia meminta Roh Kudus untuk menjadi kebenaran dan kekuatan dalam hatinya ketika ia melakukan doa Examen. Dengan hati penuh percaya, Rita sudah mendoakan langkah kedua Examen.

Melatih Langkah Kedua

Buah rohani dari Examen setiap hari amat ditentukan oleh rahmat yang dimohon melaluinya. “Examen lahir dari api semangat untuk bertumbuh dalam cinta akan Tuhan. Examen dipelihara oleh keberanian untuk terus-menerus mengusahakan transformasi moral dan rohani setiap hari. Dan, Examen mendorong pertumbuhan rohani ketika dilatih setiap hari dengan kesetiaan.”[6] Dengan Examen kita belajar meneliti gerakan-gerakan roh dalam hari kita dan tanggapan kita atas gerakan-gerakan tersebut. Tanpa kebijaksanaan dan cinta dari Roh kudus, tidak ada orang yang bisa berharap bahwa latihan Examen sehari-hari mampu berbuah seperti yang kita dambakan. Karena itu, langkah kedua Examen menjadi penting sekali.

Langkah kedua menanamkan pada Examen rasa harapan yang “hangat dan kaya”.[7] Dengan memohon rahmat, kita yang miskin membuka diri kepada Allah yang mahakaya. Kita berharap supaya Tuhan mengisi kekayaannya ke dalam hati kita. Kalau kita masih berhadapan dengan kesulitan-kesulitan, kita akan dibantu dengan langkah kedua ini yang memang disiapkan oleh Santo Ignasius sebagai solusi dasar atas semua kesulitan. Kuncinya adalah bahwa kita dengan rendah hati mau memohon rahmat dan cinta Tuhan yang akan memungkinkan segala hal.

Dalam langkah kedua Examen ini, Santo Ignasius mendorong kita untuk memohon terang dan kekuatan. Bagaimana kita memilih cara konkret untuk memohon rahmat dalam langkah kedua adalah keputusan pribadi kita masing-masing sesuai dengan cara yang kita rasa paling membantu.[8] Dari contoh Stella, kita bisa melihat bahwa Stella membutuhkan waktu khusus di langkah kedua dan karena itu ia akan mengambil waktu lebih lama dari pada hari-hari lain. Dengan Rita, langkah kedua menjadi saat dimana ia dapat merasakan kedamaian dan harapan sebelum melanjukan ke langkah ketiga.

Latihan Examen berkali-kali (ongoing pratice) akan mengarahkan kita untuk menemukan model sendiri dalam mendoakan langkah kedua. Cara pribadi itu dapat berbeda dan berkembang dari waktu ke waktu[9] sesuai dengan rahmat yang dirasa paling dibutuhkan. Dengan rasa syukur (langkah pertama) dan memohon rahmat dari Tuhan (langkah kedua), kita sudah siap untuk melanjutkan langkah-langkah lain dari Examen.

 

DAFTAR PUSTAKA

Gallagher, Timothy M.  The Examen of Prayer: Ignatian Wisdom for Our Lives Today, New York: The Crossroad Publishing Company, 2006

Ignasius Loyola. Latihan Rohani. Terjemahan oleh J. Darminta, SJ. Yogyakarta: Kanisis, 1993.

CATATAN KAKI

[1] Tulisan ini disarikan dan disadur dari buku, Timothy M. Gallagher, The Examen of Prayer: Ignatian Wisdom for Our Lives Today, New York: The Crossroad Publishing Company, 2006, hlm 68-74.

[2] “ …, I ask the Lord: What do you want to show me about this day? What do you want me to see about this day?” Timothy M. Gallagher, hlm.68.

[3]Insight and transformative strength

[4]In the Examen, then, after recalling the gifts of God’s love (step one) and before reviewing the movements of our hearts and our response to them throughout the day (step three), Ignasius invites us to turn to God in humble prayer, asking for the grace that alone can make our Examen fruitful (Spir Ex, 43)” Timothy M. Gallagher, hlm. 68.

