Jadi Sahabat Yesus, Siapa Takut? : Tahbisan Imam Serikat Yesus 2018

Sahabat, pada hari ini Rabu 25 Juli 2018 Serikat Yesus Indonesia sangat berbahagia karena tahbisan imamat yang diterima lima saudara kami. Ekaristi tahbisan dipimpin oleh Mgr R. Rubiyatmoko, uskup keuskupan agung Semarang, bersama P Sunu Hardiyanta, SJ dan P A. Sugijopranoto SJ.

 

Para imam baru berikut penugasan mereka adalah:

Rama  A. Winaryanta, S.J. (Rama Win) akan bertugas di Paroki St Antonius Padua, Kotabaru, Yogyakarta

Rama  B. Melkyor Pando, S.J. (Rama Melky) akan bertugas di Paroki St. Theresia, Bongsari, Semarang

Rama  H. Angga Indraswara, S.J. (Rama Angga) akan bertugas di Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta

Rama  I. Eko Anggun Sugiyono, S.J. (Rama Anggun) akan belajar bioetika di Universitas Gajah Mada, Yogyakarta

Rama S. Arief Herdian Putra Tama, S.J. (Rama Tama) akan menjadi misionaris di Kamboja.

 

Berikut ini refleksi para imam baru mengenai  batas tema tahbisan mereka:

 

“MENJADI SAHABAT DALAM PERUTUSAN KRISTUS”

Rabu, 25 Juli 2018 menjadi momen yang bersejarah bagi kami berlima: Angga, Anggun, Melky, Tama, dan Win. Allah menguduskan kami sebagai imam-imam Serikat Yesus. Ia telah menyucikan kami melalui sakramen Baptis. Kami menjadi anggota Gereja Katolik dari empat pintu keuskupan yang berbeda. Satu dari Keuskupan Agung Jakarta, satu dari Keuskupan Agung Makassar, satu dari Keuskupan Malang, dua yang lain dari Keuskupan Agung Semarang.

Meski berasal dari wilayah yang terentang dari barat hingga timur negeri ini, Allah menyatukan kami sebagai Jesuit, orang-orang yang mengabdikan dirinya bagi Gereja melalui Serikat Yesus. Roh Allah telah menggerakkan hati dan kehendak kami untuk ikut berjuang di bawah Panji Kristus sebagai Jesuit.

Sebagai orang yang dipilih dan dikuduskan menjadi imam lewat rahmat tahbisan yang diberikan melalui tangan Mgr. Robertus Rubiyatmoko, kami pun menyadari diri sebagai pendosa. Meski demikian, cinta Tuhan jauh lebih besar. Karena merasa yakin akan cinta-Nya yang tiada berbatas, kami melangkah maju untuk menjadi imam-imam Gereja. Allah telah menebus segala dosa kami. Ia telah mengulurkan kedua tangan-Nya untuk menyucikan kami. Melalui sakramen tahbisan, Allah membuat kami kudus dan tak bercacat sebagai pelayan-pelayan perutusan Kristus.

Justru karena kelemahan itulah, kuasa Allah tampak nyata dalam diri kami. Tanpa rahmat dan cinta-Nya, kami hanyalah bejana yang rapuh. lnilah pentingnya kerendahan hati, sebuah sikap yang perlu terusmenerus kami mohon dalam menjalankan karya kerasulan yang bernaung pada Serikat yang hina-dina ini.

Dalam perjalanan hidup hingga usia tiga dasawarsa ini, kami sungguh mengalami cinta Tuhan yang melimpah bagi kami masing-masing. Kami memiliki orang tua yang melahirkan dan merawat. Dari merekalah, kami belajar tentang anugerah kehidupan yang dilimpahkan oleh Allah. Kami mengalami pertumbuhan sebagai manusia dengan bekal cinta orang tua, kakak dan adik, dalam setiap dinamika hidup keluarga. Cinta itu kami alami, mulai dari bayi yang dalam segala hal bergantung, hingga hari ini sebagai pribadi dewasa yang mampu mengambil keputusan akan jalan hidupnya sebagai imam Jesuit yang terpelajar dan miskin (learned and poor priest).

Perasaan bahagia karena cinta itu juga kami alami lewat setlap dinamika persahabatan dengan nostri Jesuit. Dari antara kami, ada yang telah menjalani peziarahannya sebagai Jesuit sejak empat belas tahun lalu. Ada pula yang telah sembilan tahun menjadi Jesuit. Beberapa yang lain telah sebelas tahun menjalani panggilan men-jesuit. Banyak Jesuit telah menemani formasi kami mulai dari tahap Novisiat di Girisonta, Filsafat di jakarta, Tahun Orientasi Kerasulan di Yayasan Kanisius Semarang, SMA Kolese de Britto Yogyakarta, SMA Kolese Gonzaga, Seminari Menengah Mertoyudan, Paroki St. Yusup Baturetno, Xavier School Micronesia hingga Teologi di Kolese Santo Ignatius Yogyakarta. Aneka perjumpaan terjadi. Dari merekalah, kami belajar untuk tetap teguh setia mewartakan dan menunjukkan bahwa terang Allah senantiasa bersinar di setiap sisi kehidupan manusia.

Kami juga mengalami kasih dan perhatian dari banyak orang yang kami jumpai dalam hidup dan kerasulan yang telah kami jalani. Umat di paroki, para guru, karyawan dan murid di Kolese, Sekolah, Yayasan dan Seminari telah mendidik kami sebagai jesuit muda, serta para sahabat yang dengan kehadirannya telah memperkaya hidup panggilan kami.

Dengan berbagai pengalaman dicintai dan ditemani itulah, kami merasakan kasih Allah yang tak putus-putusnya. Benarlah bahwa Bapa dan Putra telah mengasihi kami. Atas dasar pengalaman kasih itulah, kami ingin melaksanakan perintah Yesus yakni berbuat kasih. Kami ingin untuk terus mampu menjadi sahabat bagi dan bersama yang lain seperti Yesus, Sang Sahabat sejati.

 

Sia-salah kami menyebut diri sebagai “Sahabat Yesus” jika hidup kami tidak menjadi tanda kasih bagi sesama. Dalam kobaran semangat itulah, kami ingin agar setiap manusia dapat merasakan cahaya kehidupan yang asalnya dari Dia, Sang Terang Sejati. Kami bukanlah terang itu. Akan tetapi, kami telah mengalami kasih dari Sang Terang dan ingin memberikan kesaksian tentang Terang itu.

Ke manapun kami diutus sebagai Imam jesuit, kami berkehendak untuk menyalakan api harapan di dalam diri setiap orang yang kami jumpai agar hidupnya tidak lagi bermuram durja dalam kegelapan dosa. Bagi kami, imamat adalah sarana untuk menjumpakan Allah dengan manusia dan manusia dengan Allah.