[5]In this second step we pray for deeper insight into God’s concrete workings in our day and into any interior movements opposed to those workings, so that we may act more surely in overcoming all that hinders our freedom for growth in our relationship with God. Timothy M. Gallagher, hlm. 69.

[6]Examen is born of a fire of longing to grow in the love of the Lord, is nourished by the courage to seek moral and spiritual transformation day by day in our lives, and fosters spiritual growth when practiced with patient daily fidelity. Timothy M. Gallagher, hlm. 73.

[7]The practice of step two infuses the Examen with a warm and rich sense of hope. Timothy M. Gallagher, hlm. 73.

[8]How we choose concretely to make the petition of step two will be our individual decision, according to what we personally find most helpful. Timothy M. Gallagher, hlm. 73.

[9]Ongoing practice of the Examen will lead us, like Ellen,.. and Rita, to find our own way to pray step two, a way that, like much in the life of prayer, may vary and evolve over time. Timothy M. Gallagher, hlm. 74.

 

Langkah Ketiga Examen[1]

Review

Oleh J. Aditya Christie Manggala, S.J.

Pengantar

Setelah kita memohon rahmat kepada Allah supaya Examen kita berbuah banyak, pada langkah ketiga ini Ignasius mengajak kita untuk “minta pertanggungjawaban dari jiwa, mulai dari waktu bangun sampai pemeriksaan kini, dari jam ke jam atau waktu ke waktu; pertama mengenai pikiran-pikiran lalu kata-kata dan akhirnya perbuatan-perbuatan.”[2] Dengan kata lain, dalam langkah ketiga ini, kita diajak untuk melihat bersama dengan Tuhan segala isi pengalaman hidup kita dengan seksama dan penuh perhatian.

Pengalaman Ignasius dan Langkah Ketiga

Pertama-tama untuk memahami langkah ketiga ini, kita dapat menimba inspirasi dari kisah Santo Ignasius. Sebagai Jenderal Serikat Yesus Ignasius harus menetap di Roma. Secara khusus ia mempunyai tugas untuk menyelesaikan Konstitusi Ordo Serikat Yesus, sebagai prasyarat berdirinya suatu ordo baru. Pada saat di Roma Ignasius mempunyai kebiasaan ketika ingin memutuskan segala hal yang penting, ia mencari peneguhan melalui Ekaristi. Bahkan untuk menyambut Ekaristi suci ini Ignasius mempunyai kebiasaan melakukan pembedaan roh yang dialaminya sebelum, selama dan sesudah Ekaristi, hal ini dimaksudkannya untuk mengetahui kehendak Tuhan.

Berdasarkan catatan hariannya tanggal 12 Maret 1544, setelah Ekaristi, Ignasius tidak menemukan suatu hiburan rohani yang biasanya ditandai dengan rahmat air mata. Perasaan desolasi yang dialami Ignasius ini menimbulkan pikirandi dalam dirinya yang membuatnya ragu. Seperti pikiran untuk mengubah segala keputusan yang telah dibuat sebelumnya dan memulai lagi proses keputusan. Akan tetapi Ignasius sadar bahwa dalam situasi desolasi ia tidak boleh mengubah keputusan.[3] Alih-alih menuruti pikiran tersebut Ignasius mencari penyebab dari perasaan desolasi ini.[4] Berkat kebiasaannya membedakan dan mencatat gerak batin di dalam dirinya, Ignasius menemukan bahwa ternyata ia memiliki suatu keinginan. Keinginan agar pada saat Ekaristi itu ia mendapat tanda dan konfirmasi dari Tuhan. Konfirmasi atas kegelisahan yang saat itu melandanya. Kegelisahan yang dialami ini berkaitan dengan Konstitusi yang sedang digulatinya terutama dalam bagian penghayatan kemiskinan. Berkat kesadaran ini, Ignasius merasa tidaklah perlu untuk merumuskan apa-apa lagi berkaitan dengan penghayatan kemiskinan Serikat Yesus.

Ignasius sangat jeli memperhatikan pengalaman batinnya. Ketika godaan datang, seperti pikiran untuk menunda keputusan berkaitan dengan penghayatan kemiskinan, dia dengan tegas menolak pikiran itu dan mengidentifikasinya sebagai musuh.[5] Ketika godaan lain muncul seperti keinginan mempersembahkan Ekaristi sebagai ungkapan syukur atas konfirmasinya, dengan tegas pula ia menolak pikiran itu. Akhirnya pada saat makan siang, Ignasius merasakan keresahan yang samar-samar berkaitan dengan keputusannya. Akan tetapi, ia menolak pikiran itu karena bukan berasal dari Tuhan. Pergulatan rohani Ignasius berakhir dengan damai dan jelas.

Dari catatan rohani Ignasius ini, setidaknya kita dapat belajar bagaimana Ignasius dengan sangat jeli mampu membedakan mana konsolasi dan desolasi di tengah kesibukannya: dalam doa, mempersiapkan Ekaristi, waktu Ekaristi, saat bekerja, dan saat makan. Ketika dia menyadari bahwa kehendaknya tidak sesuai dengan kehendak Tuhan, Ignasius segera mencari penyesuaian dari kehendaknya dan kehendak Tuhan. Kejelian Ignasius dalam mencermati kembali pengalaman batin dirinya membawanya pada kebebasan rohani: bebas dari tipuan dan bebas untuk mengatakan ya untuk hari ini, dengan segala energi dalam dirinya untuk Tuhan yang dicintainya.

Apa yang Kita Review ?

Hiburan rohani dan kesepian rohani (saat ketika kita merasakan sukacita di dalam Tuhan serta masa-masa sulit dalam hidup iman kita) adalah pengalaman biasa yang pernah kita alami. Apakah kita menyadari ketika kita mengalami pengalaman tersebut? Bagaimanakah reaksi kita atas pengalaman itu? Pikiran/ perasaan yang muncul di dalam diri kita, baik yang berasal dari Tuhan dan berasal dari musuh jika tidak direfleksikan akan membawa kita pada kekeringan rohani.  Seperti Ignasius, kita mempunyai harapan untuk melaksanakan kehendak Tuhan dalam hidup kita. Namun, terkadang apa yang terjadi tidak sesuai dengan harapan kita. Apakah mungkin bagi kita untuk menjadi seperti Ignasius yaitu berusaha untuk menyelaraskan kehendak pribadi  dengan kehendak Tuhan?

Hari-hari kita selalu diisi dengan berbagai pengalaman batin berupa cinta, harapan, kegelisahan, kegembiraan, ketakutan, resistensi, hasrat, dan semua yang mengalir di dalam pikiran kita. Pengalaman batiniah semacam itu terjadi dalam aktivitas kita. Ketika berinteraksi dengan sesama, sharing, makan, berdoa, bekerja, liburan dsb. Dalam doa Examen kita bertanya: Di manakah Tuhan hadir dalam pengalaman hari ini, Tuhan memanggilku untuk berbuat apa hari ini? Bagaimana jawabanku atas panggilan-Nya itu? Apakah ada kecenderungan dan pikiran pada hari ini yang tidak sesuai dengan kehendak Tuhan? Jika ada, apakah aku dapat melihat dan menolaknya?

Pengalaman Ignasius merupakan pengalamannya dengan segala dinamikanya, dan perlu diingat bahwasannya Ignasius adalah seseorang yang sudah sangat matang dalam hidup rohaninya. Tentu saja kita pun mempunyai dinamika hidup harian yang berbeda-beda. Untuk dapat lebih memahami langkah ketiga ini akan diberikan contoh kisah berikut ini;

Kisah Don

Don adalah seorang mahasiswa tingkat empat di sebuah universitas. Dalam beberapa bulan terakhir ini dia mulai tertarik dengan hidup iman rohaninya. Selama 3 tahun hidup di universitas dia tidak pernah mengikuti Ekaristi Mingguan dan sama sekali tidak tertarik dengan hidup rohaninya. Pada suatu kali salah satu teman mengundangnya untuk bergabung dalam sharing rohani kelompok di kapel universitas. Don pun akhirnya menerima undangan tersebut. Don merasa senang dengan kelompok barunya ini, dan perasaan ini membangunkan kembali gairahnya untuk mengikuti Ekaristi Mingguan. Karena memang sebelumnya Don mengalami suatu kekosongan dalam hidupnya.

Pada suatu akhir pekan, Don mengikuti retret kaum muda.  Semenjak retret ini timbul suatu kerinduan dalam hati Don untuk membangun relasi yang intim dengan Tuhan. Don ingin hidup damai dan penuh makna, seperti yang dia lihat dalam diri retretan lain. Don kemudian berbicara kepada pembimbing rohaninya dan menceritakan segala niat yang muncul di dalam hatinya. Dia bercerita supaya dapat dekat dengan Yesus, dia sadar bahwa dia harus berubah. Kemudian Don juga menceritakan kepada pembimbing rohaninya kebiasaannya jalan-jalan di sore hari. Don merasa saat jalan-jalan sore, sambil memandangi suasana alam sekitar merupakan saat di mana dia bisa merasa rileks dan enjoy. Kemudian pembimbing rohaninya menyarankan Don supaya ketika jalan-jalan sore ia membangun disposisi berjalan bersama Tuhan, dan bersama dengan Tuhan melihat (review) kembali pengalaman hidupnya selama satu hari ini. Don mengikuti saran ini dan memulai latihan review sambil berjalan-jalan sore.

Pada suatu sore, Don melakukan apa yang disarankan oleh pembimbing rohaninya itu. Dia menyadari ada sesuatu yang tidak beres dalam dirinya. Dia meminta kepada Tuhan untuk membantunya mencari mengapa dia merasa tidak nyaman hari ini. Don kemudian menemukan penyebab ketidaknyamanannya ini: Pada saat setelah makan siang, Ann yang merupakan teman sharing Don, menghampiri dan memarahinya secara tiba-tiba. Karena tidak siap, Don pun merespon Ann dengan marah juga. Setelah itu Ann begitu saja pergi meninggalkan Don. Semenjak saat itu Don tidak tenang.

Suatu saat, ketika jalan-jalan sore, Don memohon  pertolongan kepada Tuhan agar dia mampu menemukan akar dari permasalahannya ini. Berkat me-review bersama Tuhan, Don pun akhirnya ingat bahwa saat pesta kemarin, ia menceritakan isi sharing yang diceritakan Ann (pada saat sharing kelompok) kepada teman-teman kelasnya. Karena pengaruh alkohol Don tidak sadar melakukan hal itu. Sampai pada siang hari ini Ann datang memarahinya, Don belum menyadari kesalahannya. Berkat review ini, sekarang Don merasakan betapa malunya Ann waktu itu dan betapa Don sekarang merasa sudah mengkhianati Ann.

Sambil meneruskan jalan-jalan sorenya, Don menyadari dalam dirinya timbul rasa bersalah karena telah mempermalukan Ann. Ada dua niat yang timbul di dalam dirinya. Pertama, untuk meminta maaf kepada Ann. Kedua, keinginan untuk menimbang kembali kebiasaan minum alkohol. Pada saat menyelesaikan jalan-jalan sorenya Don berterima kasih kepada Tuhan atas pengertian yang mendalam yang telah ia dapatkan dalam review sore hari ini.

Kisah Don, menjadi contoh untuk langkah ketiga Examen yang konkret. Don mampu melakukan Examen dengan keberanian dan ketulusan. Pengertian mendalam yang dialami Don ini membawanya pada pertumbuhan rohani dalam hidupnya.

Menerapkan Langkah Ketiga

Ada berbagai pilihan waktu dan tempat untuk melakukan review. Ada yang bisa melakukannya pada waktu tenang sambil menikmati kopi, di KRL, di Gereja, di Trans Jakarta, di kamar tidur, di mobil saat mengalami kemacetan dsb. Mungkin kita bisa meniru Don yang melakukannya dengan memanfaatkan kebiasaan jalan-jalan sorenya.

Dalam langkah ketiga ini pula kita diajak untuk melihat kembali (review) pengalaman dari waktu ke waktu, jam ke jam: ketika kita bekerja, mempersiapkan makanan untuk anak-anak, ketika sekolah, dsb. Dalam review bersama dengan Tuhan, kita mencari rahmat hiburan rohani yang telah Tuhan berikan selama satu hari ini, mengingat dan mencatat di manakah saat Tuhan hadir dalam aktivitas-aktivitas harian kita. Atau sebaliknya seperti halnya yang dialami oleh Don ketika mengalami kegelisahan/kesepian rohani. Dengan review secara seksama pikiran-pikiran, perkataan-perkataan dan perbuatan-perbuatan, kita melihat adanya suatu undangan dari Tuhan untuk berkembang dalam penghayatan moral (pengalaman Don bersama dengan Ann, dan kebiasaan minum alkohol).

Penutup: Carpe Diem

Review merupakan langkah ketiga dalam Examen yang mengajak kita untuk melihat kembali, memahami, dan menanggapi gerak-gerak roh[6] yang muncul di dalam pikiran, perasaan, kata-kata dan perbuatan di dalam hidup harian kita. Supaya segala pengalaman kita tidak berlalu begitu saja, maka review adalah langkah sederhana dalam Examen yang memberikan begitu banyak manfaat rohani. Review adalah bagian dari Examen yang mampu membantu kita menemukan rahmat Tuhan yang awalnya tidak disadari untuk selanjutnya disadari, dicecap, dan membawa hidup kita ke arah yang lebih baik.

Review merupakan langkah sederhana dalam Examen yang membantu kita di tengah segala hiruk pikuk Jakarta, di tengah waktu yang berjalan begitu cepat, di tengah segala kesibukan bekerja, menyadari kehadiran Allah yang membuat hidup kita semakin bermakna dan layak untuk dihidupi. Oleh karena itu, review menolong kita untuk dapat mencecap, menikmati, dan meneguk pengalaman hari ini dengan gembira dan penuh makna. Kita bisa berkata Carpe Diem! (nikmatilah hari ini) dan bersyukur karena pada hari ini kita telah menikmati hari yang kaya makna bersama Tuhan. Dari sini dapatlah disimpulkan bahwa Examen merupakan suatu sarana bagaimana kita menikmati hari ini.

 

DAFTAR PUSTAKA

de Dalmases, Candido. Ignasius Loyola Pendiri Serikat Yesus. Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma, 2009.

Gallagher, Timothy M. The Examen Prayer: Ignatian Wisdom for Our Lives Today. New York: The Crossroad Publishing Company, 2006.

Ignasius Loyola. Latihan Rohani. Terjemahan oleh J. Darminta, SJ. Yogyakarta: Kanisius, 1993

CATATAN KAKI

[1]Timothy M. Gallagher, The Examen of Prayer: Ignatian Wisdom for Our Lives Today, New York: The Crossroad Publishing Company, 2006, hlm 75.

[2] Latihan Rohani 43

[3] Latihan Rohani 318

[4] Latihan Rohani 319

[5]Timothy M. Gallagher, The Examen of Prayer: Ignatian Wisdom for Our Lives Today, New York: The Crossroad Publishing Company, 2006, hlm 77.

[6]Gerak Roh : gerak batin, gerak pikiran, perasaan dan kehendak